Kamis, 29 September 2016

TIPUAN DUNIA


66.Renungan Siang !!!
*Mengenal Dunia*

ﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻌِﺐٌ ﻭَﻟَﻬْﻮٌ ﻭَﺯِﻳﻨَﺔٌ ﻭَﺗَﻔَﺎﺧُﺮٌ
ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺗَﻜَﺎﺛُﺮٌ ﻓِﻲ ﺍْﻷَﻣْﻮَﺍﻝِ ﻭَﺍْﻷَﻭْﻻَﺩِ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﻏَﻴْﺚٍ
ﺃَﻋْﺠَﺐَ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻧَﺒَﺎﺗُﻪُ ﺛُﻢَّ ﻳَﻬِﻴْﺞُ ﻓَﺘَﺮَﺍﻩُ ﻣُﺼْﻔَﺮًّﺍ ﺛُﻢَّ ﻳَﻜُﻮْﻥُ
ﺣُﻄَﺎﻣًﺎ ﻭَﻓِﻲ ﺍْﻵﺧِﺮَﺓِ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺷَﺪِﻳْﺪٌ ﻭَﻣَﻐْﻔِﺮَﺓٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺭِﺿْﻮَﺍﻥٌ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻻَّ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭْﺭِ
Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan
dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di
antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi
kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas
menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang menipu .” (Al- Hadid: 20)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di
rahimahullahu dalam Tafsir-nya, “Allah Subhanahu
wa Ta’ala mengabarkan tentang hakikat dunia dan
apa yang ada di atasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
terangkan akhir kesudahannya dan kesudahan
penduduknya. Dunia adalah permainan dan sesuatu
yang melalaikan. Mempermainkan tubuh dan
melalaikan hati. Bukti akan hal ini didapatkan dan
terjadi pada anak-anak dunia [1]. Engkau dapati
mereka menghabiskan waktu-waktu dalam umur
mereka dengan sesuatu yang melalaikan hati dan
melengahkan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Adapun janji (pahala dan surga, –pent.)
dan ancaman (adzab dan neraka, –pent.) yang ada
di hadapan, engkau lihat mereka telah menjadikan
agama mereka sebagai permainan dan gurauan
belaka. Berbeda halnya dengan orang yang sadar
dan orang-orang yang beramal untuk akhirat. Hati
mereka penuh disemarakkan dengan dzikrullah, mengenali dan mencintai-Nya. Mereka sibukkan waktu-waktu mereka dengan melakukan amalan yang
dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah
daripada membuangnya untuk sesuatu yang
manfaatnya sedikit.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu
‘anhuma, sambil memegang pundak iparnya ini:
ﻛُﻦْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻛَﺄَﻧَّﻚَ ﻏَﺮِﻳْﺐٌ ﺃَﻭْ ﻋَﺎﺑِﺮُ ﺳَﺒِﻴْﻞٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing
atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat
(musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma pun
memegang teguh wasiat Nabinya baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dalam ucapannya beliau berkata setelah menyampaikan hadits Rasul Shallallahu
‘alaihi wa sallam di atas, “ Bila engkau berada di
sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya
pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari,
janganlah menanti sore. Gunakanlah waktu sehatmu
(untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu.
Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih)
sebelum kematian menjemputmu .”
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim melaporkan dari
Anas bin Malik – radhiyallahu ‘anhu- , bahwasannya
Rasululullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah
mengatakan,
ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﻟَﺎ ﻋَﻴْﺶَ ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻴْﺶَ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ
“Ya Allah, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan
akhirat.”

*Mensyukuri Nikmat Dunia*
ﻭَﺍﺑْﺘَﻎِ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺁَﺗَﺎﻙَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟﺪَّﺍﺭَ ﺍﻟْﺂَﺧِﺮَﺓَ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻨْﺲَ
ﻧَﺼِﻴﺒَﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ
“Dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah
kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77).
Dikatakan oleh Qurthubi dalam Al Jaami’ li
Ahkamil Qur’an (7: 199), “Hendaklah
seseorang menggunakan nikmat dunia yang
Allah berikan untuk menggapai kehidupan
akhirat yaitu surga. Karena seorang mukmin
hendaklah memanfaatkan dunianya untuk
hal yang bermanfaat bagi akhiratnya. Jadi ia
bukan mencari dunia dalam rangka
sombong dan angkuh.”
Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat
tersebut,
ﺍﺳﺘﻌﻤﻞ ﻣﺎ ﻭﻫﺒﻚ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺎﻝ
ﺍﻟﺠﺰﻳﻞ ﻭﺍﻟﻨﻌﻤﺔ ﺍﻟﻄﺎﺋﻠﺔ، ﻓﻲ ﻃﺎﻋﺔ ﺭﺑﻚ
ﻭﺍﻟﺘﻘﺮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﺄﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﻘﺮﺑﺎﺕ، ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺤﺼﻞ
ﻟﻚ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﺜﻮﺍﺏ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﺍﺭ ﺍﻵﺧﺮﺓ
“Gunakanlah yang telah Allah anugerahkan
untukmu dari harta dan nikmat yang besar
untuk taat pada Rabbmu dan membuat
dirimu semakin dekat pada Allah dengan
berbagai macam ketaatan. Dengan ini
semua, engkau dapat menggapai pahala di
kehidupan akhirat.” ( Tafsir Al Qur’an Al
‘Azhim, 6: 37).
ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻨْﺲَ ﻧَﺼِﻴﺒَﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ

“Jangan melupakan nasibmu di dunia ”.
Imam Ibnu Katsir -semoga Allah merahmati
beliau- menyebutkan dalam kitab tafsirnya,
} ﻭَﻻ ﺗَﻨْﺲَ ﻧَﺼِﻴﺒَﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ { ﺃﻱ : ﻣﻤﺎ ﺃﺑﺎﺡ
ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺂﻛﻞ ﻭﺍﻟﻤﺸﺎﺭﺏ ﻭﺍﻟﻤﻼﺑﺲ
ﻭﺍﻟﻤﺴﺎﻛﻦ ﻭﺍﻟﻤﻨﺎﻛﺢ، ﻓﺈﻥ ﻟﺮﺑﻚ ﻋﻠﻴﻚ ﺣﻘًّﺎ،
ﻭﻟﻨﻔﺴﻚ ﻋﻠﻴﻚ ﺣﻘًّﺎ، ﻭﻷﻫﻠﻚ ﻋﻠﻴﻚ ﺣﻘًّﺎ،
ﻭﻟﺰﻭﺭﻙ ﻋﻠﻴﻚ ﺣﻘﺎ، ﻓﺂﺕ ﻛﻞ ﺫﻱ ﺣﻖ ﺣﻘﻪ .
“Janganlah engkau melupakan nasibmu dari
kehidupan dunia yaitu dari yang Allah
bolehkan berupa makanan, minuman,
pakaian, tempat tinggal dan menikah.
Rabbmu masih memiliki hak darimu. Dirimu
juga memiliki hak. Keluargamu juga memiliki
hak. Istrimu pun memiliki hak. Maka
tunaikanlah hak-hak setiap yang memiliki
hak.” ( Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 37).
ﻭَﺃَﺣْﺴِﻦْ ﻛَﻤَﺎ ﺃَﺣْﺴَﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺒْﻎِ ﺍﻟْﻔَﺴَﺎﺩَ
ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﻔْﺴِﺪِﻳﻦَ
“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik,
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan .” (QS. Al Qashshash: 77).
Ayat ini memerintahkan untuk berbuat baik
pada makhluk Allah sebagaimana Dia telah
memberi kebaikan untuk kita. Janganlah
tujuan hidup kita di muka bumi untuk
berbuat kerusakan dan menyakiti makhluk
lain. Sesungguhnya Allah benar-benar tidak
menyukai orang yang berbuat kerusakan.
Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu
Katsir, 6: 37.

*Fitnah Dunia*
Hendaklah seorang Muslim benar-benar waspada
terhadap fitnah dunia. Dunia ini indah dan manis,
maka jangan sekali-kali seorang Muslim tertipu
dengannya, karena kehidupan dunia adalah
kehidupan yang menipu. Allâh Azza wa Jalla
berfirman :
ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ
… Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang
memperdaya. [Ali ‘Imrân/3:185].
Allâh Azza wa Jalla juga berfirman :
ﺇِﻥَّ ﻭَﻋْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖٌّ ۖ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻐُﺮَّﻧَّﻜُﻢُ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻐُﺮَّﻧَّﻜُﻢْ
ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﻐَﺮُﻭﺭُ
…Sungguh, janji Allâh pasti benar, maka
janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh
kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu
terpedaya oleh penipu dalam (menaati) Allâh.
[Luqmân/31:33].
Ada kabar mutawatir dari Ulama Salaf
mengatakan, bahwa cinta dunia merupakan induk
dari segala kesalahan (dosa) dan merusak agama.
Hal ini ditinjau dari beberapa segi:
Pertama : Mencintai dunia berarti mengagungkan
dunia, padahal ia sangat hina di mata Allâh.
Termasuk dosa yang paling besar adalah
mengagungkan sesuatu yang direndahkan oleh
Allâh Azza wa Jalla.
Kedua : Allâh mengutuk, memurkai, dan
membenci dunia, kecuali yang ditujukan kepada-
Nya. Karena itu, siapa yang mencintai apa yang
dikutuk, dimurkai, dan dibenci Allâh maka ia akan
berhadapan dengan kutukan, murka, dan
kebencian-Nya.
Ketiga : Mencintai dunia berarti menjadikan dunia
sebagai tujuan dan menjadikan amal dan ciptaan Allâh yang seharusnya menjadi sarana menuju Allâh Azza wa Jalla dan negeri akhirat berubah
arah menjadi mengejar kepentingan dunia.
Di sini ada dua persoalan:
(1) menjadikan wasilah
(sarana) sebagai tujuan,
(2) menjadikan amal
akhirat sebagai alat untuk menggapai dunia.
Ini merupakan keburukan dari semua sisi. Juga
berarti membalik sesuatu pada posisi yang benar-
benar terbalik. Ini sesuai sekali dengan firman
Allâh Azza wa Jalla :
ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺯِﻳﻨَﺘَﻬَﺎ ﻧُﻮَﻑِّ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻬُﻢْ
ﻓِﻴﻬَﺎ ﻭَﻫُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻟَﺎ ﻳُﺒْﺨَﺴُﻮﻥَ﴿١٥﴾ﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻬُﻢْ
ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ۖ ﻭَﺣَﺒِﻂَ ﻣَﺎ ﺻَﻨَﻌُﻮﺍ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻭَﺑَﺎﻃِﻞٌ ﻣَﺎ
ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan
perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia
dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak
akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak
memperoleh balasan di akhirat kecuali neraka.
Dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah
mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa
yang telah mereka kerjakan.” [Hûd/11: 15-16]
Keempat : Mencintai dunia membuat manusia
tidak sempat melakukan sesuatu yang bermanfaat
baginya di akhirat, akibat dari kesibukannya
dengan dunia dan kesukaannya.
Kelima : Cinta dunia menjadikan dunia sebagai
cita-cita terbesar manusia. Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻫَﻤَّﻪُ ، ﻓَﺮَّﻕَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮَﻩُ ، ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﻓَﻘْﺮَﻩُ
ﺑَﻴْﻦَ ﻋَﻴْﻨَﻴْﻪِ ، ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺗِﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻟَـﻪُ ، ﻭَﻣَﻦْ
ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓُ ﻧِﻴَّـﺘَﻪُ ، ﺟَﻤَﻊَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﺃَﻣْﺮَﻩُ ، ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﻏِﻨَﺎﻩُ ﻓِـﻲْ
ﻗَﻠْﺒِﻪِ ، ﻭَﺃَﺗَـﺘْﻪُ ﺍﻟﺪُّﻧْـﻴَﺎ ﻭَﻫِـﻲَ ﺭَﺍﻏِﻤَـﺔٌ .
Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya,
menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya,
dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah
ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat
(tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh
akan mengumpulkan urusannya, menjadikan
kekayaan di hatinya, dan dunia akan
mendatanginya dalam keadaan hina.

*Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata:*
ﻣُﺤِﺐُّ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻚُّ ﻣِﻦْ ﺛَﻠَﺎﺙٍ : ﻫَﻢٌّ ﻟَﺎﺯِﻡٌ ، ﻭَﺗَﻌَﺐٌ ﺩَﺍﺋِﻢٌ ،
ﻭَﺣَﺴْﺮَﺓٌ ﻟَﺎ ﺗَﻨْﻘَﻀِﻰ
Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal:
(1) kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus,
(2) kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan, dan
(3) penyesalan yang tidak pernah berhenti.
*Semoga kita bisa menjadikan dunia untuk bekal ladang beramal dan berjihad di jalan Allah swt... Aamiin.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman