Rabu, 07 September 2016

TAFSIR YASIN 41-50





TAFSIR YAASIIN AYAT 41-50

وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (٤١) وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (٤٢) وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلا صَرِيخَ لَهُمْ وَلا هُمْ يُنْقَذُونَ (٤٣) إِلا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ (٤٤) وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (٤٥)وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ (٤٦)وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلا فِي ضَلالٍ مُبِينٍ           (٤٧)
Terjemah Surat Yasin Ayat 41-47
41. Dan suatu tanda[20] (kekuasaan Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam kapal yang penuh muatan[21].
42. Dan Kami ciptakan juga untuk mereka (angkutan lain) seperti apa yang mereka kendarai[22].
43. Dan jika Kami menghendaki, Kami tenggelamkan mereka[23], maka tidak ada penolong bagi mereka dan tidak pula mereka diselamatkan.
44. Melainkan (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai waktu tertentu[24].
45. Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu (di dunia) dan azab yang akan datang (akhirat) agar kamu mendapat rahmat.” (Niscaya mereka berpaling).
46. Dan setiap kali suatu tanda dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhan[25] datang kepada mereka, mereka selalu berpaling darinya.
47. Dan apabila dikatakakan kepada mereka, "Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,” orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman[26], "Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki Dia akan memberinya makan, kamu[27] benar-benar dalam kesesatan yang nyata[28].”
Keterangan
[21] Kata “dzurriyyah”dalam ayat tersebut juga bisa diartikan dengan nenek moyang mereka, yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang mengangkut nenek moyang mereka ke dalam kapal Nabi Nuh ‘alaihis salam yang penuh muatan, dan nikmat kepada nenek moyang merupakan nikmat bagi keturunannya.
[22] Yakni seperti kapal Nabi Nuh, yaitu yang mereka buat dengan tangan mereka berupa kapal yang besar atau yang kecil serta alat pengangkutan umum lainnya dengan pengajaran dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Dia mengajarkan mereka sebab-sebab tidak tenggelam.
[23] Meskipun mereka berada di kapal.
[24] Agar mereka kembali atau mengejar hal yang telah luput dari mereka.
[25] Disandarkannya ayat (tanda) kepada Tuhan mereka menunjukkan sempurnanya ayat itu dan jelasnya, karena tidak ada sesuatu yang lebih jelas dari ayat Allah dan lebih agung penjelasannya, dan bahwa termasuk tarbiyah (pengurusan) dari Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia menyampaikan kepada mereka ayat-ayat-Nya, di mana dengan ayat-ayat mereka dapat menjadikannya pedoman terhadap hal yang bermanfaat bagi mereka baik pada agama maupun dunia mereka.
[26] Sambil menentang yang hak dan mengolok-oloknya serta berhujjah dengan kehendak Allah.
[27] Wahai orang-orang mukmin.
[28] Karena memerintahkan demikian.
Hal ini menunjukkan kebodohan mereka atau pura-pura bodoh, karena kehendak Allah Subhaanahu wa Ta'aala bukanlah hujjah bagi pelaku maksiat selama-lamanya. Meskipun yang Allah kehendaki akan terjadi, dan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi, tetapi Dia telah memberikan kemampuan dan kekuatan kepada hamba, di mana dengan kemampuan itu mereka dapat mengerjakan perintah dan menjauhi larangan. Oleh karena itu, jika mereka meninggalkan hal yang diperintahkan, maka yang demikian atas dasar pilihan mereka sendiri, bukan karena dipaksa.
Penjelasan
Surah Yaa siin 41
وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (41)
Pada ayat ini Allah SWT mengemukakan kapal yang berlayar di tengah lautan sebagai bukti kebesaran dan kekuasaan Nya.
Yang mengangkut manusia dan barang-barang keperluannya dari suatu negeri ke negeri yang lain. Ada negeri-negeri itu yang berdekatan letaknya dan ada pula yang berjauhan. Penggunaan alat-alat angkutan laut sebagai salah satu perhubungan yang dimanfaatkan manusia untuk bergerak dan mengangkut barang, telah dikenal sejak zaman dahulu kala, bahkan telah dikenal sejak zaman Nabi Nuh as. Orang yang mula-mula membuat kapal adalah Nabi Nuh as. Kapal itu dibuat atas perintah dan bimbingan Allah SWT. Ha ini diterangkan dalam firman Nya:

واصنع الفلك بأعيننا ووحينا
Artinya:
Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami. (Q.S. Hud: 37)
Allah SWT berfirman:

ألم تر أن الفلك تجري في البحر بنعمة الله ليريكم من ءاياته إن في ذلك لآيات لكل صبار شكور
Artinya:
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (Q.S. Luqman: 31)
Surah Yaa siin 42
وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (42)
Dalam ayat ini Allah SWT mengingatkan manusia kepada bukti kekuasaan-Nya yang lain, dalam hal memberikan bermacam-macam kendaraan yang lain dari perahu, bahtera dan kapal, yaitu hewan-hewan yang dapat dijadikan kendaraan atau alat angkutan misalnya: kuda, keledai, unta, gajah dan sebagainya.
Ini merupakan alat angkutan darat bagi manusia.
Pada ayat yang lain Allah berfirman:

والخيل والبغال والحمير لتركبوها وزينة ويخلق ما لا تعلمون
Artinya:
Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya). (Q.S. An Nahl: 8)
Surah Yaa siin 43
وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ (43)
Dalam ayat ini Allah SWT memperingatkan bahwa jika Allah menghendaki menenggelamkan kapal-kapal yang berlayar di lautan itu, niscaya ia akan tenggelam. Datangnya angin badai yang kencang yang menimbulkan gelombang-gelombang yang dahsyat, akan menyebabkan kapal-kapal itu binasa, para penumpangnya turut terkubur ke dasar laut, tak dapat di tolong lagi.
Peringatan ini berarti, bahwa manusia jangan merasa sombong dan takabur serta merasa bahwa dapatnya kendaraan yang berat itu berjalan di darat, di laut dan di udara adalah semata-mata karena kepintarannya, bukan karena karunia dari Allah SWT.

 Surah Yaa siin 44
إِلَّا رَحْمَةً مِنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ (44)
Akhirnya, pada ayat ini Allah menegaskan, bahwa karena kasih sayang--Nya yang amat besar terhadap hamba-hamba-Nya, dan agar mereka dapat bersenang-senang menikmati karunia-Nya, maka Allah tidak membiarkan kendaraan-kendaraan itu semua binasa, balk yang berjalan di darat, maupun yang berlayar di atas dan di dalam air, ataupun yang terbang di udara.
Apalagi jika orang-orang yang menggunakan kendaraan itu tidak takabur serta selalu cermat dan berhati-hati. Apabila sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, itu a adalah karena yang bersangkutan mempunyai rasa takabur, atau kurang cermat, lalai dan lain-lain sebagainya.
Surah Yaa siin 45
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (45)
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa andaikata terhadap orang-orang yang ingkar itu dianjurkan agar mereka menjaga diri terhadap siksaan Allah yang telah dekat kepada mereka, atau yang akan datang di kemudian hari, sehingga mereka mendapat rahmat Allah, mereka akan tetap berpaling, tidak mau mendengarkan anjuran itu.
Menjaga diri dari siksaan Allah ialah dengan cara bertakwa kepada Nya, yaitu melakukan apa-apa yang diperintahkan Nya menjauhi segala larangan Nya, dan mensyukuri setiap karunia Nya.
Akan tetapi orang-orang yang ingkar, hati mereka telah tertutup terhadap kebenaran. Mereka senantiasa berpaling dari nasihat-nasihat yang baik. Oleh sebab itu wajarlah mereka ditimpa kemurkaan siksaan Allah.
Surah Yaa siin 46
وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ (46)
Allah menegaskan dalam ayat ini, bahwa orang-orang yang ingkar itu senantiasa memalingkan muka dari setiap tanda-tanda yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah, karena hati mereka telah buta, walaupun mata mereka dapat melihat dengan terang semua tanda-tanda tersebut.

 Surah Yaa siin 47
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (47)
Dalam ayat ini Allah menyebutkan suatu segi lain dari keingkaran mereka, yaitu keengganan mereka menyumbangkan sebagian harta benda yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka. Apabila kepada mereka dianjurkan menafkahkan harta bagi kepentingan fakir miskin dan orang yang memerlukan bantuan, mereka menjawab kepada orang-orang beriman yang menganjurkan itu: "Apa perlunya kami memberi mereka itu makan, karena Allah dapat memberi makan bila Allah menghendaki". Di samping itu mereka mengatakan bahwa orang-orang mukmin yang suka menyumbangkan harta benda untuk membantu fakir miskin itu adalah orang-orang yang sesat.

Surah Yaa siin 48
وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (48)
Suatu segi lain dari sifat-sifat jelek kaum yang ingkar itu adalah ketidak percayaan mereka tentang akan adanya hari berbangkit sesudah mati. Apabila kepada mereka disampaikan bahwa mereka kelak akan dibangkitkan kembali sesudah mati, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka selama di dunia ini, maka mereka menjawab dengan sikap mengejek: "Bilakah janji itu akan terlaksana?".
Demikian keadaan kaum yang ingkar, hati mereka tidak lagi terbuka untuk menerima kebenaran. Penyesalan mereka barulah akan timbul setelah mereka menghadapi kenyataan tentang apa yang dulunya mereka ingkari.

Surah Yaa siin 49
مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ (49)
Pada ayat ini Allah memperingatkan kepada mereka, bahwa mereka tidak akan menunggu terlalu lama datangnya hari berbangkit itu.
Cukup dengan suatu teriakan saja, yaitu suara tiupan yang pertama dari sangkakala yang menandai hancurnya alam ini sementara mereka asyik-asyik bertengkar. Kemudian manusia semuanya akan dibangkitkan kembali menjadi hidup, dan dikumpulkan kepada Allah untuk diperhitungkan segala perbuatannya selagi di dunia kemudian mereka menerima balasan sesuai dengan perbuatan mereka, baik atau buruk.
Ayat lain yang sama maksudnya dengan ayat ini ialah, firman Allah SWT:

هل ينظرون إلا الساعة أن تأتيهم بغتة وهم لا يشعرون
Artinya:
Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan Hari Kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya. (Q.S. Az Zukhruf: 66)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Umar, ia berkata: ."Sangkakala benar-benar akan ditiup di saat keadaan manusia dalam kesibukan urusan mereka masing-masing di jalan-jalan, di pasar-pasar dan di tempat-tempat mereka, hingga dalam keadaan dua orang yang sedang tawar menawar pakaian, maka sebelum sampai pakaian itu ke tangan salah seorangnya, maka tiba-tiba ditiupkan sangkakala, hingga mereka mati bergelimpangan semuanya, dan inilah yang dimaksud dengan firman Allah dalam ayat ini.

Surah Yaa siin 50
فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَى أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ (50)
Demikian cepat datangnya peristiwa itu, dan amat tiba-tiba, sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan sedikitpun untuk berwasiat atau meninggalkan pesan kepada keluarganya, dan tidak pula dapat kembali berkumpul dengan mereka. Masing-masing menghadapi persoalannya sendiri, menunggu keputusan dari pengadilan Tuhan yang Maha Adil dan Maha Kuasa.

Pembelajaran dari Ayat tsb:
  1. Penjelasan tentang peristiwa dalam penyelamatan bangsa manusia dari tenggelam pada zaman Nabi Nuh a.s. Karena sesungguhnya jika Allah tidak membiarkan mereka hidup, maka pastilah bangsa manusia akan sirna dari muka bumi.
  2. Penjelasan tentang nikmat Allah Ta’ala dengan apa yang telah Allah berikan kepada mereka dengan mengajarkan pembuatan perahu yang mereka naiki di lautan.
  3. Penetapan sifat masyi’ah (kehendak) bagi Allah Ta’ala. Dia berfirman, “Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka.”
  4. Sesungguhnya apabila Allah Ta’ala menghendaki keburukan pada suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya. Allah Ta’ala berfirman, “Maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.”
  5. Penjelasan tentang nikmat Allah Ta’ala dengan cara menyelamatkan mereka dari tenggelam; dan sesungguhnya keselamatan mereka dari tenggelam bukanlah karena usaha dan perbuatan mereka, melainkan dari rahmat Allah Ta’ala.
  6. Sesungguhnya terkadang Allah Ta’ala menyelamatkan seseorang dari kebinasaan sampai datang ajalnya. Dia berfirman, “Untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.”
  7. Sesungguhnya wajib atas seseorang untuk memperhatikan kenikmatan-kenikmatan Allah Ta’ala dengan diselamatkan dari bencana-bencana atau dengan mendapatkan hal yang disukai.
Wallah a’lam bish shawab
Sumber:1.http://tafsiranmanusia.blogspot.co.id
2.http://www.tafsir.web.id
Jakarta 7/9/2016

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman