Kamis, 18 Agustus 2016

NAEIHAT KHALIFAH 1





NASEHAT KHALIFAH ABU BAKAR ASSHIDDIQ



عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم صعد أُحداً وأبو بكر وعمر وعثمان ، فرجف بهم فقال : اثبت أُحد ، فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان
“Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman. Gunung Uhud pun berguncang. Nabi lalu bersabda: ‘Diamlah Uhud, di atasmu ada Nabi, Ash Shiddiq (yaitu Abu Bakr) dan dua orang Syuhada’ (‘Umar dan ‘Utsman)

Testimoni Rasulullah Terhadap Abu Bakar
1.      Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling setia dalam persahabatannya denganku dan dalam hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh memilih seseorang menjadi khalil (kekasih/teman setia) selain Tuhanku, niscaya aku akan memilih Abu Bakar. Namun, Allah telah menjadikannya untukku sebagai saudara dalam Islam dan kasih sayang di bawah naungan-Nya. Tidak akan tersisa satu pintu pun di masjid ini, semua akan akan ditutup, kecuali pintu Abu Bakar.” (Imam as-Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa’)
2.      Beliau saw juga bersabda, “Tidak selayaknya seseorang dari suatu kaum menjadi imam padahal di tengah-tengah mereka ada Abu Bakar.” (H.R. Tirmidzi, dari Aisyah)
Di Antara Nasihat Abu Bakar Ash-Shiddiq
1.   Aku bukanlah orang terbaik di antara kalian. Oleh karena itu, jika aku melakukan hal yang baik maka bantulah. Sebaliknya, jika aku melakukan tindakan yang menyeleweng maka luruskanlah. Kebenaran itu adalah amanah, sedangkan kebohongan adalah pengkhianatan. (Dipetik dari khotbah Abu Bakar saat diangkat menjadi khalifah)
2.   Barangsiapa masuk kubur tanpa membawa bekal, seakan-akan dia mengarungi samudera tanpa bahtera. (Dalam Nasha’ih al-‘Ibad, An-Nawawi Al-Bantani)
3.   Jika engkau ingin melihat orang yang paling mulia di kalangan manusia maka lihatlah raja yang berpakaian miskin. Dialah orang yang baik sepak terjangnya, dia layak menjadi pemimpin dunia dan agama. (Dalam Tarikh Al-Khulafa’, Imam As-Suyuthi)
4.      Allah tidak mungkin menerima amal yang sunnah apabila yang fardhu belum ditunaikan. (Pesan Abu Bakar kepada Umar bin Khattab)
5.  Barangsiapa memenuhi panggilan iblis maka hilanglah agamanya. Barangsiapa memenuhi panggilan hawa nafsu amarah maka hilanglah akhiratnya. (Dalam Nasha’ih al-‘Ibad, An-Nawawi Al-Bantani)
Lima Kegelapan
Sahabat Rasul SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq, berkata, ”Kegelapan itu ada lima dan pelitanya pun ada lima. Jika tidak waspada, lima kegelapan itu akan menyesatkan dan memerosokkan kita ke dalam panasnya api neraka. Tetapi, barangsiapa teguh memegang lima pelita itu maka ia akan selamat di dunia dan akhirat.”
Kegelapan pertama adalah cinta dunia (hubb al-dunya). Rasulullah bersabda, ”Cinta dunia adalah biang segala kesalahan.” (HR Baihaqi). Manusia yang berorientasi duniawi, ia akan melegalkan segala cara untuk meraih keinginannya. Untuk memeranginya, Abu Bakar memberikan pelita berupa takwa. Dengan takwa, manusia lebih terarah secara positif menuju jalan Allah, yakni jalan kebenaran.
Kedua, berbuat dosa. Kegelapan ini akan tercerahkan oleh taubat nashuha (tobat yang sungguh-sungguh). Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya bila seorang hamba melakukan dosa satu kali, di dalam hatinya timbul satu titik noda. Apabila ia berhenti dari berbuat dosa dan memohon ampun serta bertobat, maka bersihlah hatinya. Jika ia kembali berbuat dosa, bertambah hitamlah titik nodanya itu sampai memenuhi hatinya.” (HR Ahmad). Inilah al-roon (penutup hati) sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Muthaffifin (83) ayat 14.
Ketiga, kegelapan kubur akan benderang dengan adanya siraj (lampu penerang) berupa bacaan laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah. Sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa membaca dengan ikhlas kalimat laa ilaaha illallah, ia akan masuk surga.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulallah, apa wujud keikhlasannya?” Beliau menjawab, ”Kalimat tersebut dapat mencegah dari segala sesuatu yang diharamkan Allah kepada kalian.”
Keempat, alam akhirat sangatlah gelap. Untuk meneranginya, manusia harus memperbanyak amal shaleh. QS Al-Bayyinah (98) ayat 7-8 menyebutkan, orang yang beramal shaleh adalah sebaik-baik makhluk, dan balasan bagi mereka adalah surga ‘Adn. Mereka kekal di dalamnya.
Kegelapan kelima adalah shirath (jembatan penyeberangan di atas neraka) dan yaqin adalah penerangnya. Yaitu, meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati segala hal yang gaib, termasuk kehidupan setelah mati (eskatologis).
Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq radliyallahu 'anh mengatakan, "tiada seorang hamba yang dianugerahi 10 hal, melainkan ia akan selamat dari berbagai bencana dan penyakit, dia sederajat dengan Muqarrabin serta akan mendapatkan derajat Muttaqin, yaitu ;
Keselamatan
1. Jujur yang terus-menerus disertai hati yang qana'ah,
2. Kesabaran yang sempurna disertai dengan rasa syukur yang terus-menerus,
3. Kefaqiran yang abadi yang diikuti dengan sifat zuhud,
4. Berfikir yang terus-menerus disertai dengan perut yang lapar,
5. Keprihatinan yang abadi disertai dengan rasa takut yang terus-menerus,
6. Kerja keras yang terus-menerus disertai dengan sikap rendah diri,
7. Keramahan yang terus-menerus disertai dengan kasih sayang,
8. Cinta yang terus-menerus disertai dengan rasa malu,
9. Ilmu yang bermanfaat diikuti dengan pengamalan yang terus-menerus,
10. Iman yang langgeng yang disertai dengan akal yang kuat."

Sumber:1.http://fafirruilaallah.blogspot.co.id
2.https://alawiy.wordpress.com
3.https://babarusyda.blogspot.co.id
Jakarta 19/8/2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman