Senin, 15 Agustus 2016

MAKNA KEMERDEKAAN




MERDEKA DALAM ISLAM



وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون
Artinya: "dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hokum yang telah diturunkan allah maka mereka adalah orang2 fasik " (Q.S almaidah ayat 46)
Muqaddimah
Hakikat kemerdekaan dalam agama Islam adalah kebebasan yang dimiliki seseorang untuk dapat melakukan sesuatu, namun tidak menjadi ancaman bagi orang lain.
Sementara jika membicarakan kemerdekaan dalam sebuah negara bermakna warga negara bisa melakukan apa-apa yang menjadi haknya yang masih diatur oleh negara.

"Misalnya, kebebasan ibadah dan mendapatkan pendidik
," kata Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta KH Zulfa Mustafa, akhir pekan lalu.

Kiai Zulfa mengatakan, seseorang dikatakan belum merdeka
ketika apa-apa yang menjadi haknya belum bisa dilaksanakan karena terbelenggu sebagai manusia dan warga negara.

"Misalnya, dia tidak bebas mencari nafkah untuk kehidupannya, misalnya kesetaraan hukum belum memenuhi rasa ketidak adilannya, Jika dia tidak bisa melakukan itu Berarti dia belum merdeka," katanya.
“Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah Thaghut, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)."
(QS An-Nahl [16]: 36)
Setiap 17 Agustus kita merayakan peringatan kemerdekaan Indonesia. Jika kemerdekaan dimaknai merdeka dari penjajah, bangsa ini memang telah merdeka. Namun, dalam perspektif Islam, benarkah bangsa ini merdeka? Lalu apa hakikat kemerdekaan menurut Islam? Ayat di atas menyinggung hal ini secara gamblang.
Kemerdekaan dalam Perspektif Islam
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُون
"dan barang siap yang tidak berhukum dengan hokum yang telah diturunkan allah maka mereka adalah orang2 kafir "(Q.S almaidah ayat 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya: "dan barang siap yang tidak berhukum dengan hokum yang telah diturunkan allah maka mereka adalah orang2 dzolim"(Q.S almaidah ayat 45)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون
Artinya: "dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hokum yang telah diturunkan allah maka mereka adalah orang2 fasik " (Q.S almaidah ayat 46)
Memahami misi Rasul di atas, jelaslah bahwa kemerdekaan dalam pandangan Islam bukan sekadar merdeka dari penjajah, melainkan ketika kita  menghamba kepada Allah swt semata.
Makna ini dipertegas Rib'i bin Amir ketika diutus oleh panglima perang kaum Muslimin, Sa'ad bin Abi Waqqash ra, dalam perang Qadisiyah. Di hadapan Rustum, panglima perang bangsa Persia, Rib'i bin Amir menyampaikan misi luhurnya, "Kami datang untuk memerdekakan manusia dari penyembahan dari sesama manusia menuju penyembahan kepada Rabb manusia, Allah swt. Untuk memerdekakan manusia dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan untuk memerdekakan manusia dari kezhaliman beragam agama menuju keadilan Islam" (Al Bidaayah wa'n Nihaayah, Ibnu Katsir IV/43).
Al-Qur'an mendokumentasikan bahwa dalam sejarah peradaban umat manusia telah terjadi penyembahan kepada selain Allah. Di antara mereka ada yang menyembah matahari dan bulan sebagaimana firman Allah dalam QS Fushshilat (41): 37. Atau yang menyembah malaikat seperti disinggung Allah dalam QS Ali Imran (3): 80.
Ada pula yang menyembah para nabi, misalnya Nabi Isa as, sebagaimana tercatat dalam QS Al-Maaidah (5): 116. Pun mereka yang menyembah hawa nafsu (QS Al Furqaan [25]: 43, dan QS Al Jaatsiyah [45]: 23.
Dalam bahasa ayat di awal tadi, manusia yang terjajah dan belum merdeka adalah mereka yang berada dalam kesesatan. Sedangkan manusia merdeka adalah yang mendapat hidayah (petunjuk) Allah, yang menghamba hanya kepada Allah semata.
Anatara Dunia dan Akhirat
Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Naazi’aat:37-39).
Dalam Tafsir Fathul Qadir Imam As-Syaukani mengatakan; orang yang melampaui batas adalah yang melampaui batas dalam kekufuran dan maksiat kepada Allah. Lebih mendahulukan dunia ketimbang akhirat. Sedangkan Imam Al-Baidhawi menyatakan, maksud ayat di atas adalah; adapun orang yang melampaui batas hingga dia kufur serta memilih kehidupan dunia dan tidak mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat dan membersihkan diri dari hawa nafsu maka tempat kembalinya adalah neraka.
dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur:55)
Ibnu Katsir mengatakan; ayat ini adalah janji dari Allah kepada Rasulullah saw. bahwa Dia akan menjadikan umatnya sebagai penguasa di muka bumi. Yakni umat Islam akan menjadi pemimpin atas bangsa-bangsa lain. Saat itulah seluruh negri  akan mendapatkan kesejahteraan dan semua manusia tunduk kepada mereka. Tidak ada lagi ketakutan seperti yang selama ini menerpa kaum Muslimin.
Semangat Kemerdekaan
Sarekat Islam adalah contoh nyata bagaimana Islam dapat menyatukan bangsa ini. Organisasi keagaman seperti Nadhlatul Ulama, diwakili para kiyai telah mendambakan kemerdekaan sebagai jalan untuk kemaslahatan umat Islam. KH Wahab Hasbullah ketika ditanya mengenai kemerdekaan, sehari sebelum NU berdiri tahun 1926, menjawab, ”Tentu, itu syarat nomor satu, umat Islam menuju ke jalan itu, umat Islam kita tidak leluasa sebelum Negara kita merdeka.”[7]
Menurut M. Natsir, ajaran Islamlah yang menyebabkan dorongan-dorongan untuk merdeka. Ia menyatakan:
“Pada hakikatnya, ajaran Islam itu merupakan suatu revolusi, yaitu revolusi dalam menghapuskan dan menentang tiap-tiap eksploitasi. Apakah eksploitasi itu bernama, kapitalisme, imperialism, kolonialisme komunisme atau fascism, terserah kepada yang hendak memberikan.
Demikianlah semangan kemerdekaan yang hidup dan dibakar dalam jiwa kaum muslimin di Indonesia. Semenjak berabad-abad semangat itu menjadi sumber kekuatan bangsa kita dan semangat itu pulalah yang menghebat dan mendorong kita memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia, pada tahun 1945 itu.”
[8]
Menurut Buya Hamka, tidak mungkin tauhid dilepaskan dalam perjuangan bernegara. Sebab pangkal pokok pandangan Islam adalah dua kalimat syahadat. Menurut beliau:
“Akibat dua kalimat syahadat itu bagi kehidupan Islam sangat besar dan sangat jauh. Karena kalimat itu, tidaklah ada yang mereka sembah, melainkan Allah. Tidak ada peraturan yang mereka akui, atau undang-undang yang mereka junjung tinggi, melainkan peraturan dan undang-undang dari Allah.”[9]
Namun sayang. Piagam Jakarta tak terlaksana hingga saat ini.Kalimat“Dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” malah dihapuskan. Buya Hamka, sangat menyesalkan peristiwa ini.
“Pendeknya, sesudah sehari maksud berhasil (maksudnya proklamasi kemerdekaan-pen), partner ditinggalkan, dan orang mulai jalan sendiri. Pihak Islam dibujuk dengan janji-janji bahwa kepentingannya akan dijamin. Bersama dengan tujuh kalimat itu, dihapuskkan pulalah kata yang diatas sekali, kata pembukaan yang termasuk kalimat sakti dalam jiwa orang yang hidup dalam Islam, yaitu kalimat, ‘Dengan Nama Allah Tuhan Yang Rahman dan Rahim. Sampai begitunya!”,sesal Buya Hamka.[10]
Hingga kini, piagam Jakarta yang disebut undang-undang menjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan satu kesatuan dengan konstitusi nyatanya hanyalah teks belaka tanpa realisasi nyata. Atas perkara ini, Buya Hamka melemparkan pertanyaan menohok bagi kita.
“Sekarang Indonesia telah merdeka. Merdeka Buat apa?”
“Bagi kita kaum muslimin adalah merdeka buat melakukan syariat Islam, dalam pengakuan dan pangkuan negara, bagi penduduknya yang memeluk Islam.
Sebab menjalankan syariat Allah dan Rasul bagi kita kaum Muslimin adalah bagian dari iman. Sebab dalam ajaran Islam, Islam itu bukanlah semata-mata hubungan dengan Allah, tetapi hubungan juga dengan masyarakat.
Bukan semata-mata ibadat, tetapi mencakup juga bernegara dan bermasyarakat.Percuma jadi orang Islam, percuma mendirikan partai-partai Islam, kalau dengan iman terpotong-potong kita hendak tampil ke muka.
Negara kita berdasar Pancasila; dalam negara berdasar Pancasila itu, kita kaum muslimin wajib mengisinya dengan cinta yang telah kita terima dari langsung dari Allah dan Rasul.
Pancasila
Sila kesatu, Ketuhanan Yang Maha Esa
Surah Al-Ikhlash, surah Asysyuura:11
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Surah Attin: 4
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. “
Sila ketiga, Persatuan Indonesia (Kebangsaan)
Surah Alhujuraat:13
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. “
Sila keempat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Surah Asysyuura: 38
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. “
Sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Surah Al-Maa’uun: 1, 2 & 3
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. “
Sumber:1.https://www.islampos.com
2.http://www.eramuslim.com
3.http://www.ummi-online.com
4.http://www.republika.co.id
Jakarta 15/8/2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman