Selasa, 26 Juli 2016

PENAWAR HATI




TOMBO HATI
Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan moco Quran lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo zikir wengi lingkang suwe
Salah sawijine sopo bisa ngelakoni
Mugi-mugi gusti Allah nyembadani
Muqaddimah
Konon, Sunan Bonang-lah yang memperkenalkan pertama kali puji-pujian tersebut.
Lalu, tradisi ini pun turun temurun diperkenalkan para wali dan ulama sesudahnya.
Hingga saat ini diamalkan oleh generasi Islam di Nusantara.
Nasihat Sunan Bonang ini diambil dari rangkaian intisari Al-Quran dan Hadis, serta wejangan ulama-ulama terdahulu.

Ibrahim Al-Khawash pernah menyebut hal serupa dengan susunan yang berbeda, tetapi mempunyai maksud sama, dia mengatakan,
“Obat hati ada lima perkara, yaitu; membaca Al-Quran sembari merenungkan maknanya, mengosongkan perut,
bangun malam,
beribadah di waktu sahur,
dan bersahabat dengan orang-orang saleh.”
Asal Usul Tombo Ati
SYAIR “Tombo Ati” alias obat hati yang berjumlah lima amalan ibadah adalah syair berbahasa Jawa yang populer secara turun-temurun. Syair yang berisi nasihat ini semakin booming setelah masuk ke dunia rekaman yang dilantunkan seniman Muslim Emha Ainun Najib dan dilanjutkan oleh penyanyi Opick dengan versi bahasa Indonesianya.
Ada pihak yang menyebutkan bahwa syair Tombo Ati ini berasal dari Sunan Bonang salah satu ulama shalih penyebar Islam di tanah Jawa, di mana beliau menggunakan syair itu dalam sebagai media dakwah.
Meski demikian, apakah bisa dikatakan bahwa otomatis beliau perumus Tombo Ati? Bisa jadi, namun kemungkinan hal itu kecil, karena Wali Songo adalah ulama yang dikenal menganut metode sanad dalam ajarannya hingga kemungkinan besar ajaran yang disampaikan merujuk kepada ulama sebelumnya.
Jika seandainya bukan Sunan Bonang, lalu siapa ulama sebelum beliau yang merumuskannya?
Pertanyaan itu terjawab oleh kitab Shifat Ash Shafwah karya Ibnu Al Jauzi (597 H) ulama besar madzhab Hanbali, di mana saat beliau menulis biografi Yahya Bin Muadz Ar Razi ulama yang wafat di Naishabur tahun 258 H, beliau menuliskan bahwa Yahya menyampaikan 5 obat hati (lihat, Shifat Ash Shafwah, 4/92).
Dalam kitab itu Yahya bin Muadz menyatakan, ”dawa’ al qalb khomsah asya’” (obat hati ada 5 perkara), yang dalam bahasa Jawa, ”tombo ati iku limo perkarane” (obat hati ada 5 perkara).
Dari lima perkara itu Yahya bin Muadz merinci, ”qira’ah Al Qur’an bi at tafakkur” (membaca Al Qur’an dengan perenungan), yang dalam bahasa Jawa, ”moco Quran angen-angen sakmaknane”.
Yang kedua adalah “khala’ al bathn” (kosongkan perut atau berpuasa), yang dalam bahasa jawa, ”weteng siro kudu luwe”.
Obat hati selanjutnya adalah, ”qiyam al lail” kalau dijawakan menjadi, ”sholat wengi lakonono”.
Selanjutnya adalah, ”tadzarru’ indza as sahr” (merendahkan diri saat waktu sahur) kalau dalam versi Jawa, ”dzikir wengi ingkang suwe”.
Sedangkan obat hati yang terakhir yang disebut Yahya bin Mu’adz adalah, ”mujalasah as shalihin” (bermajelis dengan orang-orang shalih) yang dalam versi Jawanya, ”wong kang sholeh kumpulono.”
Jika demikian, maka hal ini merupakan salah satu indikator bahwa ajaran Walisongo bersumber kepada ulama terdahulu, tinggal generasi Islam saat ini, tidak hanya bisa manghafal, namun juga dituntut untuk mengamalkan 5 perkara yang amat dianjurkan itu, hingga hati menjadi tenang.
Ikhtitam

Para wali penyebar agama Islam di Nusantara yang telah banyak berjasa. Mereka memberi penerang dan penyejuk hati melalui syair-syair yang menggugah jiwa, termasuk puji-pujian Tombo Ati ini.
Ia benar-benar menjadi obat hati manusia yang sedang dalam keadaan bahagia ataupun duka.
Ia bisa mengobarkan semangat untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT,
serta mengajarkan kecintaaan kepada Allah dan rasul-Nya.
Sungguh cara dakwah yang luar biasa.
Tombo Ati merupakan satu rangkaian terapi bagi batin untuk berbenah dan menyadari fungsi penciptaan manusia. Dengan penyadaran jiwa yang selama ini terlalaikan dan terabaikan oleh gerak, pikiran, dan nafsu jahat manusia, diharapkan manusia menemukan kembali jati dirinya sebagai manusia.
Sumber:1.http://qsuro.blogspot.co.id
2.http://www.hidayatullah.com
Jakarta 27/7/2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman