Kamis, 16 Juni 2016

MAKSUD TAQWA




TAQWA MENURUT SAYYIDINA ALI KARAMALLAH WAJHAH DAN SYAIH ABDUL QADIR JAILANI

Sayyidina Ali Karromallahu wajhah menerangkan bahwa sejatinya taqwa tidaklah sekedar istitsalul awamir waj tinabun nawahi, tetapi taqwa itu adalah:
takut kepada Allah yang bersifat Jalal, dan beramal dengan dasar al-Qur’an (at-tanzil) dan menerima (qona’ah) terhadap yang sedikit, dan bersiap-siap menghadapi hari perlihan (hari akhir).<>
Pertama; Al-khaufu minal Jalil artinya bahwa taqwa itu akan menjadikan seseorang merasa takut kepada Allah swt yang memiliki sifat Jalal. Takut melanggar berbagai aturan dan ketentuan-Nya. Sehingga apapun yang akan diperbuatnya selalu dipertimbangkan terlebih dahulu. Tangan tidak akan digunakan untuk memungut benda yang bukan miliknya tanpa izin. Kaki tidak digunakan untuk berjalan ke aarah yang salah, demikian juga mata dan telinga tidak akan difungsikan sebagai alat mendurhakai-Nya.
Maka taqwa dalam bingkai Al-khaufu minal Jalil, lebih bernuansa ‘penghindaran dan pencegahan’ dari pada ‘pelaksanaan’. Karena sesungguhnya ‘ketakutan’ itu akan menyebabkan seseorang enggan melakukan tindak kesalahan. Seperti halnya seorang anak kecil yang takut bermain air hujan karena takut kepada orang tuanya.
Kedua; wal ‘amalu bit tanzil, menghindari sesuatu karena takut kesalahan dalam konsep taqwa tidak lantas menjadikan seseorang tidak berbuat apa-apa, karena hal taqwa juga menuntut tindakan baik yang berdasar pada al-Qur’an yang diturunkan (at-tanzil) sebagai pedoman hidup dan dasar bersyariat bagi kaum muslim.
Maka segala ‘amal orang yang bertaqwa berdasar pada al-Qur’an, dan mereka tidak akan melakukan sesuatu secara serampangan tanpa adanya dalil yang mendasarinya baik al-Qur’an, Hadits, Ijam’ maupun qiyas.
Ketiga;  al-Qana’atu bil Qalil, artinya orang yang bertaqwa akan selalu merasa cukup dengan rizki yang sedikit, sesungguhnya orang yang memiliki rizqi yang sedikit dan merasa cukup dengan rizqi tesebut adalah bukti sekaligus tanda bahwa orang itu dicintai oleh Allah swt. Sebagaimana yang disabdakan rasulullah saw.
Bahwa jika Allah mencintai seorang hamba ia akan memberikan rizki yang pas-pasan kepadanya.
Artinya pas-pasan adalah tidak memiliki kelebihan selain untuk menutupi kebutuhan pokoknya, inilah tanda orang taqwa yang dicintai Allah swt. Oleh karena itu dalam kenyataannya tidak seorangpun hamba yang hidup pas-pasan bertindak secara berlebihan, berhura-hura dan doyan belanja. Karena berbagai macam keglamouran hidup itu sangat dibenci oleh Allah swt. menyebabkan manusia melupakan Tuhannya. Itulah bukti hamba itu dicintai oleh Allah.
Berbeda sekali dengan seorang yang memiliki limpahan harta yang berlebih. Maka di kala waktu luang setan akan segera menghampirinya dan membujuk untuk berbuat hura-hura, jalan-jalan berekreasi ke tepi pantai atau santai santai di menikmati keremangan malam atau malah mencari kesibukan diluar pengetahuan pasangannya. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang sepertin ini.
Maka menjadi amat penting memeperhatikan sabda Rasulullah saw selanjutnya yang berbunyi:
Beruntung sekali orang (yang mendapatkan petunjuk)Islam, yang mempunyai rizqi pas-pasan dan rela dengan rizqi (yang pas-pasan) itu.
Ridhda atau rela dengan kesedikitan itu menjadi satu sarat tersendiri. Sebagai pertandanya orang tersebut tidak pernah berkeluh-kesah akan keadaanya. Banyak sekali hamba yang merasa cukup dengan rizqi yang diterimanya, saying sekali ia sering keluhan-keluhan. Sesungguhnya hal yang demikian itu mengurangi ketaqwaan.
Dan keempat, al-isti’dadu li yaumir rakhil, adalah bersiap-siap menghadapi hari perpindahan. Perpindahan dari alam dunia ke alam kubur lalu  ea lam akhirat. Artinya segala amal orang yang bertaqwa senantiasa dalam ranga menyiapkan diri akan hadirnya hari kematian. yaitu hari keberangkatan dari alam dunia menuju alam akhirat.
Syaikh Abdul Qodir al Jailani menjelaskan bahwa ada orang jika dikatakan kepada mereka “bertakwalah kepada Allah” maka dia marah dan jika disampaikan kebenaran kepadanya maka dia mendengar namun menganggapnya remeh. Jika diingkarkan kepadanya maka dia ingkar dan marah padamu.
Berikut penjelasan Syaikh Abdul Qodir al Jailani yang termuat pada kitab al Fath ar Rabbani wa al Fayadl ar Rahmani yang diterbitkan oleh Mitrapress dengan judul “Mahkota Sufi” diterjemahkan oleh Muhammad Nuh Lc.
***** awal kutipan *****
Bukankah Umar bin al Khathab ra pernah berkata, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, maka ia akan selalu menghilangkan kemarahannya“. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam hadits qudsi, “Aku menyintai kalian ketika mentaatiKu, dan ketika kalian bermaksiat padaKu , maka Aku murka kepada kalian
Cintailah Allah dengan sebenar-benarnya. Cintailah dengan segenap hatimu. Sebab engkau membutuhkanNya. Ketahuilah Allah menyintaimu bukan sebagai kebutuhanNya. Dia tidak membutuhkan dirimu. Dia mencintaimu untuk kepentinganmu bukan demi kepentinganNya. Dia menyukai kepatuhanmu sebagai manfaat yang kembali kepadamu juga. Sambutlah Dia yang mencintaimu dengan senang hati kepadaNya.
Wahai murid-muridku! apa yang kukatakan ini tidak akan bisa kauterima jika dirimu tidak menggunakan akal sehat. Maka gunakanlah akal sehatmu untuk menerima nashatku.
Gunakanlah akalmu wahai orang yang berpikir. Berpuaslah menerima apa adanya, sehingga Tuhan akan memberimu kedudukan yang banyak dari bagian akhiratmu. Pungutlah kekayaan duniawi dengan sikap zuhud. Jangan engkau memungutnya dengan hawa nafsu dan syahwat.
Kaum shalih adalah orang-orang berakal. Ketahuilah kaum shalih adalah orang-orang yang berakal. Mereka mengatakan,  “Kami tidak akan memakan makanan di jalan atau di rumah, melainkan di sisiNya“. Jika orang-orang zuhud makan di surga dan orang-orang arif makan disisiNya, sementara mereka masih berada di dunia, maka kalangan pecinta Allah, tidak makan di dunia juga tidak di akhirat. Sesungguhnya makanan mereka adalah kedekatan dengan Tuhan Azza wa Jalla.
Kaum shalih memilihi sifat qanaah yang sempurna. Mereka memiliki tingkat penyerahan diri kepada Tuhan secara utuh. Mereka tidak memiliki kehendak, juga pilihan, melainkan hanya sekedar menjalani perintah Tuhannya.
Engkau jangan berdalih apapun sebab dirimu tidak memiliki dalih yang tegas. Halal dan haram sudah jelas. Betapa kurang ajarnya dirimu kepada Allah. Betapa sedikit ketakutanmu kepadaNya dan betapa besar sikap meremehkan atas kenikmatan memandangNya, padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Takutlah pada Allah Azza wa Jalla seolah-olah engkau melihatNya. Jika engkat tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia sedang melihatmu
Sumber:1.http://www.nu.or.id
Jakarta 16/6/2016

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman