Kamis, 07 Januari 2016

AMPUNAN DAN SIKSA TUHAN




KITA MILIK TUHAN ?


لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya : “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” [al-Baqarah : 284].
Muaqddimah
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Ketika turun ayat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Lillahi maa fis samaawaati wa maa fil ardh…dst. sampai "wallahu 'alaa kulli syai'in qadiir." Maka yang demikian membuat para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keberatan, lalu mereka mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sambil berlutut dan berkata, "Wahai Rasulullah, kami dibebani dengan amal berat yang kami tidak sanggup melakukannya. (Sudah ada beban) shalat, puasa, jihad dan sedekah. Sesungguhnya telah diturunkan kepadamu ayat ini (yakni ayat di atas) dan kami tidak sanggup memikulnya," maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apakah kamu ingin mengatakan seperti yang dikatakan dua Ahli Kitab sebelum kamu, yaitu, "Kami mendengar, namun kami mendurhakai? Bahkan katakanlah, "Kami mendengar dan kami taat. Ampunan-Mu wahai Tuhan kami, kami minta dan kepada-Mulah tempat kembali." Mereka pun berkata, "Kami mendengar dan kami taat. Ampunan-Mu yang Tuhan kami, kami minta dan kepada-Mulah tempat kembali." Ketika mereka telah mengucapkannya, maka lisan mereka pun tunduk mengikuti. Setelah itu, Allah menurunkan ayat, "Aamanar rasuulu bimaa unzila ilaihi mir rabbihii wal mu'minuun…dst." sampai "Wa ilaikal mashiir". Saat mereka telah melakukannya, Allah menasakhnya dan menurunkan ayat (yang artinya), "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala (dari kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat siksa (dari kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan." Allah berfirman, "Ya.". selanjutnya, "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau membebani Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami" Allah berfirman, "Ya." Selanjutnya, "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya." Allah berfirman, "Ya." Selanjutnya, "Ma'afkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami. Maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir. "
Tafsir Ayat ?
Allah Ta’ala mengabarkan bahwa seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milikNya, Dia yang menciptakan, memiliki dan mengaturNya. Oleh karenanya barangsiapa yang menampakkan atau menyembunyikan apa yang ada di dalam dirinya, baik berupa kebaikan ataupun keburukan, maka semua itu akan di-hisab oleh Allah Ta’ala. Kemudian setelah itu Allah akan mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dari kalangan orang-orang yang beriman dan bertakwa, dan Dia akan menyiksa siapa saja yang Dia kehendaki dari kalangan orang-orang yang berbuat syirik dan maksiat. BagiNya kesempurnaan pengaturan, karena semua adalah makhlukNya, milikNya dan hambaNya.[1]
Sungguh setelah itu Allah Ta’ala memuliakan kaum muslimin di mana Dia memaafkan apa saja yang terlintas di dalam hati selagi bisikan hati itu tidak diikuti dengan ucapan atau amal perbuatan, sebagaimana hal ini ada di dalam hadist[2] Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam.[3]
Imam Ibnu Katsir berkata :
Pada ayat tersebut Allah Ta’ala mengabarkan adanya tambahan atas ilmuNya, yaitu Dia meng-hisab hal itu. Oleh karena itu ketika ayat ini turun, para shahabat –semoga Allah meridhai mereka semua- merasa berat dan merasa khawatir darinya, yaitu dari hisab Allah Ta’ala atas perbuatan mereka, baik yang besar maupun yang kecil. Perasaan itu muncul dari besarnya keimanan dan keyakinan mereka.
Imam Ahmad berkata, ‘Affan menceritakan kepada kami : Abdurrahman bin Ibrahim menceritakan kepada kami, :Abu Abdirrahman –yaitu al’Ala’- menceritakan kepadaku, dari bapaknya, dari Abu Hurairah, dia berkata : ketika turun kepada Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam ayat :
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”
Maka yang demikian itu terasa berat oleh para shahabat Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam. Kemudian mereka mendatangi beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah dibebani dengan amalan yang kami mampu, seperti shalat, puasa, jihad dan sedekah. Dan sungguh telah turun kepada engkau ayat ini, namun kami tidak mampu mengembannya.” Maka Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian hendak mengatakan apa yang dikatakan oleh dua ahlul kitab sebelum kalian : kami mendengar dan kami mendurhukainya? Akan tetapi ucapkanlah : kami mendengar dan kami mentaatinya. Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali! Ketika para shahabat mengiyakan dan lisan mereka menurutinya, maka Allah menurunkan ayat :
“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” [al-Baqarah : 285].[4]
Maka di saat para shahabat sudah melakukan hal itu, Allah Ta’ala me-nasakh (menghapus) dan menurunkan ayat :
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” [al-Baqarah : 286]
Sumber:1.http://www.tafsir.web.id
Jakarta 8/1/2016

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman