Senin, 28 Desember 2015

EVALUASI DIRI




SETIAP PERBUATAN AKAN DIPERHITUNGKAN ?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (١٩) لا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (٢٠)
18. [1]Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
19. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri[2]. Mereka itulah orang-orang yang fasik[3].
20. Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga; para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan[4].(al-Hasyr:18-20)
يَرْفَعِ الله الّذِيْنَ امَنُوْا مِنْكُمْ وَالّذِيْنَ أوتُواالْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Artinya : “….Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu….”. (QS Al-Mujadilah : 11).
Muqaddimah
DARI surat Al hasyr ayat 18 – 20 di atas, dapat diambil tiga kesimpulan, yaitu, Pertama, bahwa manusia harus selalu bertaqwa kepada Allah SWT, yaitu dengan melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Menurut ulama, ciri-ciri manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT, antara lain (a) ingat untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, (b) ingat bahwa segala amal perbuatan kita selalu diawasi oleh Allah SWT, (c) ingat bahwa setiap manusia pasti mengalami kematian, dan (d) ingat pada pasca kematian, bahwa di akhirat kelak ada dua tempat yang dihuni oleh manusia, yaitu neraka dan surga.

Perintah Taqwa ?
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al-Hasyr [59] : 18).
Dalam mengupas kedua ayat ini, kami berpedoman kepada dua kitab tafsir terkemuka, yakni kitab Tafsiir at-Thabary dan Tafsiir Ibnu Katsiir. Ayat pertama, menyebutkan perintah bertaqwa kepada Allah (ittaquLlaaha). Disebutkan dalam Tafsir ibnu Katsiir bahwa taqwa sendiri diaplikasikan dalam dua hal, menepati aturan Allah dan menjauhkan diri dari laranganNya. Jadi, tidak bisa kita mengatakan “saya sudah shalat”, setelah itu berbuat maksiat kembali. Karena makna taqwa sendiri saling bersinergi, tidak dapat dipisahkan.
Apakah kita harus bertaqwa kepada Allah? Tentu. Karena kita adalah orang-orang yang beriman. Perintah bertaqwa dalam hal ini ditujukan bagi orang-orang yang beriman (Yaa ayyuha l-ladziina aamanu). Sedangkan orang yang belum beriman haruslah beriman terlebih dahulu untuk kemudian bertaqwa.
Penggalan ayat selanjutnya mempunyai makna yang mendalam. Waltanzhur nafsun maa qaddamat lighadin. Dan hendaklah seseorang melihat apa yang telah ia perbuat (di masa lalu) untuk hari esok. Dalam Tafsir at-Thabary dijabarkan : dan hendaklah seseorang melihat apa yang telah diperbuatnya untuk hari Kiamat. Apakah kebajikan yang akan menyelamatkannya, atau kejahatan yang akan menjerumuskannya?
Kata-kata ‘ghad’ sendiri dalam bahasa Arab berarti besok. Beberapa ahli ta’wil menyatakan dalam beberapa riwayat : Allah senantiasa mendekatkan hari kiamat hingga menjadikannya seakan terjadi besok, dan ‘besok’ adalah hari kiamat.
Ada juga yang mengartikan ‘ghad’ sesuai dengan makna aslinya, yakni besok. Hal ini bisa diartikan juga bahwa kita diperintahkan untuk selalu melakukan introspeksi dan perbaikan guna mencapai masa depan yang lebih baik. Melihat masa lalu, yakni untuk dijadikan pelajaran bagi masa depan. Atau juga menjadikan pelajaran masa lalu sebuah investasi besar untuk masa depan.
Dalam kitab Tafsir ibnu Katsiir, ayat ini disamakan dengan perkataan haasibuu anfusakum qabla an tuhaasabuu. Hisablah (introspeksi) diri kalian sebelum nanti kalian dihisab (di hari akhir).
Muhasabah ala Imam Ghazali ?
Imam Ghazali telah menetapkan beberapa marhalah (peringkat) untuk bermuhasabah
diri seperti berikut;

1) AL-MUSYARATAH

Pada peringkat ini kita mengenali bahawa diri itu adalah diri kita sendiri dan hati itu adalah hati kita sendiri.
Ditangan kitalah terserah segala amalan baik dan buruk. Ketahuilah bahawa membaiki diri adalah dengan amalan soleh  manakala merosakkan diri dan hati adalah dengan maksiat dan kejahatan.

2) AL-MURAQABAH

Intai-intailah diri sewaktu mengharungi amalan atau membuat sesuatu aktviti dan perhatikanlah segala tindakan dengan mata hati. Sekiranya kita mendapati bahawa diri kita telah melanggari hak-hak Allah Taala dan melakukan dosa kepadaNya, maka segeralah bertaubat. Baiki diri dengan mentaati segala suruhan dan laranganNya.

3) AL-MUHASABAH

Apabila seseorang hamba itu menghitung (menghisab) amalan dirinya sendiri, adakalanya rutin seharian yang dilalui dipenuhi dengan ketaatan dan pahala. Maka sewajarnyalah hamba itu memuji Allah dan bersyukur kepadaNya, berdoa dengan penuh kerendahan hati moga Allah mengurniakan kepadanya  kekuatan dan keteguhan dalam beramal ibadah keranaNya. Tetapi sekiranya kehidupan seharian yang sedang dilalui itu dipenuhi dengan maksiat dan noda maka hendaklah dia segera berhenti, mencela dirinya sendiri diatas keterlanjuran dan paling penting berazam untuk mencegah dirinya daripada mengulangi apa yang pernah dilakukannya sebelum ini.

4) AL-MU`AAQABAH

Amaran dan tegahan untuk berhenti dari melakukan dosa dan maksiat tidak memadai sekiranya tidak diiringi dengan `iqaab (denda / hukuman) yang zahir. `Iqaab itu menjadi penolak dan penghalang kepada dosa dan maksiat yang telah dan akan dilakukan oleh seseorang hamba. Diriwayatkan bahawa Sayyidina Umar al-Khattab telah mendera dirinya sendiri kerana meninggalkan solat asar berjamaah dengan menyedekahkan tanahnya yang bernilai 200 ribu dirham. Manakala sesetengah ulama` pula mewajibkan dirinya sendiri dengan berpuasa  selama setahun atau dalam satu tempoh masa yang panjang (dengan harapan untuk menundukkan nafsu serta keinginan terhadap dunia dan maksiat), berjalan kaki untuk menunaikan haji dan sebagainya. Semua ini bertujuan untuk menta`dib dan mentarbiah diri agar tidak mengulangi tegahan Allah Taala.

5) AL-MUJAHADAH

Iaitu melawan segala kehendak hawa nafsu yang menjerumuskan seseorang hamba ke lembah dosa dan maksiat. Banyakkan bersabar, meyakini bahawa nikmat dunia adalah sementara sahaja dan sentiasa terikat dengan kehidupan akhirat yang terdapat pada hari tersebut syurga yang penuh dengan kenikmatan serta neraka jahannam yang penuh dengan sengsara dan azab. Sentiasalah berwaspada, bermuhasabah, melakukan `iqaab dan bermujahadah dari masa kesemasa dan beramallah dengan amalan-amalan yang dikehendaki oleh Allah Taala dengan bersungguh-sungguh supaya tidak futur (lemah) dipertengahan jalan menuju Alla
h  yang Maha Esa.
Sumber:1.http://halaqah.net 2.www.kompasiana.com
3.https://wipras.wordpress.com
Jakarta 29/12/2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman