Kamis, 26 November 2015

PENYIMPANGAN TASAWUF 1





MENGANALI TASAWUF YANG MENYIMPANG (1) ?

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَه
“Wahai Rosul sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Rabbmu. Dan jika engkau tidak melakukannya, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya”. [QS al-Maidah/ 5: 67].
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (kematian)” (QS. Al Hijr: 99).

Muqaddimah
Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata, “Ketika kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka kita dapati sangat berbeda dengan ajaran Alqur’an dan Assunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad Shalallahu alaihi wasallam, dan para shahabatnya yang mulia lagi baik, yang mereka adalah makhluk-makhluk pilihan Allah Subhanahu wa ta’ala di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi, dan zuhud Budha”. [At-Tasawuf Al-Mansya’ Wal Mashadir, halaman 2].
Asy-Syaikh Abdurrahman al-Wakil rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Tasawuf merupakan tipu daya setan yang paling tercela lagi hina untuk menggiring hamba-hamba Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam memerangi Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya Shalallahu alaihi wa sallam. Sesungguhnya ia (Tasawuf) merupakan topeng bagi Majusi agar tampak sebagai seorang Rabbani, bahkan ia sebagai topeng bagi setiap musuh (Sufi) di dalam memerangi agama yang benar ini. Periksalah ajarannya! Niscaya engkau akan mendapati di dalamnya ajaran Brahma (Hindu), Budha, Zaradisytiyyah, Manawiyyah, Dishaniyyah, Aplatoniyyah, Ghanushiyyah, Yahudi, Nashrani, dan Berhalaisme Jahiliyyah”. [Muqaddimah kitab Mashra’ at-Tasawuf, halaman 19]. 2
Kesesatan-Kesesatan Ajaran Tasawuf ?
Di antara sekian banyak kesesatan ajaran Tasawuf adalah,
1. Wihdatul Wujud, yakni keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala menyatu dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Demikian juga al-Hulul, yakni keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala dapat menjelma dalam bentuk tertentu dari makhluk-Nya (inkarnasi).
Al-Hallaj, seorang dedengkot sufi, berkata, “Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang makan dan minum”. [Dinukil dari Firaq Al-Mua’shirah, karya Dr. Ghalib bin Ali Iwaji, II/600].
Ibnu Arabi, tokoh sufi lainnya, berkata, “Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal? Jika engkau katakan hamba, maka ia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang diberi kewajiban?”. [Al-Futuhat al-Makkiyyah dinukil dari Firaq Al-Mu’ashirah, halaman 601].
Muhammad Sayyid at-Tijani meriwayatkan (secara dusta, pen) dari Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda,
رَأَيْتُ رَبِّي فِي صُوْرَةِ شَابٍّ
“Aku melihat Rabbku dalam bentuk seorang pemuda”.
[Jawahir al-Ma’ani, karya Ali Harazim, I/197, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, halaman 615].
Padahal Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman,
لَيْسَ كَمِثْلِه شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. [QS Asy-Syura/ 42: 11].
قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي
“Berkatalah Musa: ‘Wahai Rabbku nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihatku…”. [QS al-A’raf/ 7: 143].
2. Seorang yang menyetubuhi istrinya, tidak lain ia menyetubuhi Allah Subhanahu wa ta’ala.
Ibnu ‘Arabi berkata, “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah!”. [Fushush al-Hikam].
Betapa kufurnya kata-kata ini…, tidakkah orang-orang Sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini?.
3. Keyakinan kafir bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah makhluk dan makhluk adalah Allah Subhanahu wa ta’ala, masing-masing saling menyembah kepada yang lainnya
Ibnu Arabi berkata, “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya. Dan Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya”. [Al-Futuhat al-Makkiyyah].
Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. [QS Adz-Dzariyat/ 51: 56].
إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ إِلاَّ آتِى الرَّحْمَنِ عَبْدًا
“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba”. [QS Maryam/ 19: 93].
4. Keyakinan tidak ada bedanya antara agama-agama yang ada.
Ibnu ‘Arabi berkata, “Sebelumnya aku mengingkari kawanku yang berbeda agama denganku. Namun kini hatiku bisa menerima semua keadaan, tempat gembala rusa dan gereja pendeta, tempat berhala dan Ka’bah, lembaran-lembaran Taurat dan Mushaf Alqur’an”. [Al-Futuhat al-Makkiyyah].
Jalaluddin ar-Rumi, seorang tokoh sufi yang sangat kondang, berkata, “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti. Bagiku, tempat ibadah adalah sama… masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala”.
Padahal Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلأَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. Dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)
5. Bolehnya menolak hadits yang jelas-jelas shahih.
Ibnu ‘Arabi berkata, “Kadangkala suatu hadits shahih yang diriwayatkan oleh para perawi-perawinya, tampak hakikat keadaannya oleh seseorang mukasyif (Sufi yang mengetahui ilmu ghaib dan batin). Ia bertanya kepada Nabi Shalallahu alaihi wa sallam secara langsung, “Apakah engkau mengatakannya?”. Maka beliau Shalallahu alaihi wa sallam mengingkarinya seraya berkata, “Aku belum pernah mengatakannya dan belum pernah menghukuminya dengan shahih”. Maka diketahuilah, dari sini lemahnya hadits tersebut dan tidak bisa diamalkan sebagaimana keterangan dari Rabbnya walaupun para ulama mengamalkannya berdasarkan isnadnya yang shahih”. [Al-Futuhat al-Makkiyah].
6. Pembagian ilmu menjadi syariat dan hakikat.
Di mana bila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, menurut keyakinan Sufi, gugur baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini.
Mereka berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Alqur’an Surat Al-Hijr ayat 99,
وَ اعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
Yang mana mereka terjemahkan dengan, “Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu keyakinan.”
Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman, bahwasanya perkataan tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian isi Al Kitab dan mengkufuri sebagian lainnya. Sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat. Hakikat tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini, pen)”. [Majmu’ Fatawa, XI/401].
Beliau juga berkata, “Adapun pendalilan mereka dengan ayat tersebut, maka justru merupakan bumerang bagi mereka. Al-Hasan al-Bashriy rahimahullah berkata, ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menjadikan batas akhir beramal bagi orang-orang beriman selain kematian’, kemudian beliau membaca Alqur’an Surat al-Hijr ayat 99, yang artinya, ‘Dan beribadahlah kepada Rabbmu hingga datang kepadamu kematian’.”
Beliau melanjutkan, “Dan bahwasanya ‘al-Yaqin’ di sini bermakna kematian dan setelahnya, dengan kesepakatan ulama kaum muslimin”. [Majmu Fatawa, XI/41].
BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman