Kamis, 26 November 2015

PEMBENARAN TASAWUF (2)




MENGENALI TASAWUF YANG BENAR (2)

2.Al Ma’tifat menurut Dzun Nun al Mishri
Sebagaimana diketahui bahwa Dzun Nun al Mishri adalah pelopor paham al Ma’rifat. Walaupun paham ma’rifat sudah dikenal di kalangan sufi, tetapi Dzun Nun al Mishri-lah yang lebih menekankan paham ini dalam tasawuf. Penilaian ini tidaklah berlebihan karena berdasarkan riwayat al Qathfi dan al Mas’udi yang kemudian dianalisis oleh Nicholson dan Abd. Qadir dalam Falsafah ash Shufiah fi al Islam disimpulkan bahwa Dzun Nun al Mishri berhasil memperkenalkan corak baru tentang al Ma’rifat dalam bidang sufisme Islam. Keberhasilan itu ditandai dengan :
1. Dzun Nun al Mishri membedakan antara al ma’rifat sufiah yaitu melaksanakan kegiatan sufi menggunakan pendekatan qalb atau hati dan ma’rifat aqliah yaitu menggunakan pendekatan akal.
2. Al Ma’rifat menurut Dzun Nun al Mishri sebenarnya adalah musyahadah al qalbiyah sebab ma’rifat merupakan fitrah dalam hati manusia sejak zaman azali.
3. Teori-teori al ma’rifat Dzun Nun al Mishri menyerupai gnosisme ala Neo-Platonik. Teori ini dianggap sebagai jembatan teori-teori wahdat ash shuhud dan ittihad. Oleh karena itu dialah orang yang pertama mamasukkan unsur falsafah ke dalam tasawuf.

3.Ajaran - Ajaran Tasawuf Al - Qusyairi

Jelas Tampak akan bagaimana Al-Qusyairi cenderung mengembalikan tasawuf KE differences Landasan Doktrin akhlu sunnah SEBAGAI pernyataannya:

"Ketahuilah! Para tokoh Aliran membina Prinsip-Prinsip tasawuf differences Landasan tauhid yang Benar. Sehingga Doktrin mereka terpelihara Dari penyimpangan, selain ITU mereka Lebih Dekat DENGAN tauhid kaum salaf maupun ahlu sunah Yang tak tertandingi Dan tak Mengenal macet, merekapun industri tahu hak Yang lama Dan Bisa mewujudkan Sifat Sesuatu Yang diadakan Dan ketidakadaannya. Al-Junaidi mengatakan bahwa tauhid pemisal HAL Yang lama DENGAN HAL Yang baru. Landasan Doktrin merekapun didasarkan PADA dalil Dan Bukti Yang KUAT Serta perjudian. Abu Muhammad Al-Jariri mengatakan bahwa Barang siapa TIDAK mendasarkan ilmu tauhid PADA salah Satu pengokohnya, niscaya kakinya tergelincir KE hearts Jurang kehancuran

Mengembalikan Tasawuf KE Landasan Ahlussunnah
Apabila al-Risalah al-Qusyairiyyah karya al-Qusyairi dikaji SECARA Mendalam, akan Tampak Jelas bagaimana al-Qusyairi cenderung mengembalikan tasawuf PADA Landasan Doktrin ahlus sunnah. SECARA implisit hearts ungkapannya al-Qusyairi terkandung penolakan Terhadap para sufi syathahi, Yang mengucapkan Ungkapan-Ungkapan Penuh Kesan terjadinya perpaduan ANTARA Sifat-Sifat Ketuhanan DENGAN Sifat-Sifat Kemanusiaan. pernyataan inisial JUGA terkandung hearts perkataannya berikut ini Label,
"Sesungguhnya Seorang hamba TIDAK boleh menyandang Sifat-Sifat Allah sebagaimana anggapan sebagian sufi bahwa Seorang hamba Bisa Menjadi Kekal sebagaimana kekalnya Allah, Bisa mendengar sebagaimana pendegaran Allah Serta Bisa Melihat hal sebagaimana penglihatan Allah. Suami Sudah Keluar Dari Agama dan menanggalkan islam Serta bid'ah Yang LEBIH buruk daripada ucapan orang-orangutan Nashrani bahwa kalimat qadimah bersatu DENGAN Isa ".

4.Konsep-Konsep Tasawuf Syekh Yusuf al-Makassari
Akidah yang benar, menurut pandangan Syekh Yusuf adalah akidah yang berdasarkan kepada ittiba’ al-Rasûl. Artinya apa yang patut diyakini oleh hamba terhadap Allah adalah sebagaimana yang telah termaktub dalam al-Quran dan al-Sunnah. Keimanan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari qiyamat dan qada dan qadar-Nya, mestilah didasarkan kepada kedua rujukan dasar tersebut. Selain al-Quran dan al-Sunnah, tiada jalan untuk menjadikannya sebagai landasan aqidah yang benar.[27]
Dalam risalah al-Futuhat al-Ilahiyyah, Syekh Yusuf memperincikan rukun tasawuf kepada sepuluh perkara, yaitu:
Pertama : tahrid al-Tauhid, yang bermaksud memurnikan ketauhidan kepada Allah, dengan memahami makna keesaan Allah mengikuti kandunagn surat al-Ikhlas. Di samping itu, dalam meyakini keesaan Allah, mesti dijauhi dari sifat tasybîh dan tajsîm.
Kedua : Faham al-Sima’i, yang bermaksud memahami tata cara menyimak petunjuk dan bimbingan Syekh mursyid dalam menjalani pendekatan diri kapada Allah yang menuju  pada tuntutan Islam yang benar.
Ketiga : Husn al-‘Ishra, yang bermaksud memperbaiki hubungan silaturrahim dalam pergaulan (muasarah).
Keempat : Ithar al-Ithar, yang bermaksud mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri demi mewujudkan persaudaraan yang kukuh.
Kelima : Tark al-Ikhtiyar, yaitu bermaksud berserah diri kepada Allah tanpa i’timad kepada ikhtiar sendiri.
Keenam : Sur’at al-Wujd, yang bermaksud memahami secara pantas suara hati nurani (wujudan) yang seiring kehendak al-Haq (Allah).
Ketujuh : al-Kahf  ‘an al-Khawâtir, yang bermaksud mampu membedakan yang benar dan yang salah.
Kedelapan : Kathrat al-Safar, yang bermaksud melakukan perjalanan untuk mengambil i’tibar dan melatih ketahanan jiwa.
Kesembilan : Tark al-Iktisab, yang bermaksud tidak mengandalkan usahanya sendiri, akan tetapi ia lebih bertawakal kepada Allah Yang Maha Kuasa setelah ia berusaha.
Kesepuluh : Tahrîm al-Iddihâr, yang bermaksud tidak mengandalkan pada amal yang telah dilakukannya melainkan tumpuan harapannya hanyalah kepada Allah.[28]
Karamah, Mu’jizat dan Istidraj.
Tentang karamah dan mu’jizat atau hal-hal yang luar biasa yang terjadi atas diri hamba (orang awam) dinamakan istidraj bukan keramah; apabila terjadi atas diri seorang saleh yang melaksanakan syariat berlebih-lebih, maka dinamakanlah karamah sebagai karunia dari Allah dan bila terjadi atas diri seorang nabi, dinamakan mu’jizat, akan tetapi bila terjadi sebelum kenabian dinamakan irhas.
Al-Insan al-Kamil
Manusia sempurna menurut Syekh Yusuf adalah manusia yang mengenal Allah dan sampai ke maqam makrifat, bukanlah manusia biasa atau binatang yang berbentuk manusia. Manusia sempurna yang ingat pada Allah dalam segala urusannya kapanpun dan di manapun ia berada, segala kehendaknya untuk Allah dan selalu disisi-Nya. Manusia sempurna itulah yang dipilih Tuhan untuk menampakkan diri-Nya, lalu diberikan-Nya berbagai macam sifat-Nya kepada manusia tersebut, seolah-olah hamba tersebut setelah berakhlak dengan akhlakullah, menjadi Dia dan menjadi Khalifah-Nya di bumi dan menyerupai-Nya, karena Allah telah menciptakan Adam untuk menjadikannya  khalifatullah di bumi. Manusia macam inilah yang menjadi rahasia-Nya.[35]
Footnote
[27]Syekh Yusuf Al-Makassari, al-Mafhah al-Saylaniyyah Fi al-Minhah al-ahmaniyyah Ms.A101, Jakarta: Perpustakaan Nasional, t. th, h. 3.
[28] Syekh Yusuf, al-Futuhat al-Ilahiyyah .,h.4.
[35] Nabilah Lubis, Menyingkap Intisari Segala Rahasia, 1996 ., h, 57
Sumber:1.santri-ppmu.blogspot.com
2.https://guzzaairulhaq.wordpress.com 3ahlujannah.blogspot.com
4.https://imamsarifin.wordpress.com
Jakarta 27/11/2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman