Selasa, 27 Oktober 2015

SETAN MUSUH BERSAMA




JIHAD MELAWAN SETAN ?



إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوّاً
“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu).” (QS. Fathir: 6)
وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Mujahid adalah orang yang berjihad memerangi jiwanya dalam ketaatan kepada Allah dan Muhajir adalah orang yang berhijrah dari larangan Allah.” (HR. Ahmad 6/21, sanadnya shahih, -ed)
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu juga maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman.”(HR Muslim).
جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ
“Perangilah kaum musyrikin dengan harta, jiwa dan lisan kalian.” (HR. Abu Daud no. 2504, An Nasai no. 3096 dan Ahmad 3/124. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih, -ed)


Muqaddimah
Tidak diragukan lagi bahwa jihad adalah amal kebaikan yang Allah syari’atkan dan menjadi sebab kokoh dan kemuliaan umat islam. Sebaliknya (mendapatkan kehinaan) bila umat Islam meninggalkan jihad di jalan Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang shohih.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
Dari Ibnu Umar beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian telah berjual beli ‘inah, mengambil ekor sapi dan ridho dengan pertanian serta meninggalkan jihad maka Allah akan menimpakan kalian kerendahan (kehinaan). Allah tidak mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud)
Jihad secara bahasa berarti mengerahkan segala upaya dan kemampuan, baik berupa perkataan maupun perbuatan.
Definisi jihad secara syariat yang paling komperehensif diutarakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Jihad adalah mengerahkan segala upaya demi mencapai kebenaran yang diinginkan.” Di tempat lain, beliau mengatakan, “Hakikat jihad adalah upaya yang sungguh-sungguh untuk mencapai hal-hal yang diridhai oleh Allah seperti iman dan amal saleh, sekaligus untuk menolak hal-hal yang dibenci-Nya seperti kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.”
Definisi tersebut mencakup semua jenis jihad yang dapat dilakukan seorang muslim. Mencakup usaha kerasnya dalam menaati Allah, dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Termasuk juga usahanya dalam mengajak orang lain – muslim atau kafir – untuk menaati Allah, usahanya dalam memerangi orang kafir untuk meninggikan kalimat Allah, dan sebagainya.
Sebuah upaya dikatakan sebagai jihad jika memenuhi syarat, yaitu dilakukan ‘di jalan Allah’. Oleh karena itu, segala upaya yang dilakukan tidak di jalan Allah Ta’ala, maka tidak bisa dikatakan sebagai jihad.
Tangkatan Jihad ?
Bahkan Nabi saw. mengistilahkan jihad menghadapi hawa nafsu dan setan dengan jihad yang terbesar, sebagai perbandingan dengan jihad kecil, yaitu berjihad di medan perang. Di antara hadis yang menjelaskan hal tersebut adalah sabda Nabi saw.,
أفضلُ الجهادِ أنْ يُجاهِدَ الرجلُ نفسَه وَهَوَاهُ.
“Jihad yang paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu.”
المُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْــسَهُ.
“Mujahid adalah orang  yang berjihad melawan dirinya sendiri.”
جَاهِـدُوا أَهْوَاءَكم كما تُجاهِدُونَ أعــداءَكم.
“Berjihadlah melawan hawa nafsu kalian seperti kalian menghadapi musuh.”

Tingkatan-tingkatan Jihad
Jihad memiliki empat tingkatan: jihad melawan nafsu (diri sendiri), jihad menghadapi setan, jihad melawan orang-orang kafir dan munafik, serta jihad memberantas kezaliman, bid’ah, dan kemungkaran.

Tingkatan pertama:  Jihad melawan nafsu
Jihad melawan nafsu memiliki empat tingkatan:
1-  Jihad melawan nafsu untuk belajar ilmu-ilmu agama.
2- Jihad melawan nafsu untuk mengamalkan apa yang telah dipelajari.
3- Jihad melawan nafsu mendakwakan ilmu tersebut dengan penuh hikmah dan mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya.
4- Jihad melawan nafsu untuk tetap bersabar dalam mengemban tugas berat berdakwah kepada Allah dan bersabar dari gangguan orang lain. Dan menghadapi semua itu semata-mata karena Allah swt.


Tingkatan kedua: Jihad melawan setan
Jihad melawan setan memiliki dua tingkatan:
1-    Jihad melawan syubhat dan keraguan yang membahayakan iman yang dihembuskan oleh setan.
2-    Jihad melawan syahwat dan keinginan buruk yang dibisikkan oleh setan.
Jihad yang pertama dilakukan setelah mantapnya keyakinan, sedangkan jihad yang kedua dilaksanakan setelah adanya kesabaran. Allah swt. Berfirman, “Dan kami telah menjadikan di antara mereka (Bani Israil) teladan-teladan yang memberi petunjuk (kepada masyarakat berdasar) perintah kami, (dan Kami menjadikan mereka demikian) ketika (yakni karena) mereka bersabar. Sejak dulu mereka yakin dengan ayat-ayat kami.” (QS. As-Sajdah: 24)
Dan setan adalah musuh yang paling jahat. Allah swt. berfirman, “Setan adalah musuh kalian. Maka jadikanlah dia musuh! Dia mengajak golongannya hanyalah agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fatir: 6)
Tingkatan ketiga: Jihad melawan orang kafir dan munafik.
Jihad ini memiliki empat tingkatan: hati, lisan, harta, dan tangan (kekuatan). Jihad melawan orang kafir lebih banyak menggunakan tangan, dan jihad melawan orang munafik lebih banyak menggunakan lisan.
Tingkatan keempat: Jihad memberantas kezaliman, ketidakadilan, bid’ah, dan kemungkaran.
Jihad ini memiliki tiga tingkatan:
1-    Jihad dengan tangan (kekuatan), jika seorang mujahid mempunyai kemampuan untuk itu.
2-    Jika tidak mampu dengan tangan, maka jihad dilakukan dengan lisan.
3-    Jika masih merasa tidak mampu, maka cukup berjihad dengan hati (dengan mengingkari).

Diriwayatkan dari Abu Sa’id, Rasulullah bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ منكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ؛ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ.

 “Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya (kekuatan). Jika tak sanggup, cegahlah dengan lisan. Jika masih tak sanggup, maka cukup dengan hati. Yang terakhir ini adalah selemah-lemahnya iman.”

Jihad Melawan Setan ?
Adapun jihad memerangi syetan memiliki dua tingkatan:
1. Memeranginya untuk menolak syubhat dan keraguan yang merusak iman yang syetan arahkan kepada hamba.
2. Memeranginya untuk menolak keingininan buruk dan syahwat yang syetan lemparkan kepadanya.
Jihad yang pertama (mengatasi syubhat) dilakukan dengan yakin dan jihad yang kedua (mengatasi syahwat) dengan kesabaran. Allah Ta’ala berfirman,
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24). Allah menjelaskan bahwa kepemimpinan agama hanyalah didapatkan dengan kesabaran dan yakin, lalu dengan kesabaran ia menolak syahwat dan keinginan rusak dan dengan yakin ia menolak keraguan dan syubhat.
Sedangkan jihad memerangi orang kafir dan munafik memiliki 4 tingkatan yaitu dengan hati, lisan, harta dan jiwa. Jihad memerangi orang kafir lebih khusus dengan tangan sedangkan jihad memerangi orang munafiq lebih khusus dengan lisan.
Sedang jihad memerangi pelaku kezholiman, kebid’ahan dan kemungkaran memiliki 3 tingkatan yaitu (1) dengan tangan bila mampu, (2) apabila tidak mampu, berpindah pada lisan, (3) bila juga tidak mampu maka diingkari dengan hati.
Inilah tiga belas martabat jihad dan barang siapa yang meninggal dan belum berperang dan tidak pernah membisikkan jiwanya untuk berperang maka meninggal diatas satu cabang kemunafiqan.
Ikhtitam
مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللَّهِ لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى
"Perumpamaan seorang mujahid Fi Sabilillah adalah seperti orang yang berpuasa yang mendirikan shalat lagi lama membaca ayat-ayat Allah. Dan dia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya, sehingga seorang mujahid fi sabilillah Ta’ala pulang." (Muttafaq 'Alaih)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda
مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ
"Siapa yang meninggal sementara ia tidak pernah berperang (berjihad) dan tidak pernah meniatkan untuknya, maka ia mati di atas cabang kenifakan." (HR. Muslim)

Sumber:1.http://muslim.or.id

2.http://www.waag-azhar.org
Jakarta 28/10/2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman