Kamis, 08 Oktober 2015

HUKUM MENYENTUH AL-QUR'AN




MENYENTUH DAN MEMBACA AL-QUR’AN ?


إنه لقرآن كريم في كتاب مكنون لا يمسّه إلا المطهرون تنزيل من رب العالمين

Artinya: Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Rabbil 'alamiin.

- Hadits riwayat Nasai, Daruqutni, Baihaqi
أن النبي صلى الله عليه وسلم كتب إلى أهل اليمن كتاباً وكان فيه لا يمس القرآن إلا طاهر

Artinya: Bahwa Nabi menulis surat kepada penduduk Yaman dalam surat itu Nabi bersabda: Tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci

hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ia berkata:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يحجبه عن القرآن شيء ليس الجنابة

Artinya: Tidak ada yang menghalangi Rasulullah dari Al-Quran tidak juga junub


Muqaddimah
Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi Al-Dimasyqi dalam Tafsir Ibnu Katsir 7/544-545 menyatakan bahwa ada beberapa penafsiran tentang maksud dari kalimat "
لا يمسّه إلا المطهرون" atau "tidak menyentuhnya (Quran) kecuali orang-orang yang disucikan". Pendapat pertama menyatakan bahwa Quran yang dimaksud adalah yang berada di langit atau di Lauh Mahfudz. Sedang kata "المطهرون" atau "yang disucikan" adalah malaikat. Ini pendapat Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Menurut pendapat sejumlah ulama yang lain, maksud dari kalimat "
لا يمسه إلا المطهرون" adalah harus suci dari hadas kecil dan jinabah (hadas besar). Detailnya sebagai berikut:
وقال آخرون : ( لا يمسه إلا المطهرون ) أي : من الجنابة والحدث . قالوا : ولفظ الآية خبر ومعناها الطلب ، قالوا : والمراد بالقرآن - هاهنا - المصحف ، كما روى مسلم ، عن ابن عمر : أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - نهى أن يسافر بالقرآن إلى أرض العدو ، مخافة أن يناله العدو . واحتجوا في ذلك بما رواه الإمام مالك في موطئه ، عن عبد الله بن أبي بكر بن محمد بن عمرو بن حزم : أن في الكتاب الذي كتبه رسول الله - صلى الله عليه وسلم - لعمرو بن حزم : ألا يمس القرآن إلا طاهر . وروى أبو داود في المراسيل من حديث الزهري قال : قرأت في صحيفة عند أبي بكر بن محمد بن عمرو بن حزم : أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال : " ولا يمس القرآن إلا طاهر " . وهذه وجادة جيدة . قد قرأها الزهري وغيره

Artinya: Beberapa ulama berpendapat bahwa makna "
لا يمسه إلا المطهرون" adalah suci dari jinabah dan hadas. Mereka berkata: "Yang dimaksud dengan Al-Quran di sini adalah mushaf (kitab suci Al-Quran di dunia, bukan di langit)" berdasarkan pada hadis riwayat Muslim dari Ibnu Umar: "Bahwa Rasulullah melarang Ibnu Umar bepergian dengan membawa Al-Quran ke tanah musuh karena takut dikuasai lawan." Mereka juga berargumen dengan hadits riwayat Imam Malik dalam kitab Muwatta' dari Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm: "Bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah pada Amr bin Hazm Nabi bersabda: 'Hendaknya tidak menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci'". Sanad hadits ini baik sekali dan pernah dibaca oleh Imam Zuhri dan lainnya.

Apabila hadasnya adalah hadas kecil maka boleh bagi yang hadas membaca Al-Quran tanpa menyentuh berdasarkan kesepakatan ulama (ijmak). Adapun bagi yang hadas besar maka diperinci sebagai berikut: (a) Apabila junub maka tidak boleh membaca Quran menurut jumhur (mayoritas) ulama kecuali apabila membaca Quran sebagai zikir dan doa. Seperti ucapan:
ربّنا آتنا في الدّنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النّا atau سبحان الذّي سخر لنا هذا وما كنّا له مقرنين dan semacamnya. Dan tidak haram melihat bacaan dzikir dan doa tersebut dalam kitab Quran dan membacanya dalam hati tanpa melafalkan. Adapun hadas besar karena haid atau nifas, maka boleh baginya membaca Quran tanpa menyentuh kecuali apabila wanita haid atau nifas itu guru atau pelajar atau sedang berobat dengan cara ruqyah maka dia mendapat rukhsoh (dispensasi) untuk menyentuh Quran. Ini menurut pendapat madzhab Maliki (Lihat, Hasyiyah Dasuqi 1/434; Syarah Al-Kabir lid Dardir 1/126

Pendapat Menyentuh al-Qur’an Bagi yang Berhadats ?

Wajibnya suci dari hadas kecil dan besar bagi yang hendak menyentuh kitab suci Al-Quran (mushaf0 dan haramnya bagi yang tidak dalam keadaan suci merupakan pendapat yang disepakati (ijmak) oleh semua ulama dari keempat madzhab yaitu Mazhab Maliki, Hanafi, Syafi'i dan Hanbali.
Berikut uraian detail dari sumber-sumber rujukan kitab ulama masing-masing madzhab.

MADZHAB MALIKI

Al-Hafidz Ibnu Abdil Bar dalam Al-Istidzkar 2/472 berkata:

أجمع فقهاء الأمصار الذين تدور عليهم الفتوى وعلى أصحابهم، بأن المصحف لا يمسه إلا الطاهر، وهو قول مالك والشافعي وأبي حنيفة وأصحابهم والثوري والأوزاعي وأحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه وأبي ثور وأبي عبيد، وهؤلاء أئمة الرأي والحديث في أعصارهم، وروى ذلك عن سعد بن أبي وقاص وعبد الله بن عمر وطاوس والحسن والشعبي والقاسم بن محمد وعطاء، وهؤلاء من أئمة التابعين بالمدينة ومكة واليمن والكوفة والبصرة


Artinya: Ulama sepakat bahwa tidak boleh menyentuh mushaf kecuali orang yang suci (dari hadas kecil dan besar). Ini adalah pendapat Imam Malik, Syafi'i, Abu Hanifah dan para ulama mereka, Tsauri, Auza'i, Ahmad bin Hanbal, Ishak bin Rahawiyah, Abu Tsaur, Abu Ubaid; mereka adalah ahli ra'yi dan ahli hadis pada masanya. Mereka meriwayatkan pendapat tersebut dari Saad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Thaus, Hasan, Al-Sya'bi, Qasim bin Muhammad Atha'. Mereka semua adalah para Imam dari kalangan Tabi'in di Madinah, Makkah, Yaman, Kufah dan Bashrah.

MAZHAB HANAFI

Kamaluddin bin Abdul Wahid (Ibnu Hammam) dalam kitab Fathul Qadir 1/149 dan Al-Wiqayah hlm. 126 berkata:

يحرم مسّ المصحف في الجنابة والحيض والنفاس والحدث الأصغر إلا بغلاف متجاف ـ أي منفصلٍ عنه ـ، ويكره تحريماً اللَّمْسُ بالكُمّ على الصحيح؛ لأنه تابع للماس، فاللمس به لمس بيده.


Artinya: Haram menyentuh kitab suci Al-Quran dalam keadaan junub, haid, nifas, dan hadas kecil kecuali dengan pembungkus yang terpisah dari Quran. Dan makruh tahrim menyentuh Quran dengan lengan menurut pendapat yang sahih karena lengan itu ikut pada tangan. Jadi, menyentuh dengan lengan sama dengan menyentuh dengan tangan.

MAZHAB SYAFI'I

Imam Nawawi dalam Al-Majmuk Syarah Al-Muhadzab 2/80 berkata:

يحرم على المحدث مس المصحف وحمله سواء إن حمله بعلاقته أو في كمه أو على رأسه وحكى القاضي حسين والمتولي وجها أنه يجوز حمله بعلاقته وهو شاذ في المذهب وضعيف قال أصحابنا : وسواء مس نفس الأسطر أو ما بينها أو الحواشي أو الجلد فكل ذلك حرام . وفي مس الجلد وجه ضعيف أنه يجوز وحكى الدارمي وجها شاذا بعيدا أنه لا يحرم مس الجلد ولا الحواشي ولا ما بين الأسطر ولا يحرم إلا نفس المكتوب . والصحيح الذي قطع به الجمهور تحريم الجميع


Artinya: Haram bagi orang yang hadas (tidak suci) menyentuh dan membawa kitab suci Al-Quran baik membawanya dengan gantungan, atau pada lengan atau pada kepalanya. Qadhi Husain dan Mutawalli meriwayatkan pendapat lain bahwa membawa dengan gantungan itu boleh tapi ini pendapat yang minoritas dan lemah dalam madzhab Syafi'i. Ulama Syafi'i berkata: (keharaman itu) meliputi menyentuh tulisannya atau di antara tulisan atau bagian pinggir atau kulitnya. Semua itu haram. Namun dalam soal menyentuh kulit Quran ada pendapat yang dhaif bahwa itu dibolehkan. Al-Darimi meriwayatkan pendapat yang sangat syadz (langka) bahwa menyentuh kulit kitab suci itu tidak haram termasuk juga menyentuh bagian pinggir, antara tulisan tidak haram kecuali tulisan itu sendiri. Pendapat yang sahih seperti yang ditetapkan jumhur (mayoritas) ulama adalah haram semuanya.

MADZHAB HANBALI

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Al-Mughni 1/168 berkata:

لا يمس المصحف إلا طاهر: يعني طاهراً من الحدثين جميعاً، روي هذا عن ابن عمر والحسن وطاوس والشعبي والقاسم بن محم،د وهو قول مالك والشافعي وأصحاب الرأي، ولا نعلم مخالفاً لهم إلا دواد)


Artinya: Tidak boleh menyentuh mushaf Al-Quran kecuali orang yang suci. Maksudnya, suci dari dua hadas besar dan kecil semuanya. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Umar, Al-Hasan, Thawus, Sya'bi, Al-Qasim bin Muhammad. Ini adalah pendapat dari Imam Malik, Syafi'i, dan ulama Ahli Ra'yi. Kami tidak mengetahui pendapat yang berbeda kecuali Dawud.

Junub dan Haid baca al-Qur’an ?
Ini adalah pendapat mayoritas ulama (jumhur), karena tidak ada dalil shahih yang melarang untuk membaca Al Quran kecuali larangan menyentuhnya. Sedangkan yang dimaksud dengan menyentuh Al Quran adalah menyentuh mushaf Al Quran.
لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلاَ الْحَائِضُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ
hadits Ibn Umar: “Tidak boleh membaca sesuatu apa jua daripada al-Qur’an seorang yang dalam keadaan junub atau haid” , maka ia diriwayatkan oleh (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi I/236; Al Baihaqi I/89 dari Isma’il bin ‘Ayyasi dari Musa bin ‘Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar).
Ia adalah hadis yang dha’if, didha’ifkan oleh al-Bukhari, al-Baihaqi dan selainnya. Baca penjelasan di atas.
Sedangkan yang shahih adalah dalil tidak boleh menyentuh Al Quran sesuai dalil :
لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ
“Tidak ada yang menyentuh (Al-Qur’an) kecuali mereka yang telah disucikan” [Al-Waqi’ah : 79]
Dan dalil :
أَنْ لَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إلَّا طَاهِرٌ
Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci.” (Hadits Al Atsram dari Daruqutni dan lain-lain).
Dalil shahih yang ada hanya sekedar tidak boleh menyentuh mushaf, akan tetapi membaca Al Quran masih diperbolehkan karena tidak ada dalil shahih yang melarangnya.
Ikhtitam

Wajibnya suci dari hadas kecil dan besar bagi yang hendak menyentuh kitab suci Al-Quran (mushaf0 dan haramnya bagi yang tidak dalam keadaan suci merupakan pendapat yang disepakati (ijmak) oleh semua ulama dari keempat madzhab yaitu Mazhab Maliki, Hanafi, Syafi'i dan Hanbali.

Sumber:1.https://almubayyin.wordpress.com
2.www.alkhoirot.net
Jakarta 8/10/2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman