Selasa, 22 September 2015

PESAN ARAFAH





MEMAKNAI WUQUF ARAFAH ?


خَيْرُ الدُّعاءِ دُعاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَناَ وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa 'ala kulli syaiin qadir." [HR. at-Tirmidzi no. 3585, dihukumi shahih oleh al-Albani]

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ ». فقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ؟ قَالَ: "وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ".

Tidak ada hari-hari di mana amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada hari–hari yang sepuluh ini". Para sahabat bertanya, "Tidak juga jihad di jalan Allâh ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "Tidak juga jihad di jalan Allâh, kecuali orang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatupun." [HR al-Bukhâri no. 969 dan at-Tirmidzi no. 757, dan lafazh ini adalah lafazh riwayat at-Tirmidzi]

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

Tidak ada hari di mana Allâh Azza wa Jalla membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?" [HR. Muslim no. 1348]
Muqaddimah
Wukuf di Arafah merupakan satu rangkaian terpenting dari pelaksanaan ibadah haji. Dikatakan terpenting karena wukuf di Arafah ini pada hakikatnya merupakan inti dari ibadah haji. Karenanya haji seseorang dianggap tidak sah kalau ia tidak melaksanakan wukuf di Arafah. Pendapat ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW: ”Haji itu adalah Arafah.
Puncak wukuf di Arafah adalah khutbah wukuf. Dalam setiap khutbah selalu, diperdengarkan khutbah Rasulullah yang pernah beliau sampaikan pada saat mengerjakan haji terakhir (haji wada`) pada sekitar tahun 10 Hihriyah.
Tidak kurang seratus ribu jamaah turut serta dalam rombongan Rasulullah tersebut.
Ibnu Qayyim Al-jauziyyah alam Zaadul Ma`ad, dalam sebuah laman, menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah yang di dalamnya beliau menyampaikan kaidah-kaidah Islam, menghancurkan sendi-sendi kemusyrikan dan jahiliyah.
Menjelang wafatnya, di tempat inilah di Padang Arafah, Nabi Muhammad SAW berkhutbah yang kemudian dikenal dengan Khutbatul Wada` atau pidato perpisahan.
Pidato ini merupakan salah satu puncak dari sejarah ajaran Islam.
Khutbah Nabi ini merupakan khutbah kemanusiaan. Sebab, keberhasilan memahami dan menangkap makna dari khutbah Nabi adalah bagian terpenting dalam memahami dan menangkap pesan-pesan kemanusiaan dalam ajaran Islam, sarat dengan nilai-nilai akhlak dan persaudaraan bagi seluruh umat manusia.
"Wahai manusia, Tuhanmu hanyalah satu dan asalmu juga satu. Kamu semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Keturunan, warna kulit, bangsa tidak menyebabkan seseorang lebih baik dari yang lain. Orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling takwa. Orang Arab tidak lebih mulia dari yang bukan Arab, sebaliknya orang bukan Arab tidak lebih mulia dari orang Arab. Begitu pula orang kulit berwarna dengan orang kulit hitam dan sebaliknya orang kulit hitam dengan orang kulit berwarna, kecuali karena takwanya." pesan Nabi dalam khutbahnya.
"Wahai manusia! Sesungguhnya darah, harta kalian, kehormatan kalian sama sucinya seperti hari ini, pada bulan ini, di negeri ini. Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya, tidak boleh dirampas hartanya dan tidak boleh dicemarkan kehormatannya. Dengan demikian kamu tidak menganiaya dan tidakteraniaya."

Pada bagian lain dalam khutbah, Rasulullah menegaskan, takutlah kepada Allah dalam bersikap kepada kaum wanita, karena kamu telah mengambil mereka (menjadi isteri) dengan amanah Allah dan kehormatan mereka telah dihalalkan bagi kamu sekalian dengan nama Allah.

Kapan Puasa Arafah ?
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185).
Syaikh Muhammad bin Sholih ‘Utsamin pernah diajukan pertanyaan:
Kami khususnya dalam puasa Ramadhan mubarok dan puasa hari Arofah, di antara saudara-saudara kami di sini terpecah menjadi tiga pendapat.
Pendapat pertama: kami berpuasa bersama Saudi Arabia dan juga berhari Raya bersama Saudi Arabia.
Pendapat kedua: kami berpuasa bersama negeri kami tinggal dan juga berhari raya bersama negeri kami.
Pendapat ketiga: kami berpuasa Ramadhan bersama negeri kami tinggal, namun untuk puasa Arofah kami mengikuti Saudi Arabia.
Arafah Sejuta Makna ?
Syaikh Muhammad bin Sholih ‘Utsamin pernah diajukan pertanyaan:
Kami khususnya dalam puasa Ramadhan mubarok dan puasa hari Arofah, di antara saudara-saudara kami di sini terpecah menjadi tiga pendapat.
Pendapat pertama: kami berpuasa bersama Saudi Arabia dan juga berhari Raya bersama Saudi Arabia.
Pendapat kedua: kami berpuasa bersama negeri kami tinggal dan juga berhari raya bersama negeri kami.
Pendapat ketiga: kami berpuasa Ramadhan bersama negeri kami tinggal, namun untuk puasa Arofah kami mengikuti Saudi Arabia.


Awalnya, khutbah Arafah setelah shalat dzuhurlah yang mulai menggiring hati kami untuk larut bersama dalam wukuf, namun beberapa saat selanjutnya, setiap orang mulai berasyik masyuk dengan Tuhannya dengan gayanya masing-masing. Mungkin inilah yang disebut dengan Arafah sebagai lambang maqam ma’rifah billah, merasakan situasi kegembiraan dan kedekatan dengan Sang Pencipta, yang kabarnya rasa ini tidak semua bisa mendapatkannya. Maka itulah rupanya dzikir yang dicontohkan Nabi terkasih kami amatlah pendek, tapi bermakna dalam sekali. Dzikir yang mengiringi rasa tentram karena kedekatan antara hamba dan Penciptanya di padang Arafah.
Sebaik-baik doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik yang kubaca dan dibaca pula oleh nabi-nabi sebelumku yaitu Lailaha illallahu wahdahula syarikalah, lahulmulku wala hul hamdu wa huwa ‘ala kulii syai-in qodiir (Tiada Tuhan kecuali Allah dan tidak ada sekutu bagiNYA, bagiNYA segala kerajaan dan segala puji. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan dan Dialah Maha berkehendak)
Kami kemudian mencoba melepaskan kebanggaan duniawi kami, menunjukkan sikap merendah dan mengakui dosa2 selama ini yg telah menyimpangkan jutaan kilometer jarak kita dari jalan Allah yang sesungguhnya. Di Arafah inilah kesempatan kita untuk mengembalikan setiap langkah menuju titik nol dengan langkah yang diajarkan-NYA. Berserasi dengan frekuensi Ilahiyah sebagai hamba-hamba yang bersyukur dan terus berusaha istiqomah dekat dengan Tuhannya. Inilah hikmah Arafah sebagai tempat pembebasan. Seperti yang Nabi pesankan, ‘Tidak ada hari yang paling banyak Allah menentukan pembebasan hambaNya dari neraka kecuali hari Arafah.’
Di arafah juga kami berusaha memanjatkan permohonan2 kami. Sembari berhati-hati memilih kata-kata agar tidak berlebihan dan tidak meminta sesuatu yang berada di luar pengetahuan kami yang sangat sempit ini. Berdoa dengan memohon yang terbaik menurut Allah, berdoa agar dapat bersikap yang terbaik menurut-NYA dalam menyikapi segala pemberian dari-NYA. Sungguh indah bila mengingat pernyataan mulia dari kekasih Allah Muhammad SAW, ‘Doa yang paling afdal adalah doa di hari arafah’.
Menjelang terbenam matahari Arafah, kami keluar dari tenda. Tersentak hati semakin haru, pemandangan yang dihamparkan di depanku ini adalah pemandangan yang pernah diilhamkan-NYA pada salah satu mimpiku beberapa saat yang lalu. Persis sekali. Pertanyaan yang sempat terlontar dalam mimpiku saat itu, kini terjawablah sudah, ini adalah Arafah…  miniatur padang mahsyar, tempat manusia dikumpulkan di hari pertanggungjawaban. Semoga kami termasuk dalam golongan yang mendapatkan naungan di saat-saat tidak ada naungan lain kecuali naungan Allah. Semakin turun matahari, semakin deras doa kami panjatkan. Seakan kami tidak hendak membiarkan sedetikpun kami lewatkan dalam hari yang dikhususkan ini, ketidakrelaan untuk membiarkan momen-momen luar biasa ini membuat air mata semakin deras. Ya Robbi,.. ya Robbi.

Filsuf Iran, Ali Syariati melambangkan Padang Arafah antara "kearian" dan "cinta". Nabi Adam dilukiskan sebagai anak manusia yang arif, meski digoda setan, tetap tidak tergoyahkan. Ibu Hawa melambangkan "cinta". Sangking cintanya, nabi Adam pada ibu Hawa, nabi Adam larut dalam ajakan ibu Hawa yang sudah dipengaruhi iblis, untuk makan buah kuldi. Padahal nabi Adam tahu bahwa itu dilarang Allah.

Makna Kedua, perjuangan Rasulullah melawan musuh Islam. Meski banyak tentara dan pejuang Islam dibuang di Padang Arafah (musuh Islam menganggap pejuang Islam yang dibuang tersebut tidak mungkin hidup, karena dilepas di bukit-bukit yang gersang dan tandus). Dalam kenyataannya tidak sedikit pejuang Islam yang bangkit untuk mengatur strategi melawan musuh-musuh Islam. Makna yang saya pahami dari sejarah Islam di Arafah ini adalah manusia tidak boleh pasrah, putus asa dan menyerah, meski dalam posisi dibuang oleh lawan-lawannya (bisnis atau politik).

Umatku, dengarkanlah kata-kataku dan ingatlah akan kata-kataku ini! Aku telah memberikan kepada kalian segalanya. Telah aku tinggalkan undang-undang yang harus kalian jaga kelestariannya dan patuhlah kepada undang-undang itu yaitu kita Allah dan sunnah (segala tindakan nabi).

Nabi Muhammad SAW mangkat pada 12 Rabiul-awwal, 11 Hijriah atau tahun 632 Masehi. Pesan Rasulullah mengandung nilai moral yang mendalam tentang Hak Asasi Manusia (HAM), keadilan, ketaatan pada Al Qur'an dan hadits. Disamping ajakan moral kepada setiap manusia untuk mengasihi wanita yang dilukiskan lemah dan butuh perlindungan. Wanita tak boleh dianiaya. Wanita tidak boleh didholimi. Wanita tidak boleh diabaikan, karena wanita adalah teman pria. Pesan moral rasulullah ini mengingatkan kita pada peradaban manusia pertama, saat Adam yang sendirian di bumi bertemu Hawa, untuk menjadi teman hidup, sehingga memberi keturunan sampai sekarang.

Makna ketiga, mengenal monumen alam. Padang Arafah sejak dulu terdiri bukit-bukit dari batu yang kering dan tandus. Di sana, kini memang sudah ditumbuhi pohon-pohon hijau seperti di pulau Jawa, gambaran ketandusan masih terwujud. Oleh karena itu, memungkinkan setiap jamaah haji memberi penafsiran-penafsiran ritual selama di Arafah. Selain sejarah Islam, juga doa Wukuf yang berisi pertaubatan sampai pengharapan hidup sejahtera dunia-akhirat, memberi ruang kepada semua jamaah untuk memetik hikmah, nilai moral dan filosofi perjuangan para nabi ketika itu.

Bagi saya, makna Wukuf yang hanya "setengah hari siang", melukiskan sebagai kehidupan dunia yang sebentar, sesaat dan sementara. Kehidupan yang abadi (lama) adalah di akhirat (surga bagi haji mabrur). Bus yang mengangkut rombongan usai magrib bergerak untuk mabit di Muzdalifah. "...Maka apabila engkau telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Mahsyar al-Haram. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah SWT sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya engkau sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sehat." (Al Baqarah 2:198).
Ikhtitam
خَيْرُ الدُّعاءِ دُعاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَناَ وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Sebaik-baik doa adalah doa hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa 'ala kulli syaiin qadir." [HR. at-Tirmidzi no. 3585, dihukumi shahih oleh al-Albani]
Proses penyadaran diri secara individual ini suatu hal yang penting dilakukan oleh manusia. Sebab sewaktu terlahir di atas dunia dahulu, setiap anak manusia berada dalam keadaan fitrah (suci), akan tetapi seiring perjalanan waktu, diri manusia menjadi ternodai dan kotor akibat perbuatan dosa yang dilakukan baik disengaja ataupun tidak, baik nyata maupun tersembunyi. Baik dosa kepada Tuhan maupun dosa kepada sesama manusia. Karena itu momentum wukuf di padang Arafah yang merupakan miniatur situasi di padang mahsyar di alam akhirat nanti merupakan kesempatan yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk evaluasi diri.
Sumber:1.http://surabayapagi.com
2.https://tuansufi.wordpress.com
3.http://www.antaranews.com
Jakarta 23/9/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman