Rabu, 30 September 2015

MUSIBAH HAJI





MUSIBAH HAJI YANG BERUNTUN ?


وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ٢:١٥٥
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ٢:١٥٦
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ ٢:١٥٧

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". [al Baqarah/2:155-157]

Muqaddimah
Semua ini dan bencana lain yang serupa, merupakan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala bagi para hamba-Nya. Barangsiapa bersabar, niscaya akan memperoleh pahala. Dan orang yang putus asa, akan ditimpa hukuman-Nya. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengakhiri ayat ini dengan berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

"(Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar)".[4]

Maksudnya, berilah kabar gembira atas kesabaran mereka. Pahala kesabaran tiada terukur. Akan tetapi, pahala ini tidak dapat dicapai, kecuali dengan kesabaran pada saat pertama kali mengalami kegoncangan (karena tertimpa musibah).[5]

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan kriteria orang-orang yang bersabar. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"(Yaitu), orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un".

Kata-kata
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" inilah, dikenal dengan istilah istirja’, yang keluar dari lisan-lisan mereka saat didera musibah.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,"Mereka menghibur diri dengan mengucapkan perkataan ini saat dilanda (bencana) dan meyakini, bahwa mereka milik Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dia (Allah Subhanahu wa Ta'ala) berhak melakukan apa saja terhadap ciptaan-Nya. Mereka juga mengetahui, tidak ada sesuatu (amalan baik) yang hilang di hadapan-Nya pada hari Kiamat. Musibah-musibah itu mendorong mereka mengakui keberadaanya sebagai ciptaan milik Allah, akan kembali kepada-Nya di akhirat kelak.”[6]
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ

"(Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya)".

Betapa besar balasan kebaikan yang diperoleh orang-orang yang mampu bersabar, menahan diri dalam menghadapi musibah dari Allah, Dzat yang mengatur alam semesta ini.

Kata Imam al Qurthubi rahimahullah : “Ini merupakan rangkaian kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala bagi orang-orang yang bersabar dan mengucapkan kalimat istirja’. Yang dimaksud "shalawat" dari Allah bagi hamba-Nya, yaitu ampunan, rahmat dan keberkahan, serta kemuliaan yang diberikan kepadanya di dunia dan di akhirat. Sedangkan kata "rahmat" diulang lagi, untuk menunjukkan penekanan dan penegasan makna yang sudah disampaikan”. [8]

Imam ath-Thabari mengartikannya dengan makna maghfirah (ampunan)[9]. Sedangkan menurut Ibnu Katsir rahimahullah maknanya ialah, mereka mendapatkan pujian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.[10]

وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

"(dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk)".

Disamping karunia yang telah disebutkan, mereka juga termasuk golongan orang-orang muhtadin (yang menerima hidayah), berada di atas kebenaran. Mengatakan ucapan yang diridhai Allah, mengerjalan amalan yang akan membuat mereka menggapai pahala besar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala [11]. Dalam konteks ini, yaitu keberhasilan mereka bersabar karena Allah.[12]
Tragedi Mina ?
MUSIBAH pada musim haji tahun ini jatuhnya alat berat (crane) di Masjidil Haram dan kecelakaan Mina, bagi Iran dan Syiah — melalui media-medianya — jika diamati seperti sesuatu yang ‘istimewa’.
Reaksi yang diperlihatkan Iran cukup mudah dibaca: menyerang Saudi Arabia. Secara politis, dua negara ini memang berseteru. Tapi tidak-lah etis sampai memanfaatkan musibah haji ini untuk tujuan-tujuan politis.
Namun, ternyata itu bukan sekedar kritikan biasa. Setelah mencermati berita-berita media, dan statemen tokoh Iran dan ulama Syiah, penulis kemudian menilai ada sesuatu yang aneh dan tidak wajar lagi.
Hampir semua statemen berisi kecaman, kemarahan dan sampai perlu menyebarkan data-data hoax. Seakan-akan berambisi supaya pengelolaan tanah haramain dan ibadah haji tidak dipercayakan lagi kepada Saudi Arabia. Ada apakah semua ini?
Cermatilah komentar ini; “Muslimin dunia dengan persatuan dan seluruh kemampuan yang dimiliki, harus menyelamatkan Mekah dan Madinah, keyakinan, manasik, nyawa, harta dan kehormatan Muslimin dari tangan rezim boneka Barat ini”.
Pernyataan ini disampaikan Dewan Koordinasi Penyiaran Islam Iran, seperti dikutip indonesia.irib.ir pada Jum’at 25 September 2015.
Di portal yang sama, seorang tokoh Iran Ayatullah Mohammad Yazdi mengungkapkan kekecewaan atas pengelolaan haji oleh Saudi Arabia dan meminta pengelolaan haji ditangani bersama oleh negara-negara Islam.
Portal tersebut juga mengutip stateman Dewan Koordinasi Penyiaran Islam Iran yang mengumpat Saudi sebagai antek Zionis.
Dalam situs pribadinya ia mengaku, Iran akan membangkitkan kerusuhan selama musim haji berlangsung.
Hasil penyelidikan sementara kasus kecelakaan Mina juga ditemui keganjilan. Sebuah media besar di Timur Tengah Asharq Al-Awsat melaporkan bahwa insiden itu dipicu kacaunya jamaah haji Iran dalam perjalanan melaksanakan lempar jumrah. Koran itu menulis: “pelanggaran itu dimulai ketika sebanyak 300 jamaah Iran mulai bergerak dari Muzdalifa langsung menuju Jamarat, bukannya menuju kamp mereka dulu sebagaimana umumnya yang dilakukan oleh jamaah haji, untuk menunggu jadwal rombongan mereka. Mereka kemudian bergerak ke arah yang berlawanan di jalan 203 di mana insiden menyakitkan itu terjadi.”
Sesuai pedoman, 300 jamaah Iran ini tidak menunggu di kamp mereka sampai waktu yang telah ditetapkan. Kelompok ini malah memutuskan untuk kembali dari arah berlawanan yang juga bertepatan dengan gerakan kelompok lain sesuai dengan jadwal mereka untuk melempar jumrah, sehingga tragedi itu terjadi, kata situs Sabq.org, sebagaimana dilansir oleh Arab News.
Jalan 204, tempat terjadinya jamaah berdesak-desakan itu dikabarkan ternyata bukan jalur utama untuk jamaah yang akan melempar jumrah. Pertanyaannya adalah, kenapa ada ratusan — ada yang menyebut sampai puluhan ribu — jamaah haji Iran yang berada di situ lalu berbalik arah sehingga bertabrakan dengan jamaah haji lain?
Kejahatan Anti Arab Bukan kali ini jamaah haji Iran membuat kekacauan selama pelaksanaan ibadah haji. Kita pun jadi ingat statemen mantan diplomat Iran: “kita membangkitkan kerusuhan selama musim haji berlangsung”.
JAMAAH haji asal Iran yang beraliran syiah memang harus diwaspadai. Pada musim haji tahun 1986, pihak keamanan Arab Saudi berhasil mengamankan bahan peledak yang dibawa jamaah haji Iran memasuki Makkah. Lalu, setahun berikutnya jamaah Iran mengotori kesucian ibadah haji dengan mengadakan demo yang berakhir dengan kerusuhan dan korban berdarah.
Kira-kira apa yang mereka inginkan ketika pergi ke tanah yang disucikan umat Islam? Di saat semua jamaah haji seluruh dunia khusyu’, menangis syahdu saat menginjakkan kaki di tanah suci, mereka malah mengadakan kerusuhan. Banyak kaum Muslimin yang sebelum berangkat ke tanah suci banyak maksiat dan bukan orang alim, tapi begitu menyaksikan Ka’bah dan Masjid Nabawi, hati mereka langsung terpaut dengan Allah. Tanpa sadar manangis. Seperti sangat dekat dengan kehadirat Allah. Namun jamaah haji Iran tersebut membuat kerusuhan. Bukan menangis syahdu, tapi berteriak-teriak mengumpat Arab.
Pada zaman dahulu, jamaah haji Syiah lebih jahat lagi. Ibnu Katsir, imam ahli tafsir kenamaan, mencatat kejahatan itu. Jamaah Syiah menyerang kafilah yang baru menunaikan Ibadah haji dari Makkah. Mereka membunuhi kaum lelaki dan menawan kaum wanita. Meramapas harta mereka yang lebih dari 1 juta dinar. Bahkan mencopot Hajar Aswad dibawa ke kerajaan mereka (Ibn Katsir al-Syafi’i, Al-Bidayah wa al-Nihayah, juz XI, h. 149).
Dari sini lah makin terungkap ketidak wajaran protes Iran terhadap pelaksanaan haji. Protesnya tidak terbaca sebagai ungkapan rasa cinta kepada tanah Haramain, tapi terlihat kebencian kepada Arab.
Sentimen Syiah terhadap Arab sudah berlangsung lama. Ada dugaan mereka hasud terhadap Ka’bah yang menjadi pusat kaum Muslimin dunia dikelola oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Ada dua masalah besar dalam hal ini.
Pertama, Syiah meyakini tanah Karbala lebih suci dari Haramain. Dalam kitab rujukan mereka, tercantum sebuah riwayat tentang keutamaan ziarah ke tanah Karbala di Iraq lebih dari ibadah haji ke Makkah. “Sesungguhnya ziarah (berkunjung) ke kubur Husein sebanding dengan (pahala) haji sebanyak 20 kali. Dan lebih utama dari 20 kali umrah dan 1 kali haji.” (Ya’kub al-Kulaini, Furu’ al-Kafi jilid 1, hal. 324).
Jadi, saya menjadi paham kenapa tahun 80-an jamaah haji Iran berani mengadakan demo, karena Makkah tidak lebih suci daripada tanah Karbala.
Kedua, Iran juga tidak mampu mengurus asset-aset Ahlus Sunnah di negaranya sendiri. Membangun masjid dan madrasah Ahlus Sunnah di Teheran (ibu kota Iran) sangat sulit. Faktanya, Iran pada tahun 1982 pernah menyegel Masjid Ham Tareeth di negara bagian Khurasan. Masjid yang berjasa untuk mensyiarkan dakwah Islam itu dinilai berbahaya dan secara arogan dirubah negara menjadi pusat Garda Revolusi.
Tidak berhenti disitu, Masjid Lakour sekaligus Sekolah dekat kota Jabahar juga rata oleh kekejian Syiah pada tahun 1987.
Berabad-abad lamanya, Iran ini merupakan daerah Ahlus Sunnah lalu kini menjadi negara berpaham Syiah. Apakah asset-aset Ahlus Sunnah tetap terjaga?
Banyak ulama, pemikiran dan sufi yang lahir di Persia. Lantas, bagaimana kabar makam-makam, masjid dan peninggalan-peninggalan lainnya para ulama Ahlus Sunnah di sana sekarang?* Oleh: Ahmad Kholili Hasib(Penulis adalah anggota MIUMI Jawa Timur)
Hidayatullah.com—Musibah Mina yang terjadi hari Kamis (24/09/2015) menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa yang saat ini mungkin masih akan terus bertambah.
Diantara korban luka yang dirawat di beberapa rumah sakit Arab Saudi ternyata ada yang berasal dari Iran. Para jamaah haji Iran yang terluka tersebut, mendapatkan fasilitas pengobatan dan kepedulian pemerintah Arab Saudi.
Dikutip laman alriyadh.com dari islammemo, Senin (28/09/2015), beberapa haji asal Iran yang menjadi korban peristiwa Mina menyampaikan ucapan terima kasih pada Arab Saudi atas pelayanan selama ibadah haji.
Mereka begitu terkejut dan tidak mengira kalau pemerintah Arab Saudi akan memberikan pengobatan gratis.
Sementara itu salah satu haji asal Iran lainnya merasa heran, mengapa media di Iran tidak ada yang memberitakan pengobatan. Ia yakin, seandainya ia berobat di Iran, pasti akan mengeluarkan biaya yang banyak.
Protes pemerintahan Iran atas musibah Mina saat ibadah haji mendapat tanggapan  Alwi Shihab, utusan khusus Presiden Joko Widodo untuk Timur Tengah.
Menurut Alwi, pemerintah Kerajaan Arab Saudi sudah berusaha maksimal memberikan pelayanan terbaiknya.
“Antisipasi sudah dilakukan pemerintah Arab Saudi dengan mengatur jadwal. Bangunan tempat melempar jumrah juga sudah ditambah jadi tiga tingkat. Kejadian Mina lebih karena tidak disiplinnya jamaah,” ujar Alwi kepada wartawan saat menghadiri Hari Ulang Tahun Kerajaan Arab Saudi yang ke-84 di Dian Ballroom, Raffles, Ciputra World I, Jakarta, Selasa, (29/9/2015) malam.
Ketika wartawan menanyakan soal jamaah Iran yang dituding sebagai penyebab tragedi Mina, kata Alwi, “Iran sendiri tidak mengaku. Jangan diikuti informasi yang tidak jelas. Itu politik. Ini kejadian diluar prediksi. Saudi sudah berusaha maksimal memberi pelayanan terhadap jamaah haji dari seluruh dunia. Jangan menuding yang lain ya!” ujar Alwi, yang pernah menjabat menteri luar negeri di pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.
Sumber:1.http://almanhaj.or.id
2.http://www.hidayatullah.com
Jakarta 30/9/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman