Rabu, 26 Agustus 2015

ULAMA DAN UMARA





PERAN ULAMA DAN UMARA ?

Allah berfirman dalam surat An-Nisaa:59:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوااللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِيالْأَمْرِ مِنْكُمْ
“ Hai orang-orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada rasul dan ulil amri kalian.”
Allah berfirman dalam surat Al-Anfal: 46:
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“ Dan taatlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian saling berselisih, karena akan menyebabkan kalian akan menjadi lemah dan hilang kekuatan, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِىٌّ
“Dengar dan taatlah kalian kepada pemimpin kalian, walaupun dia seorang budak Habsy.” (HR. Bukhari)

Muqaddimah
Ulama dan umara adalah pasangan pemuka masyarakat yang utama. Ulama, kosakata bahasa Arab, bentuk jamak dari kata alim. Artinya orang yang berpengetahuan, ahli ilmu, orang pandai. Dalam bahasa Indonesia menjadi bentuk tunggal; orang yang ahli ilmu agama Islam. Kata ulama sepadan dengan ulul albab dalam Al-Qur'an; orang yang arif. Umara, bentuk jamak dari kata amir, artinya pemimpin, penguasa. Kosakata amir sepadan dengan ulul amri dalam Al-Qur'an yang artinya orang yang mempunyai pengaruh, kekuasan; orang yang memangku urusan rakyat; penguasa.

Kata ulama terdapat dalam Al-Qur'an surat Asy-Syu’ara‘ dan Fathir berikut. "Bukankah itu suatu bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil sudah mengetahuinya sebagai suatu kebenaran?" (Asy-Syu’araa‘ [26]: 197)

Konteks ayat di atas bahwa banyak kalangan ulama Yahudi yang mengakui ajaran Nabi Muhammad saw itu ajaran yang datang dari Allah SwT, seperti Abdullah bin Salam dan Mukhayriq. Yang disebut terakhir ini orang kaya, yang mewariskan segala kekayaannya untuk Islam.

"Dan demikian pula di antara manusia, binatang melata dan hewan ternak, terdiri dari berbagai macam warna. Sungguh yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba- hamba-Nya, hanyalah ula- ma; mereka yang berpengetahuan. Sungguh Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun. (Fathir [35]: 28).
Ulama Pewaris Para Nabi ?
1."Allah memberi hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa diberi hikmah, ia telah memperoleh kebaikan melimpah; tetapi yang dapat mengambil pelajaran hanya orang yang arif." (Al-Baqarah [2]: 269)
2."Wahai Nabi! Sungguh Kami mengutus engkau sebagai saksi, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan sebagai orang yang mengajak kepada Allah dengan izin-Nya, dan sebagai pelita pemberi cahaya. Dan sampaikanlah berita gembira kepada  orang-orang beriman, bahwa mereka akan memperoleh karunia yang besar dari Allah." (Al-Ahzab [33]: 45-47)

3."Seharusnya jangan semua kaum mukmin berangkat bersama-sama: Dari setiap golongan sekelompok mereka ada yang tinggal untuk memperdalam ajaran agama dan memberi peringatan kepada golongannya bila sudah kembali, supaya mereka dapat menjaga diri."(At-Taubah [9]: 122)
4."Hai orang-orang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasulullah dan mereka yang memegang kekuasaan di antara kamu. Jika kamu berselisih mengenai sesuatu kembalikanlah kepada Allah dan Rasul- Nya, kalau kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Itulah yang terbaik dan penyelesaian yang tepat." (An-Nisaa‘ [4]: 59)
5."Hai Daud! Kami jadikan engkau penguasa di bumi, laksanakanlah hukum di antara manusia berdasarkan kebenaran dan keadilan, dan janganlah memperturutkan hawa nafsu, karena itu akan menyesatkan kau dari jalan Allah. Sungguh, orang yang tersesat dari jalan Allah akan mendapat hukuman berat, sebab mereka lupa akan hari perhitungan." (Shaad [38]: 26)
6."Inna ahabbannaasi ilallaahi yaumal qiyaamati wa adnaahum minhu majlisan imaamun ‘aadilun wa abghadhunnaasi ilallaahi wa ab’aduhum minhu majlisan imaamun jaa`ir – Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah dan paling dekat dengan-Nya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adi, dan orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh tempatnya dari- Nya adalah pemimpin yang dlalim". (HR Tirmidzi).
Amanat buat Umara ?
Tugas umara adalah menyelenggarakan pemerintahan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat. Menurut al- Mawardi, kewa
jiban pemimpin meliputi 10 poin: (1) menjaga penerapan agama yang benar; (2) menerapkan hukum dalam setiap permasalahan yang terjadi dengan cara yang adil; (3) melindungi keamanan negara sehingga rakyat dapat beraktivitas dengan bebas dan tidak dihantui ketakutan; (4) menegakkan hukum pidana sehingga hakhak warga terlindungi; (5) menjaga perbatasan negara dengan sistem keamanan yang baik sehingga dapat menangkal serangan musuh; (6) jihad untuk memerangi musuh; (7) mengambil pajak dan zakat dari warga sesuai dengan ketentuan syariat; (8) mendistribusikan dana baitul mal dengan
baik dan tepat pada waktunya; (9) mempekerjakan orang-orang yang amanah dan kapabel dalam bidangnya; (10) memantau langsung perkembangan yang terjadi pada warganya dan tidak hanya memercayakannya kepada wakilnya agar dapat memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati dunia atau untuk beribadah.

Amanat buat Ulama ?
Para pakar Muslim, para pemuka agama dan para pemangku dakwah pada saat ini memperoleh panggilan kembali untuk:  (1) membacakan ayat-ayat Allah; (2) menyucikan pikiran dan akhlak manusia; (3) mengajarkan kitab Allah; (4) mengajarkan hikmah; (5) mengajarkan pengetahuan. Suatu panggilan yang mulia untuk melakukan emansipasi kemanusiaan sesuai dengan fitrah manusia dan sikapnya yang hanif.
"Sebagaimana nikmat yang sudah kamu terima, Kami telah mengutus di kalangan kamu seorang Rasul dari golongan kamu sendiri, membacakan  ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Kitab dan Hikmah dan mengajarkan kepadamu apa yang tidak kamu ketahui." (Al-Baqarah [2]: 151)
Peran Para Ulama ?
Pertama: pewaris para nabi. Tentu, yang dimaksud dengan pewaris nabi adalah pemelihara dan menjaga warisan para nabi, yakni wahyu/risalah, dalam konteks ini adalah al-Quran dan Sunnah.  Dengan kata lain, peran utama ulama sebagai pewaris para nabi adalah menjaga agama Allah Swt. dari kebengkokan dan penyimpangan. Hanya saja, peran ulama bukan hanya sekadar menguasai khazanah pemikiran Islam, baik yang menyangkut masalah akidah maupun syariah, tetapi juga bersama umat berupaya menerapkan, memperjuangkan, serta menyebarkan risalah Allah.
Kedua: pembimbing, pembina dan penjaga umat. Pada dasarnya, ulama bertugas membimbing umat agar selalu berjalan di atas jalan lurus. Ulama juga bertugas menjaga mereka dari tindak kejahatan, pembodohan, dan penyesatan yang dilakukan oleh kaum kafir dan antek-anteknya; melalui gagasan, keyakinan, dan sistem hukum yang bertentangan dengan Islam.
Ketiga: pengontrol penguasa. Peran dan fungsi ini hanya bisa berjalan jika ulama mampu memahami konstelasi politik global dan regional. Ia juga mampu menyingkap makar dan permusuhan kaum kafir dalam memerangi Islam dan kaum Muslim. Dengan ungkapan lain, seorang ulama harus memiliki visi politis-ideologis yang kuat, hingga fatwa-fatwa yang ia keluarkan tidak hanya beranjak dari tinjauan normatif belaka, tetapi juga bertumpu pada konteks ideologis-politis. Dengan demikian, fatwa-fatwanya mampu menjaga umat Islam dari kebinasaan dan kehancuran, bukan malah menjadi sebab malapetaka bagi kaum Muslim. Misalnya, fatwa yang dikeluarkan oleh syaikhul Islam mengenai bolehnya kaum Muslim mengadopsi sistem pemerintahan demokrasi dan perundang-undangan Barat pada akhir Kekhilafahan Islam.  Fatwa ini tidak hanya keliru,  tetapi juga menjadi penyebab kehancuran Khilafah Islamiyah. Fatwa ini muncul karena lemahnya visi politis-ideologis ulama pada saat itu.
Keempat: sumber ilmu. Ulama adalah orang yang fakih dalam masalah halal-haram. Ia adalah rujukan dan tempat menimba ilmu sekaligus guru yang bertugas membina umat agar selalu berjalan di atas tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dalam konteks ini, peran sentralnya adalah mendidik umat dengan akidah dan syariah Islam. Dengan begitu, umat memiliki kepribadian Islam yang kuat; mereka juga berani mengoreksi penyimpangan masyarakat dan penguasa.
Fungsi Ulama ?
Ulama sesuai fungsinya sebagai pemberi fatwa doktrin keagamaan sejatinya harus mengajarkan ilmu yang sesuai dengan ajaran syariat agama Islam dengan menjunjung tinggi keagungan agama dan harkat  martabat manusia.
Dalam hubungan ini ulama di Jember Jawa Timur, khususnya Kiai-kiai di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) setempat memiliki beberapa pemikiran dan langkah strategis.
Pertama, bahwa manusia dalam bahasa Arab artinya "Insan", dari asal kata Anas, Anis, Anisa. Insan artinya harmoni, intim, akrab, bersahabat, saling menyukai, dan mencintai.
Jadi, di pundak manusia ada amanah yang harus diimplementasikan, yakni  "insaniyah", kemanusian yang harus hidup harmonis, ramah, saling menghormati, menghargai, dan mencintai. Oleh karena itu “Ikrohâ€
 (kekerasan), “Syiddah” (radikal), “Tatharruf” (ekstrim), dan “Irhab” (teror) adalah jelas merupakan musuh insaniyah.

Kedua, memberi pemahaman Islam “rahmatan lil ‘alaminâ€
 (rahmat bagi sekalian alam). Islam bukan hanya agama teologi dan ritual ibadah. Islam adalah agama ilmu pengetahuan, agama peradaban, agama budaya dan agama kemanusian, termasuk jangan sampai salah dalam memberi pemahaman tentang jihad dalam Islam.
Ketiga, pondok pesantren yang ada dibawah naungan NU dijamin tidak mengajarkan terorisme. Kalau misalnya ada pondok pesantren yang mungkin terlibat terorisme, jelas itu bukan pesantren NU, tapi mungkin pesantren yang didirikan dengan sponsor pihak tertentu.
Keempat, NKRI dan Pancasila merupakan keputusan final yang wajib kita pertahankan. Kelima, perlunya langkah dialogis dengan kelompok-kelompok yang memiliki perbedaan pandangan dengan ajaran Ahlussunnah wal jama’ah.
Sumber:1.http://bogor.antaranews.com
2.http://hizbut-tahrir.or.id 3.http://malang.muhammadiyah.or.id
Jakarta 26/8/2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman