Jumat, 31 Juli 2015

MAKNA IKHLAS




HUKUM IKHLAS beramal ?



ؤما امر الا ليعبد الله مخلصين له الدين حنفاء
Artinya :“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan kethaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”.(al-Bayyinah:5)
اِنَّ اللهَ لَايُقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ اِلَّا مَاكَانَ لَهُ خَالِصاً وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
Artinya :
"sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali yang mengerjakannya secara ikhlas, dan mencari hanya ridhanya" (HR. An-Nasai dari Abu Umamah al-bahili).
إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ مانوي . فمن كانت هجرته الي الله ورسوله فهجرته الي الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلي ما هاجر إليه
“Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari [Kitab Bad’i al-Wahyi, hadits no. 1, Kitab al-Aiman wa an-Nudzur, hadits no. 6689] dan Muslim [Kitab al-Imarah, hadits no. 1907])


Muqaddimah
Berkenaan dengan niat,sebagian ulama mendefinisikan niat menurut syara sebagai berikut :
النية هي قصد فعل شيئ مقتر نا بفعله
Artinya : Niat adalah menyengajakan untuk berbuat sesuatu disertai dengan perbuatan-perbuatannya.
عن ابي هريرةعبدالرحمن بن صخر رضي الله عنه قال : قا ل رسول الله صلي الله عليه وسلم : ان الله تعالي لا ينظر الي اجسا مكم ولا الي صوركم ولكن  ينظرالى قلوبكم (رواه مسلم)
Artinya : Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin sakhr r.a,berkata bahwasanya Rasullullah saw. telah bersabda : Sesungguhnya Allah SWT. tidak melihat bentuk badan dan rupamu, tetapi melihat (memperhatikan niat dan keikhlasan) hatimu. (H.R Muslim)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Tahun ibarat sebatang pohon sedangkan bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, jam-jam adalah daun-daunnya dan hembusan nafas adalah buah-buahannya. Barang siapa yang pohonnya tumbuh di atas kemaksiatan maka buah yang dihasilkannya adalah hanzhal (buah yang pahit dan tidak enak dipandang, pent) sedangkan masa untuk memanen itu semua adalah ketika datangnya Yaumul Ma’aad (kari kiamat). Ketika dipanen barulah akan tampak dengan jelas buah yang manis dengan buah yang pahit. Ikhlas dan tauhid adalah ‘sebatang pohon’ di dalam hati yang cabang-cabangnya adalah amal-amal sedangkan buah-buahannya adalah baiknya kehidupan dunia dan surga yang penuh dengan kenikmatan di akherat. Sebagaimana buah-buahan di surga tidak akan akan habis dan tidak terlarang untuk dipetik maka buah dari tauhid dan keikhlasan di dunia pun seperti itu. Adapun syirik, kedustaan, dan riya’ adalah pohon yang tertanam di dalam hati yang buahnya di dunia adalah berupa rasa takut, kesedihan, gundah gulana, rasa sempit di dalam dada, dan gelapnya hati, dan buahnya di akherat nanti adalah berupa buah Zaqqum dan siksaan yang terus menerus. Allah telah menceritakan kedua macam pohon ini di dalam surat Ibrahim.” (Al Fawa’id, hal. 158).
Pentingnya Niat ?
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian orang yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk: 2)
al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menafsirkan makna ‘yang terbaik amalnya’ yaitu ‘yang paling ikhlas dan paling benar’. Apabila amal itu ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Begitu pula apabila benar tapi tidak ikhlas, maka juga tidak diterima. Ikhlas yaitu apabila dikerjakan karena Allah. Benar yaitu apabila di atas sunnah/tuntunan (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyat al-Auliya’ [8/95] sebagaimana dinukil dalam Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 50. Lihat pula Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19)
Mutharrif bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Baiknya hati dengan baiknya amalan, sedangkan baiknya amalan dengan baiknya niat.” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19). Ibnu al-Mubarak rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak pula amal besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19)
Seorang ulama yang mulia dan sangat wara’ (berhati-hati) Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada niatku.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 19)
Pada suatu ketika sampai berita kepada Imam Ahmad bahwa orang-orang mendoakan kebaikan untuknya, maka beliau berkata, “Semoga saja, ini bukanlah bentuk istidraj (yang membuatku lupa diri).” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)
Sahnya Amal benarnya Niat ?
Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa niat merupakan timbangan penentu kesahihan amal. Apabila niatnya baik, maka amal menjadi baik. Apabila niatnya jelek, amalnya pun menjadi jelek (Syarh Arba’in li an-Nawawi, sebagaimana tercantum dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 26).
Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Bukhari mengawali kitab Sahihnya [Sahih Bukhari] dengan hadits ini dan dia menempatkannya laiknya sebuah khutbah [pembuka] untuk kitab itu. Dengan hal itu seolah-olah dia ingin menyatakan bahwa segala amal yang dilakukan tidak ikhlas karena ingin mencari wajah Allah maka amal itu akan sia-sia, tidak ada hasilnya baik di dunia maupun di akhirat.” (Jami’ al-‘Ulum, hal. 13)
Ibnu as-Sam’ani rahimahullah mengatakan, “Hadits tersebut memberikan faedah bahwa amal-amal non ibadat tidak akan bisa membuahkan pahala kecuali apabila pelakunya meniatkan hal itu dalam rangka mendekatkan diri [kepada Allah]. Seperti contohnya; makan -bisa mendatangkan pahala- apabila diniatkan untuk memperkuat tubuh dalam melaksanakan ketaatan.” (Sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fath al-Bari [1/17]. Lihat penjelasan serupa dalam al-Wajiz fi Idhah Qawa’id al-Fiqh al-Kulliyah, hal. 129, ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 39-40)
Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan, hadits ini juga merupakan dalil yang menunjukkan tidak bolehnya melakukan suatu amalan sebelum mengetahui hukumnya. Sebab di dalamnya ditegaskan bahwa amalan tidak akan dinilai jika tidak disertai niat [yang benar]. Sementara niat [yang benar] untuk melakukan sesuatu tidak akan benar kecuali setelah mengetahui hukumnya (Fath al-Bari [1/22]).
Menurut Sayyidina Ali r.a tanda-tanda orang riya ada tiga, yaitu
1.  Malas beramal kalau sendirian;
2.  Semangat beramal kalau dilihat banyak manusia;
3.  Amalnya bertambah banyak jika dipuji oleh manusia dan berkurang jika dicela manusia.
Syaqiq bin ibrahim yang diikuti oleh Abu Laits Samarqandi, berpendapat bahwa ada 3 perkara yang menjadi benteng amal, yaitu :
1.  Hendaknya mengakui bahwa amal ibadahnya adalah pertolongan dari Allah SWT. agar penyakit ujub dalam hatinya hilang.
2.  Semata-mata hanya mencari ridho Allah SWT. agar hawa nafsunya teratur
3.  Senantiasa hanya mengharapkan ridho Allah SWT. agar timbul rasa tamak dan iri.
Ikhtitam
عن محمودابن لبيد قال : قا ل رسول الله صلي الله عليه وسلم : ان اخوف ما اخا ف عليكم الشرك الاصغر : (اخرجه احمد با لسنا حسن))
Artinya : “ Dari Mahmud bin Lubaid ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda : sesuatu yang paling aku khawatirkan diantara kamu adalah syirik kecil,yaitu riya.” (H.R Ahmad dengan sanad Hasan).
Sumber:1.http://nisaareal.blogspot.com
2.http://muslim.or.id
Jakarta 30/7/2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman