Selasa, 14 Juli 2015

HUKUM HALAL BI HALAL




MEMAKNAI HALAL BI HALAL ?

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Asy-Syura: 40)
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُواْ إِلاَّ بِحَبْلٍ مِّنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ .... ﴿ال عمران : ١١٢﴾
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia…" (Ali Imran: 112)
عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَاََََ
Dari al-Bara’ (bin ‘Azib) ia berkata: Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam– bersabda: “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan keduanya sudah diampuni sebelum berpisah.” (HR. Abu Dawud no. 5.212 dan at-Tirmidzi no. 2.727, dihukumi shahih oleh al-Albani)
Muqaddimah
Kata majemuk ini tampaknya memang ‘made in Indonesia’. Kata halal bihalal justru diserap Bahasa Indonesia dan diartikan sebagai “hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dsb) oleh sekelompok orang dan merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia.”
Penulis Iwan Ridwan menyebutkan bahwa halal bihalal adalah suatu tradisi berkumpul sekelompok orang Islam di Indonesia dalam suatu tempat tertentu untuk saling bersalaman sebagai ungkapan saling memaafkan agar yang haram menjadi halal. Umumnya kegiatan ini diselenggarakan setelah melakukan salat Idul Fitri.[2] Kadang-kadang, acara halal bihalal juga dilakukan di hari-hari setelah Idul Fitri dalam bentuk pengajian, ramah tamah atau makan bersama.
Asal muasal halal bi halal ?
Sangat sulit menentukan awal mula tradisi Halal bi Halal ini digelar. Drs H Ibnu Djarir menulis bahwa sejarah dimulainya Halal bi Halal ada banyak versi. Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Keraton Surakarta, kegiatan ini mula-mula digelar oleh KGPAA Mangkunegara I, yang masyhur dipanggil Pangeran Sambernyawa. Dalam rangka menghemat waktu, tenaga, fikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.

Pada perkembangannya, kegiatan ini ditiru oleh Ormas-Ormas Islam dengan nama Halal bi Halal. Kemudian ditiru juga oleh instansi-instansi tertentu. Kegiatan ini mulai ramai berkembang setelah pasca-Kemerdekaan RI. Dan biasanya dilaksanakan tidak hanya pada tanggal 1 Syawal saja, melainkan juga pada hari-hari berikutnya yang masih hangat dengan nuansa Idul Fitri.
Merujuk kepada keterangan Prof Dr Quraish Shihab, bahwa istilah Halal bi Halal adalah bentuk kata majemuk yang pemaknaannya dapat ditinjau dari dua sisi: sisi hukum dan sisi bahasa. Pada tinjauan hukum, halal adalah lawan dari haram. Jika haram adalah sesuatu yang dilarang dan mengundang dosa, maka halal berarti sesuatu yang diperbolehkan dan tidak mengundang dosa. Dengan demikian, Halal bi Halal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa, menjadi halal dengan jalan mohon maaf.
Faedah Halal Bi Halal ?

Oleh sebab itu, maka makna filosofis Halal bi Halal berdasarkan teori izhmâr tadi dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan.
Atau dengan analisis kedua (halâl "yujza'u" bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Saling memaafkan dan menyambung tali silaturrahmi merupakan ajaran luhur dalam Islam. Setiap saat kaum Muslim harus mengindahkan ajaran ini tanpa memandang hari dan momen tertentu. Jadi tidak terbatas saat Idul Fitri saja. Bahkan secara tegas Allah Swt. akan melaknat orang yang memutuskan tali persaudaraan (QS. Muhammad: 22-23). Rasulullah juga menyabdakan yang artinya, "Tidak ada dosa yang pelakunya lebih layak untuk disegerakan hukumannya di dunia dan di akhirat daripada berbuat zalim dan memutuskan tali persaudaraan" (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi).

Betapa pentingnya memelihara hubungan persaudaraan agar tidak kusut, sampai-sampai Allah dan Rasul-Nya menegaskan laknat besar sebagai ganjaran bagi pemutus tali silaturrahmi. Bahkan urgensitasnya tampak begitu jelas manakala memelihara silaturrahmi ini dikaitkan dengan keimanan seorang Muslim. Seperti dalam hadits, "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka sambunglah tali silaturrahmi " (HR. Al-Bukhari). Kegiatan ini juga sangat banyak nilai positifnya bagi kehidupan duniawi. Rasulullah menyabdakan, "Siapa saja yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan pengaruhnya, maka sambunglah tali persaudaraan" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Manfaat Bersalaman ?
1.Berjabat tangan merupakan amalan sahabat, juga sunnah yang dilakukan nabi ketika bertemu dengan sahabat-sahabatnya sebagaimana hadits:
عن قتادة قال قلت لأنس: أكانت المصافحة في أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم ؟ قال نعم.-رواه البخاري-
Dari Qatadah dia berkata,  aku bertanya kepada Anas : Apakah  Berjabat tangan pernah terjadi pada masa para sahabat nabi s.a.w. ? Anas menjawab iya. (HR.Bukhari)
عبد الله بن هشام قال: كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم وهو آخذ بيد عمر بن الخطاب-رواه البخاري,كتاب الإستأذان,باب المصافحة-
Berkata ‘Abdullah bin Hisyam : Kami bersama nabi saw dan beliau memegang tangan (berjabaat tangan) umar bin khatab, (HR.Bukhari  kitab istadzin bab jabat tangan)
2.Berjabat tangan dapat menghapuskan dosa dan kesalahan sebagaimana sabdanya:
عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَاَ-رواه أبو داود:5212,والترمذي:2727,وقال الألباني:صحيح-
Dari al-Bara’ (bin ‘Azib) ia berkata: Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam– bersabda: “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan keduanya sudah diampuni sebelum berpisah.” (HR. Abu Dawud no. 5.212 dan at-Tirmidzi no. 2.727, dihukumi shahih oleh al-Albani)
Komentar para ulama seputar musafahah/bersalaman ?
قوله ( قلت لأنس بن مالك هل كانت المصافحة في أصحاب رسول الله قال نعم ) فيه مشروعية المصافحة قال بن بطال المصافحة حسنة عند عامة العلماء وقد استحبها مالك بعد كراهته. وقال النووي المصافحة سنة مجمع عليها عند التلاقي. تنبيه قال النووي في الأذكار اعلم أن هذه المصافحة مستحبة عند كل لقاء وأما ما اعتاده الناس من المصافحة بعد صلاتي الصبح والعصر فلا أصل له في الشرع على هذا الوجه ولكن لا بأس به فإن أصل المصافحة سنة وكونهم حافظوا عليها في بعض الأحوال وفرطوا فيها في كثير من الأحوال أو أكثرها لا يخرج ذلك البعض عن كونه من المصافحة التي ورد الشرع بأصلها.وقد ذكر الامام أبو محمد بن عبد السلام أن البدع على خمسة أقسام واجبة ومحرمة ومكروهة ومستحبة ومباحة قال ومن أمثلة البدع المباحة المصافحة عقب الصبح والعصر انتهى
(maksud) Perkataannya: (Aku berkata kepada anas bin malik apakah bersalaman terjadi pada masa sahabat rasulullah? Aku berkata” ya” ) pada hadits itu terdapat syari’at bersalaman. Berkata Ibnu Baththal: Bersalaman itu baik menurut keumuman para ulama dan sungguh malik telah menyunnahkan bersalaman itu setelah dia memakruhkannya. Berkata imam an-nawawi: Bersalaman itu sunnah yang disepakati atasnya ketika bertemu. Perhatian: Berkata imam An-Nawawi didalam Al-Adzkar: Ketahuilah bahwa berjabat tangan ini adalah sunnah  pada setiap bertemu. Adapun apa yang dilakukan orang-orang seperti bersalamaan setelah shalat subuh dan ashar, tidak ada dasarnya menurut syara’ dalam aspek ini, akan tetapi tidak apa-apa, karena asal dari bersalaman itu adalah sunnah, sedangkan mereka memelihara bersalaman dalam sebagian keadaan dan mereka menyalah gunakannya dalam setiap keadaan atau kebanyakannya. Dan sebagiannya tidak akan keluar dari kedudukannya termasuk musafahah yang ditetapkan syara’ secara asli. Sungguh Imam Abu Muhammad bin ‘Abdus Salam telah menyebutkan bid’ah itu ada lima, yaitu wajib, haram, makruh, sunnah dan mubah. Nawawi berkata: Dan diantara bentuk-bentuk bid’ah yang mubah adalah bersalaman setelah subuh dan ashar,selesai.
قال الحافظ بعد ذكر كلام النووي هذا ما لفظه وللنظر فيه مجال فإن أصل صلاة النافلة سنة مرغب فيها ومع ذلك فقد كره المحققون تخصيص وقت بها دون وقت ومنهم من أطلق مثل ذلك كصلاة الرغائب التي لا أصل لها انتهى. وقال القارىء بعد ذكر كلام النووي ولا يخفى أن في كلام الامام نوع تناقض لأن إتيان السنة في بعض الأوقات لا يسمى بدعة مع أن عمل الناس في الوقتين المذكورين ليس على وجه الاستحباب المشروع فإن محل المصافحة المشروعة أول الملاقاة وقد يكون جماعة يتلاقون من غير مصافحة ويتصاحبون بالكلام ومذاكرة العلم وغير مدة مديدة ثم إذا صلوا يتصافحون فأين هذا من السنة المشروعة ولهذا صرح بعض علمائنا بأنها مكروهة حينئذ وأنها من البدع المذمومة انتهى
Berkata Al-Hafidz setelah menyebutkan perkataan Nawawi: ini adalah apa yang beliau ungkapkan dan untuk melihatnya ada beberapa aspek, sebab sesungguhnya asal shalat sunnah itu adalah sunnah yang dicintai, dan oleh sebab itu para ahli tahqiq tidak menyukai pengkhususan waktu musafahah bukan pada waktunya. Dan diantara mereka ada yang memutlakan yang seperti itu, seperti shalat raghaib (shalat pengharapan) yang tidak ada dalilnya, selesai. Berkata Al-Qari setelah menyebutkan pendapat Nawawi: Jelas sekali bahwa dalam pendapat Imam Nawawi terdapat bagian yang diperdebatkan, karena sesungguhnya mengkhususkan sunnah dalam sebagian waktu tidak dikatakan bid’ah padahal amalan orang-orang pada dua waktu yang disebutkan tidak menurut aspek sunnah yang disyari’atkan, karena tempat musafahah yang disyari’atkan adalah awal pertemuan, sedangkan kadang-kadang sekelompok orang saling bertemu tanpa bermusafahah dan mereka saling akrab dalam pembicaraan dan kajian keilmuan dan seterusnya. Kemudian jika mereka shalat, lalu ini (musafahah) ditegaskan sebagai sunnah yang disyari’atkan, oleh sebab itu sebagian ulama kami menegaskan bahwa musafahah (setelah shalat) tercela pada saat tersebut, dan bahwasanya dia itu termasuk bid’ah yang tercela, selesai.
قلت الأمر كما قال القارىء والحافظ. وقال صاحب عون المعبود وتقسيم البدع إلى خمسة أقسام كما ذهب إليه بن عبد السلام وتبعه النووي أنكر عليه جماعة من العلماء المحققين ومن آخرهم شيخنا القاضي العلامة بشير الدين القنوجي فإنه رد عليه ردا بليغا قال وكذا المصافحة والمعانقة بعد صلاة العيدين من البدع المذمومة المخالفة للشرع انتهى. قلت وقد أنكر القاضي الشوكاني أيضا على تقسيم البدعة إلى الأقسام الخمسة في نيل الأوطار في باب الصلاة في ثوب الحرير والقصب وأنكر عليه أيضا صاحب الدين الخالص ورده بستة وجوه.-تحفة الأحوذي,المكتبة الشاملة:7/426 ,فتح الباري:11/55-
Aku mengatakan: Urusan (musafahah) itu seperti yang dikatakan Al-Qari dan Al-Hafidz. Berkata pengarang ‘Aun Al-Ma’bud: dan pembagian bid’ah menjadi 5 bagian sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu ‘Abdus Salam dan diikuti Nawawi telah diingkari oleh jama’ah ‘Ulama ahli tahqiq, dan diantara yang paling akhir dari mereka adalah Syaikh kami Al-Qadlhi Al-‘Allamah Basyirud Din Al-Qanuji, sesungguhnya dia menolak dengan penolakan yang fasih, dia berkata: Begitupula Musafahah dan berpelukan setelah shalat dua ‘Id (‘Idul Adlha dan ‘Idul Fithri) termasuk bid’ah yang tercela yang menyelisihi Syara’, selesai. Aku berkata: Sungguh Al-Qadlhi As-Syaukani juga telah mengingkari pembagian bid’ah menjadi 5 bagian dalam Nailul Authar pada bab As-Shalatu fi Tsaubil harir wal qashabi, dan diingkari juga (pembagian bid’ah menjadi 5) oleh Shahibud Din Al-Khalis, dan beliau membantahnya dengan 6 aspek.-Tuhfatul Ahwadzi, Al-Maktabah As-Syamilah:7/426, Fathul Bari:11/55-
Sumber:1.http://www.republika.co.id
2.https://pemudapersisjabar.wordpress.com
Jakarta 14/7/2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman