Selasa, 12 Mei 2015

HUKUM RIDHA IBU-BAPAK





MACAMNYA RIDHA ?



وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ (207)
“Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk meraih ridha Allah swt. Dan adalah Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya”. (Al-Baqarah: 207)
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Bersabda Rasulullah saw: “Tidak ada seorang Muslim yang membaca di pagi hari dan di sore hari sebanyak tiga kali “Aku ridha Allah sebagai Rabb dan Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Muhammad sebagai Nabi”, kecuali Allah pasti meridhainya pada hari Kiamat.” (HR Ahmad)

Muqaddimah
Berdasarkan sebab nuzul yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, ayat diatas memberi gambaran konkrit tentang seseorang yang rela mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata untuk meraih ridha Allah dalam seluruh totalitas kehidupannya. Karena ia yakin, ridha Allah merupakan target puncak dari sebuah proses panjang keimanan yang merupakan implementasi nyata dari kesempurnaan takwa ‘كمال التقوى ‘, sebuah terminologi agung yan dikemukakan oleh Mufassir Abu Su’ud ketika memahami perilaku sahabat Rasulullah yang menjadi sebab turunnya ayat ini.
Seorang Muslim senantiasa mengharapkan Ridho Allah dalam setiap sepak terjang aktifitasnya. Sebab ia tahu bahwa hanya dengan memperoleh Ridho Allah sajalah hidupnya menjadi lurus, terarah dan benar. Seorang Muslim yang mengejar Ridho Allah berarti menjadi seorang beriman yang ikhlas. Orang yang ikhlas dalam ber’amal merupakan orang yang tidak bakal sanggup diganggu apalagi dikalahkan oleh syetan. Allah menjamin hal ini berdasarkan firmanNya dimana dedengkot syetan saja, yakni Iblis, mengakui ketidak-berdayaannya menyesatkan hamba-hamba Allah yang mukhlis.
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ
وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
”Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". (QS Al-Hijr ayat 39-40)
Ridha yang diperintahkan dan yang diharamkan ?
Sedikitnya, Alquran dan hadis menyebutkan empat hal ridha yang diperintahkan dan dua hal ridha yang dilarang. Ridha yang diperintahkan, yaitu pertama, ridha seseorang terhadap Allah sebagai Rabbnya, agama Islam sebagai dinnya, dan Nabi Muhammad sebagai rasulnya.
Dari ‘Abbas bin Abdul Muththalib, Rasulullah SAW bersabda, “Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta Muhammad sebagai nabi dan rasulnya." (HR Muslim). Mereka yang ridha kepada Allah maka Allah pun meridhai mereka (QS al-Mujadalah: 22).

Kedua, ridha orang tua terhadap anaknya
. Ridha Allah SWT bergantung pada ridha orang tua sesuai sabda Rasulullah SAW, "Ridha Allah SWT tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah SWT tergantung kepada kemurkaan orang tua." (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim).

Ketiga, ridha suami kepada istrinya. "Setiap istri yang meninggal dunia dan diridhai oleh suaminya maka ia masuk surga." (HR at-Tirmidzi). Keempat, ridha dalam transaksi jual beli. Disebutkan dalam firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan ridha di antaramu." (QS an-Nisaa: 29).

Adapun, ridha yang dilarang, pertama, ridha terhadap dunia. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa ridha dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan itu) dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya di neraka karena apa yang telah mereka lakukan.” (QS Yunus: 7-8).

Kedua, ridha bersama-sama orang yang menyelisih Nabi. Konteks saat ini adalah menyelisihi dan meninggalkan sunah Nabi SAW, balasannya adalah Allah SWT akan mengunci hati mereka dari kebenaran. (QS at-Taubah: 93).
Memuliakan Orang-Orang yang Terpilih ?
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud, "Pada malam aku di Israkkan, aku mendengar Allah berfirman maksudnya : 'Hai Muhammad! Perintahkan umatmu supaya memuliakan tiga golongan iaitu ibu bapa, alim ulama dan penghafaz Al Quran'."

Kenapakah Allah S.W.T. memerentahkan Nabi S.A.W. untuk memberitahu umatnya bahawa Dia memerintakkan (mewajibkan) untuk memberi kemuliaan kepada tiga golongan iaitu ibu bapa, alim ulama dan penghafaz al-Quran.?
Pertama : Memuliakan kedua ibu bapa.

Kedudukan atau darjat ibu bapa di sisi Allah sangat mulia dan tinggi sekali, sehingga menjadi sebagai ukuran penentu bagi keredaan dan kemurkaan Allah. Ini sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud: "Keredaan Allah terletak pada keredaan ibu bapa dan kemurkaan Allah pula terletak pada kemurkaan ibu bapanya."
(Hadis Riwayat Tirmizi dan Hakim).
Orang yang derhaka kepada ibu bapanya, akan disegerakan Allah balasannya tanpa ditangguh-tangguhkan. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw yang bermaksud: "Setiap dosa mungkin ditangguhkan seksanya sesuai dengan kehendak Allah sampai hari kiamat kecuali dosa terhadap ibu bapa..." (Hadis Riwayat Tirmizi).

Balasan setimpal disediakan Allah bagi orang yang menderhaka kepada ibu bapa ialah tidak akan dapat masuk syurga. Perhatikan sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud:"Hak Allah atas empat orang yang tidak akan dimasukkan ke dalam Syurga dan tidak akan merasakan kenikmatannya iaitu, orang yang sentiasa minum arak, pemakan riba, pemakan harta anak yatim dan orang yang tidak suka kedua orang tuanya." (Hadis Riwayat Hakim).
Kedua : Memuliakan alim ulama.

Firman Allah S.W.T. maksudnya : “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”
(Surah Fathir ayat 28)
Ulama adalah pewaris Nabi. Di dalam hadis ada memperjelaskan bahawa tugas-tugas utama bagi golongan ulama yang bertanggungjawab sebagai penyimpan amanah warisan Rasulullah S.A.W.  adalah untuk mengekalkan ketulinan ajaran-ajaran Islam dari apa jua bentuk pencemaran atau penambahan. Sabda Nabi S.A.W. maksudnya : “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewarisi dinar dan tidak pula dirham, namun (mereka) mewariskan ilmu. Sehingga sesiapa yang telah mengambilnya (ilmu tersebut), bererti telah mengambil bahagian yang sempurna.”
(Hadis Riwayat Abu Dawud di dalam Sunannya)
Nabi S.A.W. bersabda maksudnya : “Siapa saja yang tidak peduli terhadap urusan kaum muslim, maka dia bukanlah kaum muslim. Siapa saja yang di pagi hari dan di petang hari tidak menjadi penasihat untuk Allah, Rasul, kitab dan imam-Nya serta seluruh kaum muslim, maka dia bukan termasuk muslim.” (Al-Hafidh Jalaluddin as-Suyuthi, Jami’ al-Masanid wa al-Marasil)
Ketiga :  Memuliakan Penghafaz al-Quran.

Sabda Rasulullah S.A.W. maksudnya : “Sesungguhnya Allah memiliki kerabat-kerabatnya di kalangan manusia". Lalu mereka bertanya : "Siapakah mereka ya Rasulullah S.A.W?" Jawab baginda : "Mereka adalah ahli al-Quran, merekalah kerabat Allah (Ahlullah)  dan orang-orang pilihannya.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah)

Sabda Rasulullah lagi, maksudnya : "Barangsiapa membaca Al Quran dan mengamalkannya, menghalalkannya yang halal dan mengharamkan yang haram maka Allah memasukkannya ke dalam syurga dan dia boleh memberi syafaat 10 orang keluarganya yang sudah pasti masuk neraka." (Hadis Riwayat Tarmizi)

Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda maksudnya : “Bacalah olehmu al- Quran, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat kepada para pembacanya (penghafalnya).”
(Hadis Riwayat Muslim)
Ikhtitam
QS. At-Taubah [9] : 100 `
وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
Sumber:1. http://alquranalhadi.com
2.http://www.republika.co.id 3.http://mujahidahkekasihallah.blogspot.com
JAKARTA 13/5/2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman