Rabu, 13 Mei 2015

FILSAFAT ISLAMI





MENGENAL FILSAFAT DALAM ISLAM ?


مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ  يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

”Siapa saja yang mencontohkan di dalam Islam contoh yang baik maka untuknya pahalanya dan pahala siapa saja yang melakukannya setelah dia karena mencontohnya tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun. Siapa saja yang mencontohkan di dalam Islam contoh yang buruk maka atasnya dosanya dan dosa siapa saja yang melakukannya setelah dia karena mencontohnya tanpa berkurang dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim, Ahmad, Ibn Majah dan an-Nasa’i)

رُوْا فِيْ اللهِ عَزَّ وَجَلَّتَفَكَّرُوْا فِيْ أَلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّ
Artinya : “Berpikirlah pada makhluk-makhluk Allah dan jangan berpikir pada Dzat Allah.” (HR. Ath-Thabrani, Al-Lalikai dan Al-Baihaqi dari Ibnu ‘Umar, lihat Ash-Shahihah)

Muqaddimah
Berdasarkan Al-Qur’an dan hadis yang di dalamnya digunakaan istilah hikmah, para otoritas muslim dari berbagai mazhab pemikiran yang berbeda selama berabad-abad mencoba mendefinisan makna hikmah dan juga filsafat, suatu istilah yang masuk dalam bahasa arab melalui usaha penerjemah teks yunani yang dilakukan pada abad ke-2/ke-8 M dan ke-3/ke 9 M. di satu pihak, apa yang disebut sebagai philosophy dalam bahasa inggris harus dilacak dalam konteks peradaban islam bukan hanya dalam berbagai mazhab filsafat islam, melainkan juga dalam mazhab yang memakai sebutan-sebutan lain, khususnya kalam,ma’rifat,ushul fiqh, dan juga ilmu-ilmu awa’il, belum termasuk subyek-subyek seperti tata bahasa dan sejarah yang mengembangkan cabang-cabang tertentu filsafat.
Ibnu Sina mengatakan hikmah adalah mencari kesempurnaan dalam diri manusia dengan dapat menggambarkan segala urusan dan membenarkan segala hakikat baik yang bersifat teori maupun praktis menurut kadar kemampuan manusia, dalam arti baginya antara hikmah dan filsafat sama, yaitu suatu usaha untuk mencapai kesempurnaan jiwa melalui konseptualisasi atas segala hal dan pembenaran realitas-realitas teoritis dan praktis berdasarkan ukuran manusia. Namun, di sisi lain Ibnu Sina juga menerima definisi-definisi pendahulunya ini walaupun mencoba membuat ciri dan presisi tertentu pada definisinya sendiri.
Mulla Sadra membagi filsafat kepada dua pembagian utama pertama yang bersifat teoritis yang mengacu kepada pengetahuan tentang segala sesuatu sebagaimana adanya. Dan kedua yang bersifat praktis yang mengacu pada penyampain kesempurnaan-kesempurnaan yang cocok bagi jiwa. Perwujutan kegiatan yang pertama ialah pencapaian tujuan akhir semua pengajaran teoritis, yakni yang menyalin atau menyerminkan dunia akali yang dengannya jiwa menjadi sebuah dunia akali bagi dirinya sendiri.
Filsafat islam bukan saja meliputi apa yang tersebut di atas, tetapi juga tidak melupakan terhadap problem-problem besar filsafat, seperti soal wujud,esa,dan berbilang, teori tentang pembagian dan keutamaan, hubungan dengan tuhan dan lain-lain. Lapangan filsafat pada waktu dulu lebih luas dari pada sekarang. Filsafat islam banyak kemiripan dengan pandangan-pandangan orang-orang yunani, terutama Aristoteles, dimana teorinya tentang pembagian filsafat diikuti oleh filosof-filosof islam, filsafat mencakup ilmu kedokteran, biologi, kimia, music, dan falak, yang semuanya ini sebenarnya tidak lain adalah cabang-cabang filsafat.
Makna Filsafat ?
Jelas-jelas kata filsafat bukan asli dari bahasa Arab. Apalagi dalam kamus syariat Islam. Ia berasal dari Yunani, negeri 'para dewa' yang disembah oleh manusia. Terbentuk dari dua susunan, filo yang bermakna cinta dan penggalan kedua sofia yang bermakna hikmah. Pengertian yang terbentuk dari paduan dua kata itu memang cukup menarik.

Sebagian mendefinisikan sebagai upaya pencarian tabiat (karakter) segala sesuatu dan hakekat maujûdât (hal-hal yang ada di dunia ini). Filsafat fokus pada pengerahan usaha dalam mengenali sesuatu dengan pengenalan yang murni. Apapun obyeknya, baik perkara ilmiah, agama, ilmu hitung atau lainnya.[2]

Akan tetapi, perkara terpenting yang tidak boleh dilupakan, bahwa tempat asal lahirnya kata itu adalah negeri Yunani dan keyakinan kufur generasi pertama ahli filsafat yang menjadi rujukan filsafat dunia, sudah cukup bagi kaum Muslimin untuk berhati-hati dan mengesampingkannya dari tengah umat, karena berasal dari negeri dan kaum yang tidak beriman kepada Allâh k, kaum yang menyembah para dewa. Kecurigaan terhadap output filsafat mesti dikedepankan. Doktor 'Afâf binti Hasan bin Muhammad Mukhtâr penulis disertasi berjudul Tanâquzhu Ahlil Ahwâ wal Bida’ fil 'Aqîdah' menyatakan, dari sini menjadi jelas bahwa filsafat merupakan pemikiran asing yang bersumber dari luar Islam dan kaum Muslimin, sebab sumbernya berasal dari Yunani [3]
Di dalam bahasa Inggris, istilah filsafat dikenal dengan “Philosophy”. Sebenarnya istilah ini diadopsi dari bahasa yunani yaitu “Philosophia”. Philosophia secara harfiah dimaknai mencintai kebijaksanaan. Orang yang sedang berfilsafat biasanya disebut “filosof”. Istilah philosophia digunakan oleh Phytagoras (sekitar abad ke 6 SM). Makin populer ketika zaman Socrates dan Plato. Untuk memahami definisi filsafat tidak cukup dengan mengatahui 2 kata philo dan shopia. Karena definisi filsafat cukup banyak, bahkan sebanyak jumlah filosof itu sendiri (Jan hendrik Rapar, Pengantar filsafat, hal 14).
Sepintas jika dilihat dari akar katanya, bisa ditebak kalau “filsafat” berasal dari peradaban Yunani. Namun sejatinya bukan orang Yunani yang merintis pemikiran filsafat di dunia. Ternyata di negeri-negeri lain, seperti Mesir, Cina dan India sudah lama mempunyai tradisi filsafat semasa atau sebelum orang Yunani kuno, walau mereka tidak mempergunakan kata philosophia untuk maksud yang sama (Endang Saefuddin Anshari, hal 81).
Dalam khazanah intelektual Islam, ditemukan 3 istilah umum untuk filsafat. Pertama, hikmah, istilah ini dipakai supaya kesannya filsafat bukan barang asing akan tetapi berasal dari al-Quran. Al-’Amiri mengatakan bahwa hikmah berasal dari Allah dan manusia yang pertama dikaruniai hikmah oleh Allah swt adalah Lukman al-Hakim. Sudah barang tentu tidak semua orang setuju dengan istilah ini, imam al-Ghazali termasuk yang menentangnya. Menurut beliau istilah hikmah dalam al-Quran dikorupsi untuk kepentingan filosof, karena makna hikmah dalam al-Quran itu bukan filsafat, melainkan Syariat Islam yang diturunkan Allah kepada para Nabi dan Rasul (Adian Husaini dkk, Filsafat ilmu Perspektif Barat dan Islam, 2013).
Istilah yang kedua yaitu falsafah, berbeda dengan kata “ilmu” yang sering disebut dalam al-Quran, tidak demikian dengan filsafat. Istilah falsafah sejatinya merupakan pinjaman atau serapan kata kosakata bahasa Arab melalui terjemahan karya-karya Yunani kuno. Namun demikian kata yang menunjukkan makna berfikir filosofis tersebut banyak ditemukan dalam al-Quran seperti kata afala ta’qilun, afala tubsirun, afala yanzurun dan sebagainya (Fakhruddin, Jurnal ulul albab, Vol 8 tahun 2007). Istilah ketiga, ‘ulum al-awa’il yang artinya “ilmu-ilmu orang zaman dulu”. Jadi filsafat ini dianggap ilmu-ilmu yang berasal dari peradaban kuno pra-Islam seperti India, Persia dan Yunani.
Definisi Para Filosuf ?
1.Plato (427 SM-347 SM) ,filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli)
        2.Aristoteles (382 SM-322 SM) mengatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran,yng didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika,logika,retorika,etika,ekonomi,politik dan estotika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
        3.Marcus tullius Cicero (106 SM-43 SM),politikus dan ahli pidato romawi,merumuskan: filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaaha-usaha untuk mencapainya.
       4. Al-farabi (wafat 950),filsuf muslim terbesar sebelum Ibnu Sina,mengatakan:filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.

Pendapat Ulama Salaf ?
Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah menceritakan, "Orang-orang yang muncul setelah tiga masa yang utama terlalu berlebihan dalam kebanyakan perkara yang diingkari oleh tokoh-tokoh generasi Tabi'in dan generasi Tabi'it Tabi'in. Orang-orang itu tidak merasa cukup dengan apa yang sudah dipegangi generasi sebelumnya sehingga mencampuradukkan perkara-perkara agama dengan teori-teori Yunani dan menjadikan pernyataan-pernyataan kaum filosof sebagai sumber pijakan untuk me'luruskan' atsar yang berseberangan dengan filsafat melalui cara penakwilan, meskipun itu tercela. Mereka tidak berhenti sampai di sini, bahkan mengklaim ilmu yang telah mereka susun adalah ilmu yang paling mulia dan sebaiknya dimengerti".[4]

Karena itulah, kaum Mu'tazilah dan golongan yang sepemikiran dengan mereka tidak bertumpu pada kitab tafsir ma'tsur, hadits dan perkataan Salaf. Perkataan al-Hâfizh merupakan seruan yang tegas untuk berpegang teguh dengan petunjuk Salaf dan menjauhi perkara baru yang diluncurkan oleh generasi Khalaf yang bertentangan dengan petunjuk generasi Salaf.[5]

Syaikhul Islam rahimahullah mendudukkan, bahwa penggunaan ilmu filsafat sebagai salah satu dasar pengambilan hukum adalah karakter orang-orang mulhid dan ahli bid'ah. Karena itu, terdapat pernyataan Ulama Salaf yang menghimbau umat agar iltizam dengan al-Qur`ân dan Sunnah dan memperingatkan umat dari bid'ah dan ilmu filsafat (ilmu kalam).[6]
Filsafat dalam Islam ?
Sebenarnya Al – Qur’an mendukung adanya filsafat yang ditandai dengan adanya ayat – ayat Al – Qur’an yang menyuruh manusia untuk menggunakan logikanya untuk berpikir dan berenung. Berikut adalah sebagian dari ayat – ayat Al – Qur’an nya yang menganjurkan :
“Tidakkah mereka perhatikan di atas mereka bagaimana ia Kami menjadikan serta hiasi dan tiada celah – celah padanya? Dan bumi Kami bentangkan serta letakkan di atasnya gunung – gunung dan Kami tumbuhkan padanya dari tiap pasangan yang indah?”. (Q.S.50:6-7).
“ Maka hendaklah manusia merenungkan dari apa ia diciptakan, ia diciptakan dari air yang ditumpahkan yang keluar dari antara tulang punggung dan tulang rusuk”. (Q.S.86:5:7).
“Tuhanlah yang membuat laut bagimu tunduk agar padanya kapal – kapal berlayar atas perintah-Nya dan kamu cari karunia-Nya, semoga kamu berterima kasih. Ia buat segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi tunduk bagimu, semuanya adalah dari pada-Nya, padanya sungguh terdapat tanda – tanda bagi kaum yang berpikir”. (Q.S.45:12-13).

Menurut Mustofa Abdul Rozik, Filsafat Islam adalah filsafat yang tumbuh di negeri Islam dan dibawah naungan negara Islam, tanpa memandang agama dan bahasa-bahasa pemiliknya. Pengertian ini diperkuat oleh Prof. Tara Chand, bahwa orang-orang nasrani dan yahudi yang telah menulis kitab-kitab filsafat yang bersifat kritis atau terpengaruh oleh islam sebaiknya dimasukkan ke dalam filsafat Islam. [7]
Filsafat islam adalah perkembangan pemikiran umat Islam dalam masalah ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam semesta yang disinari ajaran Islam. Adapun devinisinya secara khusus seperti apa yang dituliskan oleh penulis Islam sebagai berikut.
Ibrahim Madkur, filsafat islam adalah pemikiran yang lahir dalam dunia Islam untuk menjawab tantangan zaman, yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu dan akal, agama dan filsafat. [8]
Ahmad Fuad Al-Ahwany, filsafat Islam adalah pembahasan tentang alam dan manusia yang disinari ajaran Islam. [9]
Muhammad Atif Al-‘Iraqy, filsafat Islam secara umum di dalamnya tercakup ilmu kalam, ilmu ushul fiqh, ilmu tasawuf, dan ilmu pengetahuan lainnya yang diciptakan oleh intelektual Islam. Pengertiannya secara khusus adalah pokok-pokok atau dasar-dasar pemikiran filosofis yang dikemukakan para filosof muslim. [10]
Jelaslah bahwa filsafat Islam merupakan hasil pemikiran umat islam secara keseluruhan. Pemikiran umat Islam ini merupakan buah dari dorongan ajaran Al-Quran dan Hadis.[1][6]

Pandangan Islam tentang Filsafat ?

Mengenai pandangan islam tentang filsafat , filsafat cukup mendapat tempat penting dalam Islam dengan beberapa kenyataan :
1.  Dalam sejarah Islam pernah muncul filosof-filosof muslim yang terkenal seperti Al Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lain-lain. Bahkan mereka ini dianggap sebagai mata rantai yang menghubungkan kembali filsafat Yunani yang pernah menghilang di barat dan berkat jasa-jasa kaum muslimin maka filsafat tersebut dapat dikenal kembali oleh orang-orang Barat.
2.   Terdapatnya sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an yang mendorong pemikiran-pemikiran filosofis.
3.   Meskipun Islam member tempat yang layak bagi hidup dan perkembangan filsafat, namun Islam menilai bahwa falsafat tu hanyalah merupakan alat belaka dan bukan tujuan. Falsafat dapat digunakan untuk memperkokoh kedudukan Islam, umpamanya dapat dijadikan sebagai jalan untuk memperkuat bukti eksistensi Allah SWT.
4.  Diakui pula bahwa kebenaran filsafat bersifat nisbi dan spekulatif. Nisbi artinya relative dan tidak mutlak kebenaranya. Spekulatif artinya kebenaranya bersifat spekulasi dan tidak dapat dibuktikan secara empiris.
5.   Jadi tidak perlu melihat filsafat sebagai momok yang menakutkan tetapi ia harus dipelajari dengan baik. Dengan demikian kita dapat menggunakan hal – hal yang positif didalamnya dan membuang hal-hal yang tidak menguntungkan bagi Islam.

Fungsi dan Manfaat Filsafat ?
Menurut Harold H. Titus,filsafat adalah suatu usaha untuk memahami alam semesta,makna dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah control, dan tujuan seni adalah kreativitas,kesempurnaan,bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi,maka tujuan fisafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisnom).
Dr. Oemar A.Hoesin mengatakan: ilmu member kepada kita pengetahuan, dan fisafat member hikmah. Filsafat member kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusundengan tertip,akan kebebaran.
Radhakrishnan dalam bukunya, History of philosophy menyebutkan: tugas filsafat bukan lah sekedar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup,melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif,menetapkan nilai,menetapkan tujuan,menentukan arah dan menentukan jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menopang dunia baru,mencetak manusia-manusia yang menjadi penggolongan-penggolonganberdasarkan nation,ras dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan. Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal,baik dalam lingkungannya maupun dalam semangatnya.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berfikir) etika (berprilaku),maupun metafisiska (hakikat keaslian).[2][3]

Daftar Pustaka
Footnote
[1]. Tahâful Falâsifah 84. Nukilan dari Tanâquzhu Ahlil Ahwâ wal Bida’ fil 'Aqîdah' 1/103. Penulis menyertakan ilmu filsafat sebagai sumber pengambilan hukum kedelapan oleh kalangan ahli bid'ah
[2]. Asbâbul Khatha` fit Tafsîr , DR. Thâhir Mahmûd Muhammad Ya’qûb 1/260
[3]. At-Tanâquzh 1/103
[4]. Fathul Bâri (13/253)
[5]. Manhaj al-Hâfizh Ibni Hajar fil ‘Aqîdah, Muhammad Ishâq Kandu 3/1446
[6]. Majmû Fatâwa 7/119
[7] Drs. H. A. Mustofa. Filsafat Islam, (Bandung : Setia Pustaka, 2007), Hlm. 17
[8] Ibrahim Madkur, Fi al-Falsafat al-Islamiyyat Mahaj wa Tathbiquh, Jilid I, (mesir : Dar al-Ma’arif, 1968), Hlm. 19-20
[9] Ahmad Fuad Al-Ahwany, al-Falsafah al-Islamiyya, (Kairo : Dar al-Qolam, 1962), Hlm. 10
[10] Muhammad ‘Atif Al-‘Iraqy, al-falsafat al-islamiyat, (Kairo : Dar al-Ma’arif, 1978), Hlm. 19-20
1.Mutofa.A,Filsafat Islam:  CV. Pustaka Setia,Bandung,1997.hal:9
 [11] Ibid.hal:12
1.http://filsafat.kompasiana.com 2http://niamspot.blogspot.com
5.http://zekyaneukpidie.blogspot.com
JAKARTA 13/5/2015




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman