Rabu, 20 Mei 2015

AQIDAH IBNU TAIMIYAH




MENGENAL IBNU TAIMIYYAH ?



Muqaddimah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: Segala puji bagi Alloh, keyakinan Asy Syafi’i rohimahulloh dan keyakinan para pendahulu Islam seperti Malik, Ats Tsauri, Al Auza’i, Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan juga menjadi keyakinan para guru yang ditiru seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Abu Sulaiman Ad Darani, Sahl bin Abdullah At Tusturi dan selain mereka adalah sama. Sesungguhnya di antara ulama tersebut dan yang seperti mereka tidak terdapat perselisihan dalam pokok-pokok agama.
Begitu pula Abu Hanifah rohmatullohi ‘alaihi, sesungguhnya keyakinan beliau dalam masalah tauhid, takdir dan perkara lainnya adalah sesuai dengan keyakinan para ulama di atas. Sedangkan keyakinan yang dipegang oleh para ulama itu adalah keyakinan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, itulah keyakinan yang dikatakan oleh Al Kitab dan As Sunnah. Asy Syafi’i mengatakan di bagian awal Muqoddimah Kitab Ar Risalah:
الحمد لله الَّذِي هُوَ كَمَا وصف بِهِ نفسه، وفوق مَا يصفه بِهِ خلقه.
“Segala puji bagi Alloh yang (terpuji) sebagaimana sifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya sendiri. Sifat-sifat yang tidak bisa digambarkan oleh makhluknya.”
Dengan demikian beliau rohimahulloh menerangkan bahwa Alloh itu memiliki sifat sebagaimana yang Dia tegaskan di dalam Kitab-Nya dan melalui lisan rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Begitu pula yang dikatakan oleh Ahmad bin Hambal. Beliau mengatakan: Alloh tidak diberi sifat kecuali dengan yang Dia tetapkan sendiri, atau sifat yang diberikan oleh Rosul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam tanpa disertai tahrif (penyelewengan makna), tanpa takyif (memvisualisasikan), tanpa tamsil (menyerupakan dengan makhluk), tetapi mereka menetapkan nama-nama terbaik dan sifat-sifat luhur yang Dia tetapkan bagi diri-Nya. Mereka yakini bahwasanya:
لَيْسَ كمثله شيء وَهُوَ السميع البصير
“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai dengan-Nya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” baik dalam sifat-sifatNya, Zat-Nya maupun dalam perbuatan-perbuatanNya. Kemudian beliau berkata: Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan segala yang ada di antara keduanya dalam waktu enam masa kemudian Dia bersemayam di atas Arsy; Dialah yang telah benar-benar berbicara dengan Musa; Dialah yang telah menampakkan diri kepada gunung dan gunung itu pun menjadi hancur terbelah karenanya, tidak ada satu makhluk pun yang memiliki sifat sama persis dengan-Nya, ilmu-Nya tidak sama dengan ilmu siapa pun, kemampuan-Nya tidak sama dengan kemampuan siapa pun, dan kasih sayang-Nya juga tidak sama dengan kasih sayang siapa pun, bersemayam-Nya juga tidak sama dengan bersemayamnya siapa pun, pendengaran dan penglihatan-Nya juga tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan siapa pun. Ucapan-Nya tidak sama dengan ucapan siapa pun, penampakan diri-Nya tidak sebagaimana penampakan siapa pun.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menginformasikan kepada kita di surga itu ada daging, susu, madu, air, sutera dan emas. Dan Ibnu Abbas telah berkata,
لَيْسَ فِي الدُّنْيَا مما فِي الآخرة إِلاَّ الأسماء.
“Tidak ada suatu pun di dunia ini yang ada di akhirat nanti kecuali hanya sama namanya saja.”
Malik bin Anas pernah berkata:
إن الله فَوْقَ السماء، وعلمه فِي كلّ مكان
“Sesungguhnya Alloh berada di atas langit dan ilmu-Nya berada (meliputi) setiap tempat.”
Maka barang siapa yang meyakini Alloh berada di dalam langit dalam artian terbatasi dan terliputi oleh langit dan meyakini Alloh membutuhkan ‘Arsy atau butuh terhadap makhluk lainnya, atau meyakini bersemayamnya Alloh di atas ‘Arsy-Nya sama seperti bersemayamnya makhluk di atas kursinya; maka orang seperti ini adalah sesat, pembuat bid’ah dan jahil (bodoh). Barang siapa yang meyakini kalau di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang disembah, di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang orang-orang sholat dan bersujud kepada-Nya, atau meyakini Muhammad tidak pernah diangkat menghadap Tuhannya, atau meyakini kalau Al Quran tidak diturunkan dari sisi-Nya, maka orang seperti ini adalah Mu’aththil Fir’auni (penolak sifat Alloh dan pengikut Fir’aun), sesat dan pembuat bid’ah.
Inti Pemikiran Ibnu Taimiyah ?
Ibnu Taimiyah berafiliasi kepada madzhab Imam Ahmad Ibnu Hambal. Dan ia merupakan pengikut yang faqih dari madzhab ini. Kemudian ia berijtihad sendiri sehingga mencapai tingkatan seorang mujtahid. Ibnu Taimiyah mengikuti metodologi Ahmad Ibnu Hambal , yang karenanya prinsip dan metodologi Ibnu Taimiyah tetap berkisar pada madzhab tersebut. Dalam hal ini ia adalah pelanjut metodologi literalis Ahmad Ibnu Hambal dan Daud al-Zhahiri.
Inti dari pemikiran Ibnu Taimiyah berpusat pada seperangkat prinsip yang darinya ia mengembangkan sebuah pandangan dunia. Prinsip-prinsip ini dapat diringkaskan sebagai berikut:
1.  Perbedaan absolut antara Pencipta dan yang diciptakan
Ini merupakan landasan filosofis menyangkut kedudukan Tuhan dan manusia, yang ontologis berbeda secara mutlak. Prinsip ini nampaknya dipengaruhi oleh polemik Ibnu Taimiyah dengan paham wahdat al-wujud yang merelatifkan hubungan Tuhan dan manusia.
2.  Wahyu sebagai sistem yang lengkap dan mencukupi
Merupakan landasan epistemologis menyangkut kedudukan wahyu sebagai sumber pengetahuan bagi manusia yang bersifat lengkap dan mencukupi. Prinsip ini nampaknya dipengaruhi oleh polemik Ibnu Taimiyah dengan para filosof dan rasionalis Mu’tazilah yang selalu mengedepankan akal dan melakukan ta’wil.
3.  Keharusan untuk selalu kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, serta memahaminya di bawah cahaya ajaran-ajaran generasi awal umat Islam (al-Salaf al-Shalih)
Merupakan landasan aksiologis menyangkut aktualisasi ajaran Islam berdasarkan al-Qur’an, al-Sunnah dan al-Salaf al-Shalih. Prinsip ini nampaknya dipengaruhi oleh polemik Ibnu Taimiyah dengan berbagai praktek umat Islam, dan khususnya kelompok sufi, yang telah melakukan berbagai praktek bid’ah.
Ibnu Taimiyah tidak menolak akal an sich, tapi ia menolak kesimpulan-kesimpulan akal yang bertentangan dengan wahyu, khususnya yang menyangkut interpretasi spekulatif dan sufistik yang tingkat kebenarannya sulit untuk diverifikasi. Di luar itu, ia mengakui validitas akal, misalnya dalam pengetahuan sains empiris. Bahkan dalam bidang ini ia dikenal sebagai peletak dasar pertama bagi sistem logika John Stuart Mill dan David Hume.
Akhirnya, kepada orang-orang yang mengikuti prinsip ini, yaitu mengikuti al-Qur’an, al-Sunnah dan salaf al-shalih, Ibnu Taimiyah menggolongkannya kepada ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah. Merekalah orang-orang yang sesungguhnya pantas disebut golongan ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah. Dalam Majmu’ al-Fatawa Ibnu Taimiyah menyatakan: “Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan al-Sunnah serta apa yang menjadi kesepakatan para sahabat di kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”. Ia juga mengatakan: “Barang siapa yang berkata dengan al-Qur’an, al-Sunnah dan ijma’ al-salaf, maka dialah ahlu al-Sunnah”.
Penyimpangan Keyakinan Ibnu Taimiyah ?

1.    Ibnu Taimiyah berkeyakinan bahwa jenis daripada alam (makhluk) tidak memiliki permulaan, ia ada bersama Allah pada azal (keberadaan tanpa permulaan). Keyakinannya ini disebutkan dalam kitabnya “Al Muwafaqah, al Minhaj” dan lain-lain.

Bantahan:
Keyakinan tersebut menyalahi al Qu’an, Sunnah dan Ijma’ juga menyalahi akal sehat. Allah ta’ala berfirman yang maknanya: “Dia (Allah) Dzat yang tidak memiliki permulaan, dan Dia (Allah) Dzat yang tidak memiliki batas akhir” (Q.S. al Hadid, 3)
Rasulullah bersabda:
كان الله ولم يكن شىء غيره (رواه البخاري)
“Allah ada (pada azal, tanpa permulaan) dan tidak ada sesuatupun (pada azal) selain-Nya (Allah)”. (H.R. al Bukhari)

2.    Ibnu Taimiyah menisbatkan tempat dan bentuk pada Dzat Allah. Ia berkata: “Umat Islam dan orang-orang kafir sepakat bahwa Allah berada di atas langit” ia juga berkata: “Allah memiliki berntuk dan tidak ada yang tahu bentukNya selain Allah sendiri”. Keyakinannya ini juga disebutkan dalam kitabnya “Al Muwafaqah” dll.

Bantahan:
Keyakinan ini bertentangan dengan firman Allah yang maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai segala sesuatu dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”.  (Q.S. asy-Syura: 11).
Ayat tersebut adalah ayat tanzih yang mensucikan Allah dari menyerupai makhluk-Nya secara total, termasuk di antaranya adalah bertempat dan memiliki bentuk. Jadi Allah tidak bertempat dan tidak memiliki bentuk. Jika dikatakan bahwa Allah bertempat maka Ia memiliki banyak sekali serupa dengan makhluk-Nya, sedangkan yang demikian adalah mustahil bagi Allah.
Imam Ali bin Abi Thalib berkata:
كان الله ولا مكان وهو الآن على ما عليه كان
"Allah ada (pada azal) dan tidak ada tempat, dan Ia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) ada sebagaimana semula, tanpa tempat”.

3.    Ibnu Taimiyah berkeyakinan bahwa Allah duduk di atas ‘arasy. Dalam kitabnya “Syarh Hadits an-Nuzul” ia berkata: “Ia (Allah) selalu berada di atas ‘arasy meskipun Ia turun ke langit bumi pada setiap sepertiga akhir malam”. Keyakinan ini juga disebutkan dalam kitab-kitabnya yang lain seperti “Majmu’ al Fatawa, al Minhaj, dll”.

Bantahan:
Keyakinan ini juga bertentangan dengan surat as-Syura ayat 11 di atas. Duduk (jalasa) adalah sifat yang tertentu bagi makhluk Allah yang memiliki dua bagian yaitu bagian atas dan bawah, seperti manusia dll. Jika Allah disifati dengan duduk maka Allah sama dengan manusia. Imam Syafi’i berkata:
من قال أو اعتقد أن الله جالس على العرش فهو كافر
“Barangsiapa berkata atau meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arasy maka dia telah kafir”. (Riwayat Ibnu al Mu’allim al Qurasyi).
Dan masih banyak kesesatan-kesesatan Ibnu Taimiyah yang lain, baik dalam perkara-perkara ushul maupun furu’. Jika Anda hendak mengetahui lebih banyak tentang kesesatan-kesesatan Ibnu Taimiyah, silahkan baca kitab
المقالات السنية في كشف ضلالات أحمد ابن تيمية karya Syekh Abdullah al Harari.
Ibnu Taimiyah Bertaubat ?
1.Saya terjemahkan beberapa yang penting dari nas dan kenyataan tersebut: 1- ووجد بخطه الذي عرف به قبل ذلك من الأمور المتعلقة باعتقاده أن الله تعالى يتكلم بصوت ، وأن الاستواء على *قيقته ، وغير ذلك مما هو مخالف لأهل ال*ق
Terjemahannya: “Dan para ulama telah mendapati skrip yang telah ditulis oleh Ibnu Taimiyah yang telah diakui nya sebelum itu (akidah salah ibnu taimiyah sebelum bertaubat) berkaitan dengan akidahnya bahwa Allah ta’ala berkata-kata dengan suara, dan Allah beristawa dengan arti yang hakiki yaitu duduk) dan selain itu yang bertentangan dengan Ahl Haq (kebenaran)”.
Saya mengatakan : Ini adalah bukti dari para ulama islam di zaman Ibnu Taimiyah bahwa dia berpegang dengan akidah yang salah sebelum bertaubat daripadanya antaranya Allah beristawa secara hakiki yaitu duduk.
2-
قال ب*ضرة شهود : ( أنا أشعري ) ورفع كتاب الأشعرية على رأسه
Terjemahannya: ” Telah berkata Ibnu Taimiyah dengan kehadiran saksi para ulama: ‘ Saya golongan Asy’ari’ dan mengangkat kitab Al-Asy’ariyah di atas kepalanya ( mengakuinya)”.
3- والذي أعتقده من قوله : ( الر*من على العرش استوى ) أنه على ما قاله الجماعة ، أنه ليس على *قيقته وظاهره ، ولا أعلم كنه المراد منه ، بل لا يعلم ذلك إلا الله تعالى ، كتبه أ*مد بن تيمية
Terjemahan khot tulisan Ibnu Taimiyah dihadapan para ulama islam ketika itu dan mereka semua menjadi saksi kenyataan Ibnu Taimiyah : ” Dan yang aku berpegang mengenai firman Allah ‘Ar-Rahman diatas Arasy istawa’ adalah sepertimana berpegangnya jamaah ulama islam, sesungguhnya ayat tersebut bukan berarti hakikatnya(duduk) dan bukan atas zohirnya dan aku tidak mengetahui maksud sebenar-benarnya dari ayat tersebut bahkan tidak diketahui makna sebenar-benarnya dari ayat tersebut kecuali Allah.Telah menulis perkara ini oleh Ahmad Ibnu Taimiyah”.
4- وأشهد عليه أيضا أنه تاب إلى الله تعالى مما ينافي هذا الاعتقاد في المسائل الأربع المذكورة بخطه ، وتلفظ بالشهادتين المعظمتين
Terjemahannya berkata Imam Nuwairy seperti yang dinyatakan juga oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolany : ” Dan aku antara saksi bahawa Ibnu Taimiyah telah bertaubat kepada Allah daripada akidah yang salah pada empat masaalah akidah yang telah dinyatakan, dan Ibnu Taimiyah telah mengucap dua kalimah syahadah(bertaubat daripada akidah yang salah pernah dia pegangi terdahulu)”.
Ibnu Taimiyah Sosok Kontroversial ?
Ibn Taimiyah (w 728 H) adalah sosok kontroversial yang segala kesesatannya telah dibantah oleh berbagai lapisan ulama dari empat madzhab; ulama madzhab Syafi’i, ulama madzhab Hanafi, ulama madzhab Maliki, dan oleh para ulama madzhab Hanbali. Bantahan-bantahan tersebut datang dari mereka yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah sendiri maupun dari mereka yang datang setelahnya. Berikut ini adalah di antara para ulama tersebut dengan beberapa karyanya masing-masing :
  1. Al-Qâdlî al-Mufassir Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Jama’ah asy-Syafi’i (w 733 H).
  2. Al-Qâdlî Ibn Muhammad al-Hariri al-Anshari al-Hanafi.
  3. Al-Qâdlî Muhammad ibn Abi Bakr al-Maliki.
  4. Al-Qâdlî Ahmad ibn Umar al-Maqdisi al-Hanbali. Ibn Taimiyah di masa hidupnya dipenjarakan karena kesesatannya hingga meninggal di dalam penjara dengan rekomedasi fatwa dari para hakim ulama empat madzhab ini, yaitu pada tahun 726 H. Lihat peristiwa ini dalam kitab ‘Uyûn at-Tawârikh karya Imam al-Kutubi, dan dalam kitab Najm al-Muhtadî Fî Rajm al-Mu’tadî karya Imam Ibn al-Mu’allim al-Qurasyi.Dll. Sumber:1http://muslim.or.id 2.http://coelzlamboe.blogspot.com3.http://indonesiaindonesia.com
JAKARTA 21/5/2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman