Rabu, 25 Maret 2015

NILAI KEYAKINAN




MAKNA YAKIN ?


وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ [الحجر/99]
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Yakin menurut Istilah ?
Syaikh Al-Jurjani menjelaskan bahwa Yakin menurut istilah adalah meyakini sesuatu itu seperti itu dan meyakini bahwa hal itu tidak mungkin kecuali seperti itu, serta senantiasa akan sesuai dengan kenyataan.
Abu Hilal al-Askari mendefinisikan bahwa yakin adalah tetapnya jiwa dan dadanya merasa tenteram dengan apa yang ia ketahui. Al-Baidhowi (W. 691 H) mengatakan bahwa yakin adalah mengokohkan ilmu dengan meniadakan keraguan dan kesamaran tentangnya dengan cara Nadzr (berfikir mendalam) dan Istidlal (menunjukkan dalil).
Quraisy Shihab menjelaskan bahwa yakin adalah pengetahuan yang mantap tentang sesuatu disertai dengan tersingkirnya apa yang mengeruhkan pengetahuan itu, baik berupa keraguan, maupun dalil-dalil yang dikemukakan lawan. Itu sebabnya Allah tidak dinamai mencapai tingkat yakin karena pengetahuan Yang Maha mengetahui itu sedemikian jelas sehingga tidak pernah sesaat atau sedikit pun disentuh oleh keraguan. Berbeda dengan manusia yang yakin. Sebelum tiba keyakinannya, ia terlebih dahulu oleh keraguan. Namun, ketika ia sampai pada tahap yakin, keraguan yang tadinya ada menjadi sirna. Itu disebabkan Allah menjelaskan ayat-ayatnya dalam bentuk beragam dan silih berganti. Sehingga keraguan terkikis sedikit demi sedikit dan yang bersangkutan mencapai tahap yakin
Yakin Mencakup ?
Apabila Al-Qur’an adalah haqq Al-Yakin, maka apa yang diterangkan di dalamnya pun adalah haqq al-yakin. berikut diantara haqq al-yakin yang telah disebutkan Allah dalam Al-Qur’an.
1.    Al-Qur’an
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ [الجاثية/20]
Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

2.    Kematian
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ [الحجر/99]
dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).
حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ  [المدثر/47]
hingga datang kepada kami kematian."

3.    Alam Akhirat
اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ [الرعد/2]
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.
وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ  [السجدة/12]
Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin."
4.    Hukum Allah
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ [المائدة/50]
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?
Apakah hukum jahiliyyah, yakni hukum yang didasarkan oleh nafsu, kepentingan sementara, serta kepicikan pandangan yang mereka kehendaki dan, jika demikian, siapakah yang lebih sesat daripada mereka? Selanjutnya, karena kesempurnaan serta baiknya suatu hukum adalah akibat kesempurnaan pembuatnya, sedang Allah adalah wujud yang paling baik serta sempurna, jika demikian siapakah yang paling sempurna dan siapakah yang lebih baik daripada Allah yang Maha Mengetahui itu dalam menetapkan hukum dan dalam hal-hal yang lain bagi kaum yang yakin, yakni yang ingin mantap kepercayaannya? Tidak Ada!
Seseorang yang ingin mencapai tahap keyakinan harus berusaha menghilangkan setiap kerancuan yang menyelinap ke dalam benak, dan hatinya. Ini ditempuh dengan jalan mendekatkan diri kepada Allah, mempelajari hukum-hukum yang ditetapkannya serta mengamalkannya. “Siapa yang mengamalkan apa yang diketahuinya, Allah akan mewariskan kepadanya pengetahuan yang belum diketahuinya.” Demikian sabda nabi Saw., dan pengetahuan yang terakhir ini mengantar ia sampai kepada keyakinan, dan ini pada gilirannya mengantar ia dengan mantap berkata bahwa tidak ada yang lebih baik daripada Allah dalam menetapkan hukum
Tingkatan Yakin
Ar-Raghib memberikan penjelasan tentang tingkatan keyakinan. Ada tiga tingkatan, yaitu ilmu al-Yakin, Ain al-Yakin dan Haqq al-Yakin. Beliau memberikan contoh.
1.      Ilmu al-Yakin, misal, ilmu tentang masuknya ke surga
2.      Ain al-Yakin, misal, apabila melihat surga
3.      Haqq al-Yakin, misal, apabila memasuki surga
Tingkatan ini berdasarkan ayat Al-Qur’an berikut ini.
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ( ) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ( ) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ( ) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ( ) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ( ) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ( ) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ( ) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ( )  [التكاثر/1-8]
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin, Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ [الواقعة/95]
Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu haqqul Yakin.
Urgensi Yakin dalam Islam
Sikap yakin ini memiliki kedudukan tinggi dalam Islam dan dalam kehidupan seorang muslim. Hal ini dapat dilihat dari hal berikut ini:
1. Yakin sebagai satu syarat syahadatain.
Seorang yang mengucapkan syahadatain harus merasa yakin dan tidak ragu dengan kata-kata yang diucapkannya. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujuraat:15)
Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Asyhadu An Laa Ilaha Illa Allah Wa anni Rasululloh, tidaklah seorang hamba menjumpai Allah dengan syahadatain ini dalam keadaan yakin tanpa ada keraguan padanya kecuali ia akan masuk syurga.” (HR. Muslim).
2. Yakin adalah ruh dari iman.
Ibnu al Qayyim menyatakan, ” Yakin dari iman seperti kedudukan ruh dari jasadnya. Orang bertingkat-tingkat keimanannya dengan perbedaan rasa yakin ini”. (Madarij As Salikin, 2/397).
Hal ini karena Yakin adalah ruh amalan hati yang menjadi ruh bagi amalan anggota tubuh lainnya. Bahkan yakin adalah iman itu sendiri seperti dinyatakan sahabat Ibnu Mas’ud dalam penuturan beliau, “Yakin adalah iman seluruhnya, agama kita seluruhnya adalah yakin kepada Allah, yakin kepada janji-janji Allah, yakin dengan semua yang disiapkan Allah untuk orang-orang yang bertakwa didalam syurga dan yang disiapan untuk orang-orang kafir di Neraka”.
3. Yakin kunci mendapatkan keimaman dalam agama.
Anda ingin mendapatkan derajat imam dalam agama maka tanamkan dan sempurnakan sikap yakin ini dalam diri anda. Sebab dengan berbekal kesabaran dan keyakinan yang benar dan sempurna anda mendapatkkannya sebagaimana dijanjikan Allah dalam firmanNya,
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah:24).
Syeikhul Islam ibnu Taimiyah menyatakan, ” Dengan sabar dan Yakin, keimaman dalam agama dapat dicapai”.
4. Allah mengkhususkan orang yang yakin yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya.
Seperti dijelaskan dalam firman Allah,
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Adz-Dzaariyat: 20).
5. Orang yang yakin mendapatkan petunjuk, keberuntungan dan rahmat dari Allah.
Sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya,
“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya,dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Al Baqorah 2:45) dan firmanNya:
al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al-Jaatsiyah: 20).
Ikhtitam
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ [الجاثية/20]
Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

Sumber:1.http://www.kpmi.or.id 2.http://kang-ihsanth.blogspot.com
JAKARTA 26/3/2015
Bottom of Form










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman