Kamis, 12 Februari 2015

TAFSIR MIMPI




MISTERI MIMPI BAIK ATAU SEBALIKNYA ?


“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicarana itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allahlah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.” (Al-Qur’an, Surat Al-Mujaadilah: 10)

"Mimpi itu ada tiga. Mimpi yang baik merupakan kabar gembira dari Allah. Mimpi yang menyedihkan berasal dari setan, dan mimpi yang datang dari obsesi seseorang. Jika salah seorang di antara kalian mimpi yang menyedihkan, hendaklah dia bangun lalu shalat dan tidak menceritakannya kepada orang lain".(HR Bukhari-Muslim)
Dalam riwayat Al-Bukhari dari Abi Sa’id Al-Khudzriy, Rasulullah bersabda:
الرؤيا الصالحة جزء من ستة وأربعين جزءًا من النبوة
Artinya: “Mimpi yang baik adalah bagian dari 46 bagian kenabian”
Muqaddimah
Mimpi terbahagi dua: mimpi yang benar dan yang batil. Mimpi yang benar ialah yang dialami manusia tatkala kedudukan psikologisnya seimbang dan keadaan cuaca sedang seperti ditandai oleh bergoyangnya pepohonan hingga berjatuhannya dedaunan. Mimpi yang benar tidak didahului dengan adanya pikiran dan keinginan akan sesuatu yang kemudian muncul dalam mimpi.
Kebenaran mimpi juga tidak ternodai oleh peristiwa junub dan haid. Adapun mimpi yang batil ialah yang ditimbulkan oleh bisikan nafsu, keinginan, dan hasrat. Mimpi demikian tidak dapat ditakwilkan. Demikian pula mimpi “basah” dan mimpi lain yang mewajibkan mandi dikategorikan sebagai mimpi yang batil karena tidak mengandung makna. Sama halnya dengan mimpi yang menakutkan dan menyedihkan karena berasal dari setan.
Makna Mimpi ?
Ingat bagaimana mimpi Nabi Yusuf tentang bulan, bintang dan matahari yang sujud kepadanya ? bagaimana pula mimpi seorang wanita tentang Rasulullah SAW, kemudian diceritakannya kepada Baginda Nabi danmenjadi kenyataan
Seorang wanita bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya bermimpi melihat  kebahagian tubuh baginda berada di rumahku.” Baginda menjawab, “Sesungguhnya Fatimah akan melahirkan seorang anak lelaki, kemudian engkau yang akan menyusukannya.” Tidak lama kemudian Fatimah melahirkan Hussein dan disusukan oleh wanita tersebut.
At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa seorang penduduk Mesir bertanya kepada Abu Darda’ –radliyallahu ‘anhu- mengenai firman Allah ini. Abu Darda’ menjawab: “Tidak ada seorangpun bertanya tentang ayat ini semenjak aku bertanya kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan beliau menjawab: ‘Tidak seorangpun bertanya kepadaku tentang ayat ini selain engkau semenjak ayat ini diturunkan. Ayat ini menjelaskan mimpi baik, yang di alami seorang muslim,”. (HR. At-Tirmidzi)
Selanjutnya, pada tahun-tahun jauh setelah Rasulullah, muncul ilmuwan Abu Bakar Bin Ali Muhyiddin Alhatimim Attha'i atau yang populer dengan sebutan Ibn Arabi (17 Agustus 1165 - November 1240) di Spanyol yang membahas masalah interpretasi mimpi. Pendekatan yang digunakan Arabi untuk menganalisis mimpi adalah ilham intuitif karena dia seorang sufi.
Secara umum, menurut Arabi, mimpi adalah bagian dari imajinasi atau tempat penampakan wujud-wujud spiritual, para malaikat dan roh, tempat mereka memperoleh bentuk dan figur-figur "rupa penampakan" mereka, dan karena di sana konsep-konsep murni dan data indra bertemu dan memekar menjadi figur-figur personal. Dan interpretasi mimpi menurutnya bahwa segala sesuatu datang dalam alam imajinasi karena ditafsirkan. Ini berarti sesuatu itu sendiri memiliki bentuk tertentu yang muncul dalam bentuk lain sehingga sang penafsir mendapatkan sesuatu dari bentuk yang dilihat oleh si pemimpi kepada sesuatu itu sendiri.
Mengenai arti mimpi secara umum, Rasulullah SAW bersabda (HR Bukhari dan Muslim),
"Mimpi itu ada tiga. Mimpi yang baik merupakan kabar gembira dari Allah. Mimpi yang menyedihkan berasal dari setan, dan mimpi yang datang dari obsesi seseorang. Jika salah seorang di antara kalian mimpi yang menyedihkan, hendaklah dia bangun lalu shalat dan tidak menceritakannya kepada orang lain".

Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda (HR Bukhari dan Muslim),
"Mimpi yang baik adalah dari Allah, sedangkan mimpi yang menakutkan berasal dari setan. Barangsiapa bermimpi yang tidak menyenangkan, hendaklah dia meludah ke sebelah kirinya tiga kali dan berlindung diri kepada Allah dari setan, sehingga mimpi tersebut tidak membahayakannya."

Khalid al-Anbari dalam bukunya Kamus Tafsir Mimpi menyebutkan bahwa tanda mimpi yang benar adalah sebagai berikut:
  • Bersih dari mimpi kosong, bayangan-bayangan yang meresahkan dan menakutkan.
  • Dapat dipahami ketika terjaga.
  • Tidur dalam keadaan pikiran jernih, tidak disibukkan oleh persoalan apa pun.
  • Mimpi tersebut dapat ditakwilkan sesuai dengan apa yang ada di Lauh Mahfuzh.
Rasulullah SAW bersabda, “Mimpi yang baik adalah dari Allah. Sedangkan mimpi yang menakutkan berasal dari setan. Barangsiapa mimpi yang tidak menyenangkan, maka hendaklah dia meludah ke sebelah kirinya tiga kali dan berlindung diri kepada Allah dari setan, maka mimpi tersebut tidak akan membahayakannya” (HR Bukhari dan Muslim).
Bertolak dari hadits-hadits di atas, menurut Aam Amiruddin dalam bukunya Menelanjangi Strategi Jin, kita bisa membuat sejumlah kesimpulan.
1.Mimpi bisa terjadi karena suatu obsesi. Obsesi tersebut begitu kuat dalam memori kita sehingga muncul dalam mimpi. Ini adalah mimpi yang bersifat fitrah atau alamiah.
2.Bermimpi yang baik. Mimpi ini datangnya dari Allah, kita wajib mensyukurinya dan boleh menceritakannya kepada orang lain sebagai wujud rasa syukur.
3.Mimpi buruk atau menakutkan. Mimpi ini datangnya dari setan. Kita wajib berlindung diri pada Allah, bahkan kalau memungkinkan meludah tiga kali ke sebelah kiri dan jangan menceritakannya pada orang lain – kecuali kalau ingin mengetahui takwil mimpi tersebut. Sebab kalau kita menceritakannya, setan akan merasa senang kalau gangguannya itu menjadi bahan pembicaraan manusia.
Dari ayat dan hadits di atas dapat diketahui bagaimana kedudukan mimpi dalam al-Quran dan hadits.
Selanjutnya, yang dimaksud mimpi yang baik (ru’ya shalihah) adalah mimpi yang dialami oleh orang-orang yang shalih dan mimpi ini adalah mimpi yang benar, meskipun terkadang mimpi yang mereka alami hanya sebatas bunga tidur (adhghats). Mimpi yang dialami para nabi adalah mimpi yang benar, dan berstatus sebagai wahyu. Sedangkan mimpi yang dialami oleh selain nabi dan orang-orang yang shaleh kebanyakan hanya sebatas bunga tidur, karena ada peranan syetah di dalamnya. (Lihat: al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah: 8/23)
Ada tiga macam mimpi: (1) Mimpi sebagai kabar gembira dari Allah, yakni yang baik dan benar. (2) Mimpi permainan syetan. (3) Mimpi yang terjadi akibat angan-angan diri sendiri.
Mimpi hasil permainan syetan adalah mimpi yang tidak berarti sama sekali dan tidak perlu untuk di ta’wil. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa ada seorang lelaki sowan kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan bertanya: “Ya Rasulallah!. Aku bermimpi seolah kepalaku terputus dan aku mengikutinya”. Rasulullah menjawab: “Jangan kau bicarakan apa yang menjadi permainan syetan terhadapmu dalam tidur”.
Mimpi yang terjadi akibat angan-angan diri sendiri seperti orang yang dalam keadaan lapar, lalu tertidur dan bermimpi makan. Mimpi semacam ini tidak mempunyai arti.
Ikhtitam
Di antara adab kesopanan itu ialah membiasakan diri berkata jujur. Nabi bersabda dalam hadits muttafaq alaih, ‘Orang yang paling benar mimpinya ialah yang paling benar perkataannya.’”
Adab lainnya ialah tidur dengan punya wudhu. Abu Dzar berkata, “Kekasihku (Muhammad
saw.) memberikan tiga pesan kepadaku yang tidak pernah aku tinggalkan hingga mati. Yaitu, puasa
tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat shalat fajar, dan tidak tidur kecuali punya wudhu.” Demikian
yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Adab lainnya ialah tidur dengan berbaring ke sisi kanan tubuh karena Nabi saw. menyukai
bagian kanan dalam segala hal. Diriwayatkan bahwa beliau tidur pada sisi kanan tubuhnya seraya
meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanan, lalu berdoa,
“Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada saat Engkau mengumpulkan hamba-hamba-
Mu.”
(HR Tirmidzi dan Abu Dawud),
Sumber:1.Al-Qur’an Hadits 2.http://interpretasimimpi.blogspot.com 3.http://qonita99.blogspot.com 4.http://mutakhorij-assunniyyah.blogspot.com
Jakarta 12/2/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman