Rabu, 25 Februari 2015

GENGSI DONG




GAYA HIDUP BERGENGSI ?

"...Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebiahan. "(A1 An'am: 141)

Muqaddimah
gengsi adalah ’kehormatan dan pengaruh yang diperoleh karena perbuatan
besar’. Ingat karena sebuah perbuatan besar.  bukan barang/kepemilikan yang
besar ”besar”. Saat ini Kelihatannya memang masyarakat kita semakin
materialistis, orang dipuji karena kekayaan materi. Kalau kaya Bangga Kalau
miskin Malu dan terhina. Maka orang berebut menjadi kaya atau disebut kaya
dengan jalan apapun, entah itu menipu, mencuri, korupsi atau apapun, yg
penting kaya dan menjadi orang terpandang. itulah efek negatif dari sebuah
gengsi.

Banyak orang salah kaprah Gengsi diawali dari kebanggaan yang berlebihan
atas apa yang dimilikinya dan dirasa sempurna daripada orang lain. Sehingga
dapat memperkecil kepekaan sosial. Ia bisa saja menganggap semua urusan
diluar dirinya bukan urusannya. Terutama pada kaum yang lebih rendah
dibawahnya. Seandainya gengsi atau malu bisa dihilangkan asalkan pekerjaan
tersebut halal dan tidak melanggar hukum saya kira pengangguran bisa
ditekan. Masih banyak disekeliling kita bahwa setelah selesai sekolah atau
kuliah ada bekerja di tempat yang sesuai jurusannya, atau dengan kata lain
menjadi karyawan disebuah perusahaan atau pegawai negeri. Harus diakui
Gengsi itu memberi rasa nikmat pada ego kita. Banyak orang yang karena
memakan Gengsi hidup dalam sebuah dilema, Gonta-ganti HP, punya barang
bagus, tetapi Ujung-ujungnya Hutang Yang besar dan menggunung serta
dikejar-kejar oleh Debt Kolektot, Malu engga sih.

Hidup Bergengsi ?
Waqahah /gengsi adalah menjauhi suatu aturan agama dengan tidak
mau melakukannya karena mengkhawatirkan harga dari atau
martabatnya jatuh. Misalnya, jika seorang Muslimah merasa
malu mengenakan busana muslimatnya kalau-kalau disebut
wanita yang kurang bergaul. Contoh lain, seseorang yang hidup
di sekitar masyarakat glamour merasa malu jika dia memakai
tata cara bermasyarakat menurut sunah Rasul, seperti meng-
ucapkan Assalamu'alaikum setiap bertemu, dan menghiasai
rumah dengan kalimat-kalimat Al-Qur'an, bersikap hormat dan
sopan, atau selalu mentaati perintah agama. Begitu juga se-
baliknya, jika merasa bangga dengan pelanggaran terhadap
aturan Islam.

Rasulullah SAW bersabda,
"Rasa malu itu sebagian dari iman; dan iman itu menyebabkan
seseorang masuk surga. Kotor dalam ucapan sebagian dari
penyebab seseorang sia-sia; dan hidup sia-sia menyebabkan
masuk neraka" (H.R. Turmudi).

Karena rasa malu merupakan bagian dari iman, malu yang
sebenarnya hanyalah rasa malu oleh Allah, termasuk malunya
seseorang oleh sesama manusia yang didasarkan kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda,
"Kamu sekalian harus malu oleh Allah dengan sebenar-
benarnya."

Para sahabat berkata:
"Wahai Rasulullah, Alhamdulillah kami betul-betul malu
oleh Allah."

Rasul bersabda:
"Bukan seperti itu. Malu oleh Allah adalah kamu dapat
memelihara kepala dengan segala apa yang tercakupnya,
kamu dapat memelihara perut dan apa yang tercakup di
sekitarnya, kamu senantiasa mengingat mati dengan segala
akibatnya. Dan barangsiapa menginginkan kehidupan akhirat,
hendaklah dia meninggalkan perhiasan dunia dan menganggap
lebih penting (bekal) akhirat daripada (bekal) dunia.
Barang siapa sudah mengerjakan seperti itu, dia sudah
benar-benar malu oleh Allah. " (H.R. Turmudi).
Berbaiat Untuk Gengsi ?
Mungkin Anda heran membaca judul di atas… saya pun demikian. Akan tetapi hadits berikut benar-benar menunjukkan bahwa ‘gengsi’ seperti ini adalah amal shalih yang sangat besar pahalanya… namun juga sangat jarang diamalkan, bahkan direnungkan. Jangankan oleh para santri dan thullabul ‘ilmi, alim ulama dan kyai saja nyaris tak ada yang mengamalkannya…
Sahabat ‘Auf bin Malik Al Asyja’iy radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Kami pernah berkumpul dengan Rasulullah, antara tujuh hingga sembilan orang. Ketika itu, kami baru saja membaiat beliau, namun beliau berkata, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?”
“Kami telah berbaiat kepadamu, wahai Rasulullah” sahut kami.
“Tidakkah kalian membaiat Rasulullah?” tanya beliau lagi.
“Kami telah membaiatmu wahai Rasulullah !” sahut kami lagi.
“Tidakkah kalian membaiat Rasulullah?” tanya beliau lagi.
Maka kami ulurkan tangan kami seraya berkata, “Kami telah membaiatmu wahai Rasulullah… lalu dalam rangka apa kami harus berbaiat lagi?”
“Berbaiatlah dalam rangka mengabdi kepada Allah tanpa menyekutukan sesuatupun denganNya, dalam rangka menegakkan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, dan -sembari melirihkan suaranya- jangan meminta sesuatupun kepada manusia” lanjut Rasulullah.
Alangkah beratnya baiat ini…
Tak meminta sesuatu pun kepada manusia… mana mungkin? Ini hampir mustahil untuk bisa diwujudkan. Namun tidak ada yang mustahil bagi para sahabat bila Allah yang memberi taufik. Bukan hanya ‘gengsi’ meminta harta, bahkan minta tolong dalam hal yang ‘sepele’ pun mereka hindari, selagi mereka mampu melakukannya sendiri…
Auf bin Malik melanjutkan, “Sungguh, aku pernah menyaksikan salah satu dari mereka -yang berbaiat tadi- saat cemetinya terjatuh, dan ia berada di atas tunggangannya. Ia tidak minta tolong kepada seorang pun agar mengambilkan cemeti tadi untuknya”.[2]
Jadi, pantaslah jika pahala amal shalih mereka yang kelihatan ‘tak seberapa’, dilipat-gandakan luar biasa oleh Allah Ta’ala.
Tips Menghindari Gengsi ?
Beberapa tips Untuk menghilangkan Gengsi
- Nikmati saja apa yang Anda punyai, dan bukan yang tidak Anda punyai.
- Lakukan sesuatu dengan hati yang memang tahu mengapa Anda patut melakukan
itu, tak ada lagi yang namanya ikut-ikutan trend. yang pasti hanya sesaat.
- Jadi pandai. Berikan kesempatan diri Anda dihargai karena hasil Fikiran
dan Perbuatan Anda.
- Menjadi rendah hati & Hidup Sederhana
- Jadilah Diri anda sendiri, anda adalah unik
- Banyak Berbuat

Ikhtitam

Para sufi mengajarkan, Man arafa nafsahu fa qad’ arafa Rabbahu,” yang artinya, “Siapa yang kenal dirinya, maka dia akan kenal Tuhannya.”

Biasanya, kalau sudah mengenal diri, kita akan tahu bahwa sebenarnya kita ini hanya makhluk lemah, tak berdaya, miskin, dan memiliki segala kekurangan lain di hadapan Sang Maha Segalanya, Allah S.W.T.

Sumber:1.Al-Qur’an Hadits 2.https://www.mail-archive.com 3.http://ngawikuramah.blogspot.com 4.http://www.konsultasisyariah.com
Jakarta 26/2/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman