Selasa, 10 Februari 2015

BANJIR AKIBAT TANGAN MANUSIA




MENGAPA BANJIR BERULANG KALI ?


Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan        manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). (Ar-Rum:41-42)
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan,” (QS. al-A’raf: 56).
Muqaddimah
BANJIR kini mulai terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Tak ada yang dapat mengelak dari bencana yang satu ini. Allah telah menjelaskan di dalam al-Qur’an mengenai banjir. Dalam kitab umat Islam inilah sudah jelas mengenai penyebab mengapa terjadi banjir. Bahkan, sebelum para ilmuan menemukan penyebab dari banjir tersebut.
Di dalam al-Qur’an, banjir pernah menelan korban jiwa kaum ‘Ad, negeri Saba’ dan kaumnya Nabi Nuh. Peristiwa ini dapat kita telaah dalam beberapa ayat al-Qur’an di antaranya surah Hud ayat 32-49, surah al-A’raf ayat 65-72, dan surah Saba ayat 15-16. Secara teologis, awal timbulnya banjir tersebut karena pembangkangan umat manusia pada ajaran Tuhan yang coba disampaikan para Nabi. Namun, secara ekologis, bencana tersebut bisa diakibatkan ketidakseimbangan dan disorientasi manusia ketika memperlakukan alam sekitar.
Dalam konsep neo teologi, banjir bukanlah sekedar musibah kemurkaan Allah kepada umat manusia. Akan tetapi banjir juga bisa merupakan fenomena ekologis yang disebabkan oleh perilaku manusia dalam mengelola lingkungan, menentang sunnah lingkungan. Kerangka acuan teologisnya didasarkan pada catatan ayat-ayat banjir dalam al-Qur’an, “Bukanlah Kami yang menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, (disebabkan) citra (kondisi) lingkungan mereka tidak mampu menolong di saat banjir, bahkan mereka semakin terpuruk dalam kehancuran,” (QS. Hud: 101).
Bentuk-bentuk Bencana yang Terdapat al-Qur’an ?
1)      Banjir Zaman nabi Nuh
Peristiwa Banjir yang menimpa umat nabi Nuh digambarkan oleh ayat berikut:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
Artinya:
Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. 29:  14
Umat nabi Nuh ditimpa oleh banjir yang sangat dahsyat, sehingga digambarkan di dalam surat (QS. Hud: 42) bahwa gelombang pada waktu itu menyerupai sebuah gunung.[21] Demikianlah gambaran betapa dahsyatnya banjir yang terjadi di waktu itu.
Adapun penyebab dari banjir ini, dijelaskan oleh ujung ayat, bahwa semua itu terjadi akibat kezaliman dari umat nabi Nuh itu sendiri. Secara hukum alamnya, air tersebut berasal dari dua arah yaitu air yang berasal dari air hujan serta air yang berasal dari lautan/bumi. Karena itu ketika  peristiwa banjir itu akan selesai Allah berfirman:
وَقِيلَ يَاأَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan[720] dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi[721], dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ." (QS. Hud: 44)
Peristiwa banjir yang menimpa umat nabi Nuh ini dipahami oleh Quraish Shihab dengan bencana Tsunami, seperti bencana yang menimpa bangsa Indonesia belakangan ini. Beliau berdalil dengan QS. Hud: 40
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ ءَامَنَ وَمَا ءَامَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ
“Hingga apabila perintah kami datang dan periuk telah mendidih,[22] kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang Telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”
Kata فَارَ التَّنُّورُ /””periuk mendidih” dipahami sebagai bumi yang bergoncang (gempa terjadi serupa dengan periuk yang menggelegar karena mendidihnya air). Menurut Quraish Shihab ini menggambarkan bahwa banjir yang melanda umat Nabi Nuh didahului oleh peristiwa gempa bumi.[23] Sehingga tepat dikatakan bahwa tersebut adalah rangkaian peristiwa tsunami.
Bagi umat nabi Nuh yang taat, tatkala air tersebut telah mencapai puncaknya, Allah menyelamatkan mereka dengan menyuruh mereka naik ke bahtera yang telah dibuat Nabi Nuh sebelumnya (QS. Al-Haqqah: 11-12)

2)      Gempa
Di dalam al-Qur’an gempa disebut dengan istilah rajfah. Kata rajfah atau rajf adalah bahasa Arab yang artinya الاضطراب الشديد (goncangan yang sangat dahsyat). Kata rajfah ini dipakai untuk berbagai goncangan baik di darat maupun di laut seperti pada perkataan, “رجفت الأرض ورجف البحر” (bumi dan berguncang, dan laut berguncang).[27] Di dalam al-Qur’an penggunaan kata rajfah ini ada yang menunjukkan makna gempa, dan adapula yang bermakna goncangan dahsyat yang ada kaitannya dengan huru-hara kiamat. Di antara peristiwa gempa yang pernah diabadikan oleh al-Qur’an adalah gempa yang pernah menimpa umat Nabi Shaleh (Tsamud[28]) dan umat Nabi Syu’aib (Madyan) serta umat Nabi Musa. Adapun gempa yang menimpa umat Nabi Shaleh adalah seperti yang terdapat di dalam ayat:
فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَاصَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ(77)فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
Artinya:
Kemudian mereka sembelih onta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. dan mereka berkata: "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)". Karena itu mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. (al-A’raf: 77-78)
Kepada Kaum Tsamud Allah telah mengutus seorang rasul yang bernama Shaleh. Ia diutus untuk memberi peringatan kepada umatnya yang berlaku sombong dan cenderung mengabaikan perintah Allah (Qs. Al-Dzariyat: 44).  Namun kedatangan Shaleh sebagai pembawa peringatan justru tidak membawa arti apa-apa, karena mereka tetap saja engkar, bahkan mereka menghina Shaleh dan menganggapnya sebagai seorang kadzdzab (pembohong) dan atsir (sombong).[29] Ketika keengkaran mereka semakin menjadi-jadi maka  Allah menguji mereka dengan seekor nâqah/onta. Di mana antara mereka dan onta tersebut telah di atur pembagian jatah air minum, serta mereka dilarang untuk membunuh onta tersebut, karena dengan membunuh onta tersebut akan dapat mendatangkan azab Allah.[30] Tetapi larangan ini tidak mereka acuhkan, bahkan mereka menantang Nabi Allah untuk mendatangkan azab yang telah diancamkan kepada mereka, sehingga akhirnya Allah mengazabnya dengan gempa yang sangat dahsyat, sedangkan di dalam ayat lain azab tersebut berupa sha’iqah atau shaihah wâhidah (petir). Menurut Quraish Shihab ini menunjukkan bahwa betapa besarnya petir yang terjadi waktu itu sehingga ia tidak hanya menggoncangkan hati orang yang mendengarnya namun juga dapat menggoncang bumi (gempa).[31]
Sedangkan gempa yang menimpa umat Nabi Syu’aib adalah seperti yang dijelaskan oleh firman Allah (QS. Al-A’raf:: 91)
فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
Artinya:
“Kemudian mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka (al-A’raf: 91)
Adapun penyebab diturunkannya azab berupa gempa ini adalah karena kedurhakaan mereka terhadap Agama Allah dan perangai mereka  yang merusak tatanan sosial dengan mengurangi takaran dan timbangan dan gemar melakukan kerusakan serta berlaku sombong.  (QS. al-‘A’raf: 85). Peristiwa gempa yang menimpa umat Nabi Syu’aib ini juga ditegaskan pada ayat berikut:
فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
Artinya:
Maka mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka. (al-Angkabut: 37)
Penyebab dan Maksud Diturunkannya Bencana ?
Dari penjelasan dan isyarat ayat al-Qur’an, setidaknya bencana yang menimpa manusia dapat dilihat dari beberapa sudut pandang yaitu:
1)      Bencana/Musibah  tidak terjadi kecuali atas izin Allah
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. [التغابن، 64: 11]
Artinya:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali atas izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. al-Taghabun (64): 11]
Menurut Sayyid Quthub apa yang diungkapkan di dalam ayat ini merupakan dasar atau hakikat keimanan. Di mana segala sesuatunya terjadi adalah atas izin Allah. Sehingga seseorang yang ditimpa musibah akan sadar bahwa itu semua terjadi adalah atas kehendak Allah. Dengan ini orang yang beriman hatinya akan tetap tenang ketika terjadi bencana, sedangkan bagi yang sempat lalai mereka akan ingat kembali kepada Allah dan senantiasa mengintrospeksi diri atas kesalahan yang diperbuat. Sedangkan terhadap bagi orang yang engkar semuanya ini diturunkan oleh Allah sebagai hukuman atas apa yang telah mereka perbuat.
2)      Musibah Sebagai Dampak Kesalahan Manusia (human eror)
Manusia sebagai penyebab timbulnya musibah digambarkan dengan beberapa istilah di dalam al-Qur’an seperti: karena tangan manusia, karena kezhaliman yang mereka lakukan, karena keengkaran mereka atau dosa yang mereka lakukan, sehingga semuanya itu terjadi sebagai hukuman atas apa yang telah mereka perbuat, baik secara langsung maupun tidak. Ini seperti yang ditegaskan oleh firman Allah berikut:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيْرٍ. [الشورى، 42: 30]
Artinya:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. al-Syura (42): 30]
Di antara bentuk perbuatan mereka tersebut adalah berbagai dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia, sebagaimana ayat berikut:
أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
Artinya:
Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah:49)
Surat al-Syura: 30, menurut ibn ‘Asyur memiliki kaitan yang erat dengan ayat ke-28, yang menguraikan tentang diturunkannya hujan setelah sebelumnya masyarakat Mekah menderita paceklik. Di sini mereka diingatkan bahwa petaka yang mereka alami adalah akibat kedurhakaan mereka terhadap Allah.[50]  Meski ayat ini secara konteks tertuju kepada kafir Mekah, namun dari segi kandungannya tertuju kepada seluruh masyarakat, kapanpun dan dimanapun.
3)      Bencana/Musibah bertujuan untuk menempa manusia
Al-Qur'an menegaskan bahwa:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ. لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ. [الحديد، 57: 22-23]
Artinya:
“Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kamu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. al-Hadid (57): 22-23]

Ikhtitam

"Jika orang jahat (ahli maksiat) meninggal dunia sungguh hamba-hamba Allah, negeri-negeri, pohon dan binatang merasa senang dan beristirahat dari kejahatannya." (HR Bukhari no. 6512)
Jakarta 10/2/2015

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman