Kamis, 12 Februari 2015

AL-QUR'AN PENAWAR JIWA





OBAT SAKIT MENTAL ?


“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus ada sari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir”. (Q.S. Yusuf:87).
“ Bila manusia sakit, maka Allahlah yang meyembuhkannya, bukan yang lain. (Alquran Surah 26: 80)
Muqaddimah
Dalam kehidupan modern yang serba kompleks ini, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi begitu canggih dan mengelaborasi  ke hampir seluruh kawasan dunia. Pada saat mana manusia harus berkelit dengan problem kehidupan yang serba materialistis dan pada gilirannya sangat egois dan individual. Hubungan antar manusia pada zaman modern juga cenderung “impersonal”. Masyarakat tradisional yang guyub dikikis oleh gelombang masyarakat modern yang tembayan. Fenomena-fenomena  tersebut membuat manusia semakin kehilangan jati dirinya. Kondisi demikian juga mengharuskan manusia untuk benar-benar mampu bertahan mengendalikan dirinya, untuk kemudian tetapi tegar dalam kepribadian.
Seperti yang diakui oleh Zakiah Darajat bahwa ketenangan hidup, ketentraman jiwa atau kebahagiaan batin tidak banyak tergantung kepada faktor-faktor luar; sosial, ekonomi, politik, adat kebiasaan dan sebagainya, malainkan lebih tergantung kepada cara dan sikap menghadapi faktor-faktor tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap para pasien yang terganggu kesehatan mentalnya, ia menyimpulkan bahwa kesehatan mental yang terganggu dapat mempengaruhi keseluruhan hidup seseorang. Pengaruh itu adalah perasaan, pikiran, kelakuan, kesehatan badan, sedang yang tergolong penyakit jiwa (psychoses) adalah lebih berat lagi.
Gangguan Jiwa dalam Al-Qur’an ?
Diberbagai ayat dalam Al Qur’an disebut istilah-istilah yang dapat dikatagorikan sebagai gangguan jiwa seperti Qalbu yang sakit ( maradhun ), majnuun , maftuun dan jinnatuun yang ketiga-tiganya diterjemahkan sebagai “gila”, nafs yang kotor disamping nafs yang suci dan yang tenan.
Istilah tahzan yang berarti bersedih hati juga disebut beberapa kali dalam berbagai ayat Disamping itu ada istilah yang merupakan sebagai sifat manusia yag dapat menjadi sumber kegelisahan atau kecemasan seperti manusia bersifat tergesa-gesa, berkeluh-kesah, melampaui batas, ingkar tak mau bersyukur atau berterima kasih, serta banyak lagi istilah -istilah sebagai akhlak yang buruk.
Didalam Al Qur’an disebut adanya Qalbu ( hati ), nafs, dan aql ( akal ) yang dapat dianggap sebagai potensi kejiwaan, yang ketiganya berkembang sejak masa bayi sampai mencapai maturitas, dan ketiganya saling beritegrasi dengan baik dan membentuk jiwa yang sehat. Sebaliknya bila salah satu dari padanya terganggu perkembangannya terutama bila terjadi pada qalbu (hati), maka dapat terjadi gangguan jiwa.
Al Qur’an adalah Kalam Allah SWT. yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan ) kepada Nabi Nuhammad saw. secara berangsur-angsur dalam kurun waktu 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, selama 13 tahun turunnya di Mekkah dan selebihnya diturankan di Madinah. Al Qur’an yang berarti bacaan, juga disebut sebagai Al Kitab atau Kitabullah ( AlQuran SurahAl Baqoroh : 2 ) yang tidak ada keraguan kepadanya, disebut juga sebagai Alfurqon (Alquran Surah Alfurqaan : 1) yang berarti pembeda yaitu membedakan antara yang benar dan yang batil, juga disebut sebagai Ad Dzikr (Alquran Surah Alhijr :9), yang berarti peringatan, juga sebagai Al Huda (Alquran Surah Yunus : 57) yang berarti petunjuk, juga sebagai Al Hikmah (Alquran Surah Al Isro’ : 39 ) yang berarti kebijaksanaan, juga sebagai Asy Syifa (Alquran Surah Yunus : 57), yang berarti obat atau penawar.
Selain itu masih ada istilah lain dalam Al Qur’an yang tidak secara spesifik menyatakan sebagai gangguan jiwa yaitu dalam surat 91 : 7-10 yang berbunyi:” Dan demi jiwa(nafs) dan penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan ) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. Jenis-jenis nafs, yaitu:
Pertama Alquran Surah 12 : 53 “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan (nafsu ammarah bissu’), kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan-ku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi MahaPenyayang.
Kedua Alquran Surah  75 : 1, jiwa yang menyesali dirinya sendiri ( nafsu lawwamah), dan
Ketiga Alquran Surah 89 : 27-30, sebagai penghargaan Allah terhadap manusia yang sempurna imannya. yaitu nafsu muthmainnah atau jiwa yang tenang.
Tanda-tanda orang yang mengalami gangguan jiwa menurut Alquran ?
Didalam Al Qur’an juga disebut berbagai keadaan atau sifat manusia yang dapat dikatagorikan sebagai gangguan jiwa seperti :
1. Rasa sedih atau berduka cita,  seperti pada Qs,28:13 , 20: 40 , 9 : 40 , 3 : 176 , 31: 23 , 36 : 76 ,
6 : 48, 7 : 35 , 2 :112.
2. Sifat berkeluh -kesah, seperti pada Qs.70: 20 ,
3. Sifat tergesa-gesa,  seperti pada Qs.17 ; 11 ,
4. Melampaui batas seperti pada Qs. 10 : 12 ,
5. Ingkar tak mau bersyukur,  seperti pada Qs. 100 : 6
yang semuanya ini dapat menjadi sumber kegelisahan atau kecemasan . Juga disebut dalam AlQuran berbagai akhlak manusia yang tercela atau sebagai akhlak yang tidak sehat.
Pandangan Islam tentang Penyakit Jiwa
Dalam perspektif Islam, penyakit jiwa sering diidentikkan dengan beberapa sifat buruk atau tingkah laku tercela (al-akhlaq al-mazmumah), seperti sifat tamak, dengki, iri hati, arogan, emosional dan seterusnya.
Hasan Muhammad as-Syarqawi dalam kitabnya Nahw ‘Ilmiah Nafsi, membagi penyakit jiwa dalam sembilan bagian, yaitu: pamer (riya’), marah (al-ghadhab), lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah), was-was (al-was-wasah), frustrasi (al-ya’s), rakus (tama’), terperdaya (al-ghurur), sombong (al-ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd).
Beberapa sifat tercela di atas ada relevansinya jika dianggap sebagai penyakit jiwa, sebab dalam kesehatan mental (mental hygiene) sifat-sifat tersebut merupakan indikasi dari penyakit kejiwaan manusia (psychoses). Jadi pada penderitanya sakit jiwa salah satunya ditandai oleh sifat-sifat buruk tersebut.
Macamnya Penyakit Jiwa ?
Hasan Muhammad as-Syarqawi dalam kitabnya Nahw ‘Ilmiah Nafsi, membagi penyakit jiwa dalam sembilan bagian, yaitu: pamer (riya’), marah (al-ghadhab), lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah), was-was (al-was-wasah), frustrasi (al-ya’s), rakus (tama’), terperdaya (al-ghurur), sombong (al-ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd).
Beberapa sifat tercela di atas ada relevansinya jika dianggap sebagai penyakit jiwa, sebab dalam kesehatan mental (mental hygiene) sifat-sifat tersebut merupakan indikasi dari penyakit kejiwaan manusia (psychoses). Jadi pada penderitanya sakit jiwa salah satunya ditandai oleh sifat-sifat buruk tersebut.
Frustrasi
Frustrasi (al-Ya’s) menurut  as-Syarqawi adalah putus harapan dan cita. Munculnya perasaan ini biasanya  ketika seseorang berhadapan dengan macam-macam cobaan dan persoalan hidup yang bertolak belakang dengan hawa nafsunya. Sifat tersebut sangat dicela oleh agama, karena menjadikan seseorang statis, kehilangan etos kerja, acuh-tak acuh terhadap lingkungan, selalu melamun, kehilangan kepercayaan baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.
Sebagaimana dalam al-Qur’an, Allah swt melarang manusia berputus asa akan rahmat-Nya, sebagaimana firman-Nya:
“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus ada sari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir”. (Q.S. Yusuf:87).
Dalam mental hygiene disebutkan: bahwa munculnya perasaan frustasi disebabkan oleh kegagalan seseorang dalam mencapai tujuan, tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan atau terhambatnya usaha dan perjuangan di dalam mencapai suatu tujuan dan bandingkan dengan Zakiat Darajat.
Rakus (Tamak)
Tamak atau rakus adalah keinginan yang berlebih-lebihan yang didasari oleh kemauan hawa nafsu yang tidak terkendali.jika  seseorang mengikuti hasa nafsunya secara belebihan, maka selama ia bersikap tamak dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang  ia terima, selama itu pulaia terperangkap oleh angan-angan dunia yang tidak pernah terwujudkan. Menurut as-Syarqawi, cara membendung sifat tamak ini ad lah dengan membiasakan diri dengan zuhud dan qana’ah sehingga dengan demikian ia akan bebas dari perbuatan hawa nafsu.
Terpedaya
Terpedaya (al-Ghurur) merupakan suatu jenis penyakit mental yang diakibatkan oleh salah persepsi tentang kehiduppan duniawi dan juga lupa tentang penciptanya.menurut as-Asyarqawi keterpedayaan dan salah persepsi berkisar kepda dua hal:
a. Tentang kehidupan duniawi
Pemahaman yang tidak benar terhdap kehidupan duniawi dimaksudkan salah, bahwa dunia dianggap segala-galanya, dunia merupakan tujuan akhir, harapan dan cita-citanya. penderita penyakit ini selalu meragukan kehidupan akhrat, akhirat dianggap ilusi, tidak kekal, sementara kehiudupan dunia dianggapnya segala-galanya Persepsi yang demikian ini dikenal dalam filsafat sebagai penganut hedonisme.
Menurut Islam, untuk menggulangi penyakit di atas adalah dengan terapi iman, sebab dengan iman seseorang akan menyadari bahwa kehidupan dunia sesungguhnya bersifat sementara (Ibid). Sebagaimana Allah  berfirman dalam beberapa ayat-Nya, bahwa dunia ini hanyalah permainan dan senda-gurau saja (lihat: Q.S. Al-An’am: 32, Al-Ankabut: 64, Al-Hadid: 20, Muhammad: 36).
b. Tentang kepercayaan kepada Allah termasuk dalam kategori terpedaya adalah kesalahan persepsi terhdap Allah (jika memang benar-benar ada) maka ia akan memberikan kenikmatan di akherat, mereka menganalogikan kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat. Persepsi di atas jelas tidak benar, sebab adanya kedudukan, kenikmatan, harta dan kedudukan yang diperoleh seseorang tidak selamanya merupakan indikasi keridaan Tuhan, melainkan sebaliknya sebagai ujian dan cobaan.
Dari sisi lain sifat terpedaya juga sering merasuk ke dalam jiwa orang yang berkeyakinan, bahwa dengan sifat rahman rahim-Nya Allah akan mentolerir perbuatan-perbuatan hamba-Nya yang sengaja melalaikan perintah-perintah-Nya. Dengan demikian, penderita penyakit ini cenderung selalu mengabaikan perintah-perintah Allah dengan tidak menyadari bahwa sesungguhnya ia terjebak dalam persepsi yang keliru.
Rasa Bangga Diri (‘Ujub)
Perasaan  bangga diri (‘Ujub) sedikit berbeda dengan perasaan sombong (kibr). Menurut al-Ghazali, kibr merupakan perasaan yang muncul pad diri seseorang , di mana ia menganggap dirinya lebih baik dan lebih utama dari orang lain. Sedangkan ‘ujub adalah perasaan bangga diri yang dalam penampilannya tidak memerlukan atau melibatkan orang lain. ‘Ujub lebih terfokus kepada rasa kagum  terhadap diri sendiri, suka membanggakan dan menonjolkan diri sendiri. Kadang-kadang pada sebagian orang emosi ini merupakan tingkah laku yang  dominan dalam kepribadian dan dapat menimbulkan sikap sombong, angkuh serta merendahkan orang lain.
Bottom of Form
Terapi gangguan jiwa ?
Prinsip terapi untuk segala macam penyakit menurut Al Qur’an dan Assunah adalah:
1.    Alquran Surah 26: 80. “ Bila manusia sakit, maka Allahlah yang meyembuhkannya, bukan yang lain.
2.    Alquran Surah 17 : 82 “ Dan Aku turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar/obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian “.
3.    Alquran Surah 13 : 28 (khusus untuk ketenteraman jiwa). “ Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram.”.
4.    Alquran Surah 12: 53, “ Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku .Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun, Maha Penyayang.
5.    Alquran Surah 91 : 7-10, “Dan demi jiwa dan penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
6.      Begitu pula dari suatu Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Buchari Muslim yang mengatakan bahwa, “Hai hamba Allah berobatlah, karena sesungguhnya Allah Azza Wajallah tidak menjadikan penyakit melainkan dijadikannya pula obatnya, kecuali satu macam penyakit yaitu sakit tua.
Ikhtitam
Sebenarnya sehat dan sakit merupakan anugerah. Karena keduanya berpotensi menjadi ladang ibadah apabila kita sanggup bersyukur saat sehat dan sanggup bersabar saat sakit. Sakit yang kita derita sebetulnya mengandung keutamaan besar, yakni menghapus dosa, tetap mendapat pahala, memperoleh derajat yang tinggi, dll. Nah, untuk bisa merasakan keutamaan dari sakit yang kita derita, kita harus senantiasa berbaik sangka pada Allah, bersabar, bersyukur, memperbanyak istighfar, dan tawakkal pada Allah. (hal.91-97).
Sumber:1.Al-Qur’an Hadits 2.http://zainuddin.lecturer.uin-malang.ac.id 3.https://kholid45.wordpress.com
Jakarta 12/2/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman