Jumat, 05 April 2013

TAFSIR ATH-THABARI




                 IMAM ATHTHABARI
Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir seorang imam, ulama’ dan mujtahid, ulama’ abad ini, kunyahnya Abu Ja’far Ath Thobari. Beliau dari penduduk Aamuly, bagian dari daerah Thobristan, karena itulah sesekali ia disebut sebagai Amuli selain dengan sebutan yang masyhur dengan at-Thabari. Uniknya Imam Thabari dikenal dengan sebutan kuniyah Abu Jakfar, padahal para ahli sejarah telah mencatat bahwa sampai masa akhir hidupnya Imam Thabari tidak pernah menikah.[1] Beliau dilahirkan pada akhir tahun 224 H awal tahun 225.
Ibnu Jarir at-Tabari adalah seorang ahli tafsir terkenal dan sejarawan terkemuka.[1] Nama lengkap at-Tabari adalah Abu Ja’far Muhammad Ibnu Ja’far Ibnu Yazid Ibnu Kas|ir.[2] Ibnu Ghalib at-Tabari (selanjutnya disebut dengan at-Tabari). Ia di lahirkan di Amul ibu kota T{abaristan,[3] kota ini merupakan salah satu propinsi di Persia dan terletak di sebelah utara gunung Alburz, selatan laut Qazwin.[4] Pada tahun 224/225H atau sekitar tahun 839-840.[5] ketidakpastian tahun kelahirannya disebabkan sistem penanggalan tradisional saat itu menggunakan kejadian-kejadian besar dan bukan dengan angka. Ia memperoleh gelar Abu Ja’far sebagai tanda penghormatan atas kepribadiannya yang sesuai dengan tradisi orang-orang yang menggelari para pemuka dan para pemimpin mereka. Sedangkan kata Ja’far merupakan sebutan bagi sungai yang besar dan luas.[6]
Imam al-Nawawi menambahkan sejumlah nama guru al-Thabari lainnya, terutama mereka yang juga menjadi guru al-Bukhari dan Muslim dalam bidang hadits, seperti Abd al-Malik ibn Abu al-Syawarib, Ahmad ibn Mani` al-Baghawi, al-Walid ibn Syuja`, Abu Kuraib Muhammad ibn al-`Ala’, Ya`qub ibn Ibrahim al-Dauraqi, Abu Sa`id al-Asyaj, `Amr ibn Ali, Muhmmad ibn al-Mutsanna dan Muhammad ibn Yasar.[4]
AMALKAN AL-QUR'AN
At-Tabari terkenal sebagai seorang yang rendah hati dan pemberani dalam mengemukakan sesuatu yang diyakininya. Beliau juga seorang ‘alim, oleh karena itu masyarakat sekelilingnya selalu memberinya hadiah, akan tetapi selalu ditolak, kecuali jika ia tahu bahwa ia sanggup memberikan imbalan yang setimpal dengannya.
Al-Thabari dapat dikatakan sebagai ulama multi talenta dan menguasai berbagai disiplin ilmu. Tafsir, qira’at, hadits, ushul al-din, fiqih perbandingan, sejarah, linguistik, sya`ir dan `arudh (kesusateraan) dan debat (jadal) adalah sejumlah disiplin ilmu yang sangat dikuasainya. Namun tidak hanya ilmu-ilmu agama dan alat, al-Thabari pandai ilmu logika (mathiq), berhitung, al-Jabar, bahkan ilmu kedokteran.
Abu Sa’id berkata: “Muhammaad bin Jarir berasal dari daerah Aamal, menulis di negri mesir. Lalu pulang ke Bagdad, dan telah mengarang beberapa kitab yang monumental, dan itu menunjukkan luasnya ilmu beliau. »
Al Khotib berkata: “Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib: “Beliau adalah salah satu Aimmah Ulama’ (sesepuh ulama’), perkataannya bijaksana dan selalu dimintai pendapatnya karena pengetahuannya dan kemulyaannya. Beliau telah mengumpulkan ilmu-ilmu yang tidak penah ada seorangpun yang melakukannya semasa hidupnya. Beliau adalah seorang Hafidz, pandai ilmu Qiro’at, ilmu Ma’ani faqih tehadap hukum-hukum Al Qur’an, tahu sunnah dan ilmu cabang-cabangnya, serta tahu mana yang shohih dan yang cacat, nasikh dan mansukhnya, Aqwalus Shohabah dan Tabi’in, tahu sejarah hidup Manusia dan keadaanya. Beliau memiliki kitab yang masyhur tentang “sejarah umat dan beografinya” dan kitab tentang “tafsir” yang belum pernah ada mengarang semisalnya dan kitab yang bernama “Tahdzibul Atsar” yang belum pernah aku (Imam Adz Dzahabi) lihat semacamnya, namun belum sempurna. Beliau juga punya kitab-kitab banyak yang membahas tentang “Ilmu Ushul Fiqih” dan pilihan dari aqwal para Fuqoha’.[6]
Imam Adz Dzahabi berkata: “Beliau adalah orang Tsiqoh, jujur, khafidz, sesepuh dalam ilmu tafsir, imam (ikutan) dalam ilmu fiqh, ijma’ serta (hal-hal) yang diperselisihkan, alim tentang sejarah dan harian Manusia, tahu tentang ilmu Qiro’at dan bahasa, serta yang lainnya.
Penghargaan Ulama Terhadap Hasil Karya al-Imam at-Thabari
Banyak didapati pengakuan terhadap Imam Thabari dalam usahanya mengembangkan Tafsir, seperti berikut ini:
Imam An Nawawi dalam Tahdzibnya mengemukakan: “Kitab Ibnu Jarir dalam bidang tafsir adalah sebuah kitab yang belum seorangpun ada yang pernah menyusun  kitab yang menyamainya.[14] Beliau juga pernah mengatakan: “”Umat telah bersepakat tidak ada yang menyamai tafsir beliau ini.” [15]
Imam as-Suyuthi, seorang mufasir menyatakan seperti berikut: “Kitab ibnu Jarir adalah kitab tafsir paling agung (yang sampai kepada kita). Didalamnya beliau mengemukakan berbagai macam pendapat dan mempertimbangkan mana yang lebih kuat, serta membahas I’rob dan istimbat. Karena itulah ia melebihi tafsir-tafsir karya para pendahulu.” [16]
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah telah memuji Imam Thabari, antara lain mengatakan: “Adapun tafsir-tafsir yang ditangan manusia, yang paling dahulu adalah tafsir Ibnu Jarir Ath thobari, bahwa beliau (Ibnu jarir) menyebutkan perkataan salaf dengan sanad-sanad yang tetap, dan tidak ada bid’ah sama sekali, dan tidak menukil dari orang yang Muttahim, seperti Muqotil bin Bakir[17] dan Al Kalbi.” [18]
As-Suyuthi telah meneliti thabaqah mufasir sejak awal kemunculan ilmu ini, dan ketika sampai pada Abu Jafar, ia menempatkannya pada thabaqah (tingkatan) yang pertama, kemudian ia berkata: “jika engkau bertanya: Tafsir apa yang engkau sarankan dan dijadikan sebagai bahan rujukan? Maka aku katakan: Tafsir Ibnu Jarir, yang para ulama telah bersepakat bahwa belum ada kitab tafsir
Mazhab dan Aqidah Imam ath-Thabari
Al Faroghi berkata: “Harun bin Abdul Aziz bercerita kepadaku:” Abu Ja’far At Thobari berkata: “aku memilih Madzhab imam Syafi’I, dan aku ikuti beliau di Bagdad selama 10 tahun
As Suyuthi berkata dalam kitab “Thobaqotul Mufassirin” hal: 3: “Pertama, beliau bermadzhab Syafi’I, lalu membuat madzhab sendiri, dengan perkataan-perkataan dan petikan-petikan sendiri, dan beliau mempunyai pengikut yang  mengikutinya. Dan aqidahnya adalah Aqidah Salaf as-Shalih
Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawanya mengatakan bahwa Imam Thabari adalah imam Ahlu Sunnah, hal ini beliau katakana ketika membahas mengenai al-Quran kalamullah.
Imam Ibnu Qayyim mengatakan, yang maknanya adalah bahwa Imam Thabari adalah Ahlu Sunnah. Hal ini dapat diketahui dari tulisan beliau Sharih as-Sunnah. Dan masih banyak lagi pernyataan para ulama mengenai aqidah beliau.
ang semisalnya.” [19]
Ibnu Jarir at-Tabari adalah seorang ahli tafsir terkenal dan sejarawan terkemuka.[1] Nama lengkap at-Tabari adalah Abu Ja’far Muhammad Ibnu Ja’far Ibnu Yazid Ibnu Kas|ir.[2] Ibnu Ghalib at-Tabari (selanjutnya disebut dengan at-Tabari). Ia di lahirkan di Amul ibu kota T{abaristan,[3] kota ini merupakan salah satu propinsi di Persia dan terletak di sebelah utara gunung Alburz, selatan laut Qazwin.[4] Pada tahun 224/225H atau sekitar tahun 839-840.[5] ketidakpastian tahun kelahirannya disebabkan sistem penanggalan tradisional saat itu menggunakan kejadian-kejadian besar dan bukan dengan angka. Ia memperoleh gelar Abu Ja’far sebagai tanda penghormatan atas kepribadiannya yang sesuai dengan tradisi orang-orang yang menggelari para pemuka dan para pemimpin mereka. Sedangkan kata Ja’far merupakan sebutan bagi sungai yang besar dan luas.[6]
Karya-karya Ibnu Jarir at-Tabari
Dalam dunia ilmu pengetahuan, ia terkenal tekun mendalami bidang-bidang ilmu yang dimilikinya, juga gigih dalam menambah ilmu pengetahuan. Sehingga dengan itu, banyak bidang ilmu yang dikuasainya. Di samping itu, ia mampu menuangkan ilmu-ilmu yang dikuasainya ke dalam bentuk tulisan. Kitab-kitab karangannya mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti tafsi>r, hadis|, fikih, tauhid, us}ul fikih, dan ilmu-ilmu bahasa Arab, juga ilmu kedokteran.[9] Akan tetapi, tidak diperoleh informasi yang pasti berapa banyak buku yang pernah ditulisnya, Karena karya-karya at-Tabari tidak semuanya sampai ke tangan kita sekarang. Diperkirakan banyak karyanya yang berkaitan dengan hukum lenyap bersamaan dengan lenyapnya Madzhab Jaririyah.[10]
Diantara karya-karyanya yang sampai pada kita adalah:
  1. Adab al-Mana>sik
  2. Tari>kh al-Umam wa al-Muluk atau kitab Ikhba>r ar-Rasu>l al-Muluk.[11]
  3. Ja>mi’ al-Baya>n ‘An Ta’wi>l A<y al-Qur’a>n atau dikenal pula dengan Ja>mi’ al-Baya>n ‘An Tafsi>r A<y  al-Qur’a>n. Kitab ini dicetak menjadi 30 juz di Kairo pada tahun 1312 H. oleh al-Mathba’ah al-Maimunah, kemudian dicetak kembali yang lebih bagus oleh al-Mathba’ah al-Umairiyah antara tahun 1322-1330 H. sebagaimana yang diterbitkan oleh Dar al-Ma’a>rif Mesir edisi terbaru yang ditahqiq oleh Muhammad Mahmud Syakir menjadi 15 jilid.[12]
  4. Ikhtila>f Ulama’ al-Amsar f>i Ahka>m Syara’>i al-Isla>m. Manuskrip ini ditemukan diperpustakaan Berlin. Kitab tersebut telah disebarluaskan oleh Doktor Frederick  dan dicetak oleh percetakan al-Mausu’at di Mesir pada tahun 1320 H / 1902 M dengan jusul Ikhtilaf Fuqaha’.[13] Dan berjumlah 3000 lembar.[14]
  5. Tahdzi>b al-Asar  wa Tafsi>l al-Sabit ‘an Rasulillah min al-Akba>r, yang dinamakan oleh al-Qathi  dengan Syarh al-Asar.[15]
  6. al-Ja>mi’ f>i al-Qira’at
  7. Lati>f al-Qaul fi ahka>m al-Sura’>i al-Isla>m. Yang berjumlah 2500 lembar.[16]
  8. al-Basi>r (aw al-Tabs>ir) f>i Ulu>m al-Di>n.
  9. Kitab al-fadha>’il
  10. Kitab al-‘Adad wa al-tanzi>l
  11. al-Musnad al-Mujarrad
  12. Mukhtasar al-Fara>id
  13. Adab al-Nufu>s al-Jayyidah  wa al-Akhla>k  al-Nafi>sah, didalamnya tercakup beberapa   perkara seperti, sikap wara’, ikhlas, syukur, sombong, khusyu’, sabar, dan lain sebagainya. Kitab tersebut berjumlah 500 lembar, yang terdiri dari 4 juz. Kitab tersebut mulai ditulis tahun 310 H. dan sampai beliau wafat, kitab tersebut belum sempurna.[17]
  14. Sari>h al-Sunah. Kitab tersebut telah diedarkan di Bombay, India. Pada tahun 1277-1311 H.[18]
  15. Kitab Zail al-Muzail, menjelaskan tentang sejarah sahabat, tabi’in, tabi’at-tabi’in  sampai masa at-Tabari. Kitab tersebut berjumlah 1000 lembar.
  16. Kitab Adab al-Qudah.
  17. Kitab al-Radd ‘ala |zi al-Asa>taz|.
  18. Kitab al-Mufi>z} f>i al-Usu>l.
  19. Kitab Qira’at wa al-Tanzi>l al-Qur’an.
  20. Kitab Ulinnuha wa Ma’a>lim al-Huda.
JAKARTA  5/4/2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman