Jumat, 05 April 2013

TAFSIR ARRAZI



                         TAFSIR MAFATIH AL-GHAIB

AMALKAN AL-QUR'AN
Biografi Fakhruddin Ar Razi
Nama lengkap beliau Abu Abdillah, Muhammad bin Umar  bin Alhusain bin Alhasan Ali, At Tamimi, Al Bakri At Thabaristani Ar Rozi. beliau di juluki sebagai Fakhruddiin ( kebanggaan islam), dan dikenal dengan nama Ibnu Al khatiib, yang bermadzhabkan Syafi’i. Beliau lahir pada tahun 544 H.[1][1]
Imam Fakhruddin Ar Razi tidak ada yang menyamai keilmuan pada masanya, ia seorang mutakallim pada zamannya, ia ahli bahasa, ia Imam tafsir dan beliau sangat unggul dalam berbagai disiplin ilmu. Sehingga banyak orang-orang yang datang dari belahan penjuru negeri, untuk meneguk sebagian dari keluasan ilmu beliau. Imam Fakhruddin dalam  memberikan hikmah pelajaran beliau menggunakan bahasa arab dan bahasa asing.
Ia juga seorang dokter pada zamannya. Imam Fakhruddin telah menulis beberapa komentar terhadap buku-buku kedokteran. Pada usia 35 tahun, ia telah menerangkan bagian-bagian yang sulit dari al-qanun fi al-tibb kepada seorang dokter terkemuka di Sarkhes, yaitu Abd al-Rahman bin Abd al-Karim.
Imam Fakhruddin Ar Razi wafat pada tahun 606 H. Dikatakan beliau meninggal, ketika beliau berselisih pendapat dengan kelompok Al karamiah tentang urusan aqidah, mereka sampai mengkafirkan Fakhruddin Ar Razi, kemudian dengan kelicikan dan tipu muslihat, mereka meracuni Ar Razi, sehingga beliau meninggal dan menghadap pada Rabbi Nya[2][2] Ringkasnya Fakhruddien adalah salah seorang tokoh intelektual besar di dalam sejarah pemikiran dan peradaban Islam, ia meguasai berbgai disipkin ilmu  seperti al-Quran, Hadits, Tafsir, Fiqih, Ushul Fiqih, sastra arab, perbandingan agama, logika ,Matematika dan kedokteran. Ia telah menulsi kurang lebih dua ratus karya. Puluhan di antara karyanya telah diterbitkan, namun masih banyak karyanya yang masih dalam bentuk manuyskrip dan beum diterbitkan serta-karyanya yang keberadaannya masih belum diketahuiRingkasnya Fakhruddien adalah salah seorang tokoh intelektual besar di dalam sejarah pemikiran dan peradaban Islam, ia meguasai berbgai disipkin ilmu  seperti al-Quran, Hadits, Tafsir, Fiqih, Ushul Fiqih, sastra arab, perbandingan agama, logika ,Matematika dan kedokteran. Ia telah menulsi kurang lebih dua ratus karya. Puluhan di antara karyanya telah diterbitkan, namun masih banyak karyanya yang masih dalam bentuk manuyskrip dan beum diterbitkan serta-karyanya yang keberadaannya masih belum diketahui.
Ringkasnya Fakhruddien adalah salah seorang tokoh intelektual besar di dalam sejarah pemikiran dan peradaban Islam, ia meguasai berbgai disipkin ilmu  seperti al-Quran, Hadits, Tafsir, Fiqih, Ushul Fiqih, sastra arab, perbandingan agama, logika ,Matematika dan kedokteran. Ia telah menulsi kurang lebih dua ratus karya. Puluhan di antara karyanya telah diterbitkan, namun masih banyak karyanya yang masih dalam bentuk manuyskrip dan beum diterbitkan serta-karyanya yang keberadaannya masih belum diketahui.
Karya-karya Imam Fakhruddin Ar Razi
Imam Fakhruddin Ar Razi menguasai berbagai bidang keilmuan seperti al-Qur’an, al-Hadith, tafsir, fiqh, usul fiqh, sastra arab, perbandingan agama, filsafat, logika, matematika, fisika, dan kedokteran. Selain telah menghafal al-Qur’an dan banyak al-Hadits, Fakhruddin al-Razi telah menghafal beberapa buku seperti al-Shamil fi Usul al-Din, karya Imam al-Haramain, al-Mu‘tamad karya Abu al-Husain al-Basri  dan al-Mustasfa karya al-Ghazali. Intelektual sezaman dengan Fakhruddin al-Razi; di antaranya Ibn Rushd, Ibn Arabi, Sayfuddin al-Amidi dan Al-Suhrawardi.
Kecerdasan dan keilmuan beliau sangat tinggi, berbagai macam ilmu dipelajari dan dikuasainya, hal itu bisa dibuktikan dengan kitab-kitab karangan beliau, yang terdiri dari berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan, dan tak heran jika Ibnu Katsir dalam bidayah wan nihayahnya menyebutkan, bahwa karya tulis beliau mencapai sekitar dua ratusan buku. Dan kini karangan-karangan beliau tersebar diseluruh Negara, diantaranya adalah :
  • At Tafsir Al Kabiir atau yang kita kenal dengan Mafaatihul Gaib.
  • Al arba’in fi ushuluddiin
  • Ahkamul qiyaasi As syar’i
  • Al mahsul fi ilmi usul fiqh
  • Mukhtashar akhlak
  • Al mantiqul kabiir
  • Tafsir Al-Fatihah
  • Tafsir Surah Al-Baqarah ala Wajhi Aqli la Naqli
  • Tafsir Mafatihul Ulum
  • Nihayatul Uqul fi Dirayatil Ushul
  • Ta’sisut Taqdis
  • Tahshilul Haq
  • Al-Khamishin fi Ushuliddin
  • Ishmatul Anbiya’
  • Hudutsul Alaam
  • Sarh Asmaulllah Al-Husna
  • AL-Muhshil fi Ilmil Kalam
  • Thariqah fil Kalam
  • Az-Zubdah fi Ilmil Kalam
  • AL-Mulakhash fil Falsafah
  • Lubabul Isyaraat
  • Mabahitusl Jidal
  • Sarh Nahjul Balaghah
  • Al-Muharrar fi Haqaiqin Nahwi
  • Manaqib Imam Syafi’i

Sekilas tentang Tafsir Kabiir
Tafsir ini juga dikenal sebagai Tafsîr al-Kabîr atau Tafsîr ar-Râzi. Ada riwayat yang menjelaskan bahwa Ar-Razi tidak menyelesaikan tafsir ini secara utuh (sampai surat al-Anbiyâ’ saja), seperti yang dituturkan adz-Dzahabi dalam kitabnya menukil pendapat Ibnu Qadhi Syuhbah dan Ibnu Khalkân. Adapun yang melanjutkan adalah Syihabuddîn bin Khalîl al-Khûyi (w. 639 H.) dan Najmuddîn Ahmad bin Muhammad al-Qamûli (w. 727 H.) yang melengkapinya lebih lanjut, demikian merujuk keterangan dari Ibnu Hajar al-‘Asqalâni dan Malâ Kâtib Jalbi.
Sayyid Muhammad Ali Iyazi, dengan merujuk keterangan Muhsin Abdul Hamid, dalam hal ini memberikan klarifikasi bahwa sekelompok pembahas menetapkan kitab tafsir ini sebagai karya mandiri dari Fakhruddin ar-Razi secara utuh. Karenanya, pendapat sebelum ini dianggap syubhat (meragukan) dan tidak bisa dijadikan pegangan.
Tafsir Mafaihul Ghaib atau yang dikenal sebagai Tafsir al-Kabir dikategorikan sebagai tafsir bir ra’yi (tafsir yang menggunakan pendekatan aqli), dengan pendekatan Mazhab Syafi’iyyah dan Asy’ariyah. Tafsir ini merujuk pada kitab Az-Zujaj fi Ma’anil Quran, Al-Farra’ wal Barrad dan Gharibul Quran, karya Ibnu Qutaibah dalam masalah gramatika.
Riwayat-riwayat tafsir bil ma’tsur yang jadi rujukan adalah riwayat dari Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Sudai, Said bin Jubair, riwayat dalam tafsir At-Thabari dan tafsir Ats-Tsa’labi, juga berbagai riwayat dari Nabi saw, keluarga, para sahabatnya serta tabi’in.
Sedangkan tafsir bir ra’yi yang jadi rujukan adalah tafsir Abu Ali Al-Juba’i, Abu Muslim Al-Asfahani, Qadhi Abdul Jabbar, Abu Bakar Al-Ashmam, Ali bin Isa Ar-Rumaini, Az-Zamakhsyari dan tafsir Abul Futuh Ar-Razi.
Ada riwayat yang menjelaskan bahwa Ar-Razi tidak menyelesaikan tafsir ini secara utuh. Ibnu Qadi Syuhbah mengatakan, “Imam Ar Razi belum menyelesaikan seluruh tafsirnya”. Ajalnya menjemputnya sebelum ia menyelesaikan tafsir Al Kabiir. Ibnu Khulakan dalam kitabnya wafiyatul a’yan nya juga berkata demikian.Jadi siapa yang menyempurnakan dan menyelesaikan tafsir ini?dan sampai dimana beliau mengerjakan tafsirnya?[3][4]
Ibnu hajar Al ‘Asqalani menyatakan pada kitabnya ,” Yang menyempurnakan tafsir Ar Razi adalah Ahmad bin Muhammad bin Abi Al Hazm Makky Najamuddin Al Makhzumi Al Qammuli, wafat pada tahun 727 H, beliau orang mesir.[4][5] Dan penulis kasyfu Ad dzunuun juga menuturkan,” Yang merampungkan tafsir Ar Razi adalah Najamuddin Ahmad bin Muhammad Al Qamuli, dan beliau wafat  tahun 727 H. Qadi Al Qudat Syahabuddin bin Khalil Al Khuway Ad Dimasyqy, juga menyempurnakan apa yang belum terselesaikan, beliau wafat tahun 639 H.[5][6]
Kemudian, sampai dimana Ar Razi terhenti dalam menulis tafsirnya? DR. Muhammad Husain Ad Zahabi menjelaskan pada kitabnya tafsir al mufassiruun,” Imam Fakhruddin telah menulis tafsirnya sampai surah Al Anbiya, setelah itu datang Syahabuddin Al Khuway melanjutkan tafsir ini, namun beliau belum menyelesaikan seluruhnya, kemudian datang Najamuddin Al Qamuli menyempurnakan tafsir Ar Razi. Ad Zahabi juga mengatakan bisa jadi yang menyelesaikan tafsir Ar Razi sampai akhir adalah Al Khuway.
Namun, Sayyid Muhammad Ali Iyazi, dengan merujuk pada keterangan Syaikh Muhsin Abdul Hamid, memberikan klarifikasi bahwa sekelompok mufasir era  belakangan yang meneliti tafsir ini menetapkan kitab tafsir ini sebagai karya mandiri dari Ar-Razi secara utuh.
Fakhruddin ar-Razi sangat mementingkan korelasi antar ayat-ayat al-Qur’an dan surat-suratnya, di samping penjelasan secara panjang lebar tentang tata bahasa (gramatika). Walau mencakup pembahasan yang ekstensif mengenai permasalahan filsafat, di antara berbagai aspek dari tafsir ini yang paling penting adalah pembahasan tentang ilmu kalam. Pembahasan ini memuat persoalan-persoalan yang berhubungan dengan Allah Swt. dan eksistensi-Nya, alam semesta, dan manusia, yang dikaitkan dengan ilmu pengetahuan alam, astronomi, perbintangan (zodiak), langit dan bumi, hewan dan tumbuh-tumbuhan, serta bagian-bagian tubuh manusia.
Tafsir ini merujuk pada kitab Az-Zujaj fi Ma’ani al-Qur’an, Al-Farra’ wa al-Barrad, dan Gharib al-Qur’an karya Ibnu Qutaibah dalam masalah gramatika. Riwayat-riwayat (tafsir bi al-ma’tsur) yang jadi rujukan adalah riwayat dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, Suday, Sa’id bin Jubair, riwayat dalam Tafsir at-Thabari (Jâmi’ al-Bayân) dan Tafsir Ats-Tsa’labi (Al-Kasyf wa al-Bayan), juga berbagai riwayat dari Nabi Saw, keluarga dan para sahabatnya, serta tabi’in. Sedangkan Tafsir bi ar-Ra’yi yang jadi rujukan ialah Tafsir Abu Ali al-Juba’i, Abu Muslim al-Asfahani, Qadhi Abd al-Jabbar, Abu Bakar al-Asham, Ali bin Isa ar-Rummani, az-Zamakhsyari, Tafsir-tafsir Persia, dan Tafsir Abu al-Futuh ar-Razi.


Metodologi Tafsir Ar Razi
  1. Perhatiannya dengan menjelaskan munasabah antar surah
Dr. Ad Zahabi menjelaskan, bahwa Ar Razi sangat mementingkan munasabah antar ayat dengan ayat lain, dan surah dengan surah yang lain, bahkan Ar Razi tidak hanya menyebutkan satu munasabah saja, tapi menyebutkan banyak munasabah.
  1. Perhatian Ar Razi pada ilmu riyadhiyah, dan fisafat.
Ar Razi dalam tafsirnya sangat memperhatikan terhadap ilmu riyadhiyah( ilmu pasti), filsafat dan lain sebagainya. Beliau juga memaparkan argumen-argumen filsafat kemudian membantahnya dengan argumen yang lebih kuat.Walaupun beliau membantah dengan menggunakan dalil akal, namun tetap sejalan dengan keyakinan ahlusunnah.
Penulis kasyfu ad zunuun mengatakan,” Didalam tafsir Ar Razi terdapat begitu banyak perkataan-perkataan mutakallimiin dan filosof. Ia keluar dari permasalahan kepermasalahan yang lain, sehinggga membuat pembaca mengagumi tafsir beliau”.
  1. Sikap beliau terhadap  Muktazilah
Ar Razi, beliau sangat serius dalam menghadapi muktazilah, dalam tafsirnya, terlebih dahulu beliau memaparakan pendapat-pendapat muktazilah dan kemudian beliau membantah dengan argumen yang kuat. Ibnu Hajar pernah mengatakan,” Bahwa Ar Razi dicela karena banyak meriwayatkan syubhat secara tunai dan mengatasinya secara kredit”. Namun hal ini tidak mengurangi kehebatan beliau sebagai seorang ulama yang memperjuangkan agama islam.
  1. Pandangannya terhadap Ilmu Fiqih, Usul, Nahwu dan Balaghah.
Fakhru Ar Razi hampir-hampir tidak melewatkan ayat-ayat hukum kecuali beliau sebutkan semua mazhab-mazhab  fiqih.[6][7]Begitu juga ketika beliau memaparkan masalah-masalah fiqih, nahwu dan balaghah, namun beliau tidak berbicara panjang lebar pada masalah tersebut lebih dari pembahasan beliau yang berkaitan dengan alam ini, dan riyadhiah.[7][8] Dengan keluasan dan pemahaman beliau terhadap ilmu fiqih, sampai-sampai beliau pernah mengutarakan,”Ketahuilah suatu waktu, terlintas pada lisanku, bahwa surat yang mulia ini yaitu Al fatihah bisa ditarik hikmah-hikmah dan permasalahan sebanyak sepuluh ribu.[8][9]
JAKARTA  6/4/2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman