Jumat, 05 April 2013

TAFSIR AL-QURTHUBI


                        IMAM AL-QURTHUBI

Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr bin Farh al-Anshari al-Khazraji al-Andalusi al-Qurthubi, seorang ahli tafsir dari Cordova (sekarang bernama Spanyol). Ia berkelana ke negeri timur dan menetap di kediaman Abu Khusaib (di selatan Asyut, Mesir). Dia salah seorang hamba Allah yang shalih dan ulama yang arif, wara’ dan zuhud di dunia, yang sibuk dirinya dengan urusan akhirat. Waktunya dihabiskan untuk memberikan bimbingan, beribadah dan menulis.
Karya-Karya Beliau
Dia adalah menulis mengenai tafsir al-Qur’an, sebuah kitab besar yang terdiri dari 20 jilid, yang diberinya judul: “Al-Jami’ liahkam al-Qur’an wa al-Mubayyin Lima Tadhammanahu Min as-Sunnah wa Ayi al-Furqan”. Kitab ini merupakan salah satu tafsir terbesar dan terbanyak manfaatnya. Penulis tidak mencantumkan kisah-kisah atau sejarah, dan sebagai gantinya, penulis menetapkan hukum-hukum al-Qur’an, melakukan istimbath atas dalil-dalil, menyebutkan berbagai macam qira’at, I’rab, nasikh, dan mansukh.
Al-Asna fi Syarh Asma’illaj al-Husna
At-Tidzkar fi Afdhal al-Adzkar
Syar at-Taqashshi
Qam’ al-Hirsh bi az-Zuhd wa al-Qana’ah
FAHAMI AL-QUR'AN
At-Taqrib likitab at-Tamhid
Al-I’lam biima fi Din an-Nashara min al-Mafasid wa al-Auham wa Izhharm Mahasin Din al-Islam
At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa umur al-Akhirah (edisi Indonesia: Buku Pintar Alam Akhirat)
Guru-Guru Beliau
Beliau mendengar pelajaran dari Syaikh Abu al-Abbas Ahmad bin Umar al-Qurthubi dan meriwayatkan dari al-Hafizh Abu Ali al-Hasan bin Muhammad bin Hafsh dan lain sebagainya.
Beliau tinggal di kediaman Abu al-Hushaib.
Wafat Beliau
Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi meninggal dan dimakamkan Mesir yaitu dikediaman Abu al-Hushaib, pada malam senin, tanggal 09 Syawwal tahun 671 H. semoga Allah merahmati dan meridhai beliau.
Sumber: Lihat dalam Al-A’lam karya Az-Zirikli, 5/322. dan Hadiyyatul ‘Arifin, karya Al-Babani, 2/129.
Tafsir Terbaik Dalam Hukum
Kitab Tafsir Al-Qurthubi diyakini sebagian besar ulama sebagai salah satu kitab tafsir terbaik dalam menguraikan kandungan hukum Al-Quran.
Sebagaimana kitab-kitab hadits yang masing-masing mempunyai corak dan keunggulan dari segi pemaparan, beberapa kitab tafsir Al-Quran pun mempunyai ciri, corak dan keunggulan yang berbeda. Setelah sebelumnya kita menampilkan karya-karya tafsir yang menonjol dari sisi metodologi dan periodisasi, kali ini kita akan mengapresiasi kitab tafsir yang dianggap memiliki keunggulan dari sisi pengungkapan kandungan hukum ayat-ayatnya.

Tafsir ini memiliki judul asli Al-Jâmi’Li Ahkâm al-Qur`ân. Namun karena disusun oleh Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Farh Al-Anshâri Al-Khazraji Al-Andalusi Al-Qurthubi, belakangan kitab tafsir ini lebih populer dengan sebutan Tafsir Al-Qurthubi atau Tafsir Qurthubi saja.
Corak Penafsirannya
Dalam menafsirkan ayat, Imam Qurthubi menggunakan alur yang sangat sistematis yang dimulai dari menuliskan ayat yang akan ditafsirkan. Setelah itu memberikan komentar atau penjelasan, termasuk asbabun nuzul atau sebab-sebab turunnya ayat. Dilanjutkan dengan penjelasan kosa kata yang rumit, ulasan tentang perbedaan bacaan dan kedudukan tata bahasanya, mencantumkan hadits yang mengulas masalah tersebut lengkap dengan sanad dan ulasan kualitasnya, serta menukil dan mengomentari perkataan para imam dan ulama fuqaha, serta pendapat ulama salaf lain dan pengikutnya.
Terakhir ia juga mencantumkan nomor urut setiap masalah hukum yang terdapat dalam suatu ayat. Karena itulah, jika dibanding tafsir-tafsir lain, Tafsir Qurthubi ini dikenal sangat padat dengan kajian hukum dan enak dibaca.
Selain dilengkapi dengan pendapat ahli fiqih, argumentasi penafsiran Imam Qurthubi juga banyak dikuatkan dengan syair arab dan pendapat para ahli tafsir sebelumnya seperti Ibnu Jarir, Ibnu Athiya, Ibnu Arabi, Ilya Al-Harasi, dan Al-Jasshash, yang ditambah dengan komentarnya sendiri.
Dalam kitab tersebut, Al-Qurthubi juga banyak mengesampingkan kisah-kisah para ahli sejarah dan periwayatan Israiliyat, kecuali yang benar-benar dianggapnya sangat penting untuk menjelaskan suatu hukum. Dalam muqaddimah Tafsir Qurthubi, sang imam menegaskan, “Dan saya mengesampingkan banyak sekali kisah-kisah dan berita-berita yang ditulis oleh sejarawan, kecuali hal yang memang saya anggap perlu.”
Sepanjang hidupnya, Imam Qurthubi meninggalkan banyak karya ilmiah keislaman yang berbobot. Selain kitab tafsir Al-Jâmi’Li Ahkâm Al-Qur`ân atau Tafsir Al-Qurthubi, Imam Muhammad Al-Qurthubi juga menulis Syarh At-Taqsa (Penjelasan yang Mendalam), Al-Asna fi Syarhi Asma-il Husna (Uraian Luas Mengenai Asmaul Husna), At-Tadzkirah Fi Umuril Akhirah (Peringatan tentang Seputar Hari Kiamat), Qam’ul Hirts Biz Zuhdi Wal Qana’ah Wa Radduzh Zhill bil Kutub wasy Syafa’ah (Memerangi Ketamakan Dengan Zuhud Dan Qana’ah, dan Menjawab Pertanyaan Yang Buruk dengan Al-Quran dan Syafaat) dan Urjuza, kitab yang menghimpun nama-nama Nabi Muhammad SAW.
Dari daftar karyanya tampak jelas bahwa Imam Qurthubi lebih banyak mengupas persoalan akhlaq dan tasawuf. Meski demikian, entah mengapa, ia jarang disebut dalam jajaran ulama sufi.
Imam Qurthubi juga jarang disebut dalam jajaran ulama mutakallimin (ahli ilmu kalam), meski dalam karya-karyanya ia cenderung membela aliran Asy’ariyyah. Dalam buku Al-Asnâ Fî Syarh Asmâ` al-Husnâ, misalnya, ia banyak menukil pendapat para imam Asy’ariyyah seperti Al-Juwaini, Al-Baqillani, Ar-Razi, Ibn ‘Athiyyah dan sebagainya.
Demikianlah, setelah menebar kebajikan dan memancarkan cahaya ilmu, Imam Muhammad Al-Qurthubi wafat dan dimakamkan di Mun-yat Abil Khusayb, Mesir pada 9 Syawwal 671 H/1272M.
JAKARTA  5/4/2013


1 komentar:

  1. Assalaamualaikum wr wb.
    Terimakasih atas artikel ini, sangat membantu. Kalau boleh tahu, minta rujukannya kang.

    BalasHapus

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman