Senin, 22 April 2013

PERINGATAN NABI



                         LALU BERILAH Peringatan !
1. [1] Wahai orang yang berkemul (berselimut)[2],2. bangunlah, lalu berilah peringatan[3]!
3. dan agungkanlah Tuhanmu[4],4. dan bersihkanlah pakaianmu[5],
5. dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji[6],
6. dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak[7].7. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah[8].8. Maka apabila sangkakala ditiup[9],
9. maka itulah hari yang serba sulit,10. bagi orang-orang kafir tidak mudah[10].Al-Mudatstsir
Muqaddimah
Surat ini di namakan Al-Mudatssir dikenal melalui apa yang tertera dalam mushaf Al-Quran sejak dahulu, ini adalah nama satu-satunya buat kumpulan ayat-ayat ini ( tafsir al misbah).
Kedudukan makiyah dan madaniyah :
Makiyah menurut ibnu Attok ( ruhul ma’ani )
Makiyah menurut jumhur ulama karena turunnya sebelum nabi hijrah ke madinah ( tafsir al misbah).
Ayat ini sebagian yakni 19 ayat madani dan yang lainnya makiyah ( tafsir ruh al ma;ani)
Tafsir Ayat
tafsir lughowi
kata Al-mudatsir ( ÏoO£‰ßJø9$ #) terambil dari kata (iddatsara), kata ini apapun bentuknya tidak dapat di temukan dalam Al-Qur’an keculai sekali yaitu pada awal surat ini.
 Iddstsara yang berarti mengenakan yaitu sejenis kain yang di letakkan diatas baju yang di pakai dengan tujuan menghangatkan (selimut) disepakati oleh para ulama tafsir bahwa yang dimaksud dengan yang berselimut adalad Nabi Muhammad Saw.( tafsir al misbah , 548 )
Kata Al-Mudastsir dengan tasdid dal dan sha asalnya Al-mutadassir berupa isim fail dari kata Tadassur yang berarti memakai pakaian ketika tidur ( tafsir al munir, 87).
Kata al mudatsir aslanya Al- mutadatssir yang di idgom kan dengan kasroh huruf dal yang artinya pakaian yang menutupi semua badan ( ruh al-ma’ani, 144)
tafsir Riwa’iy
Diriwayatkan oleh Bukhory : telah kerusakan (puncak) kepayahan atau dengan kata lain pada riwayat At- thobari : aku mengira bahwa itulah kematian, yakni perasaan takut yang karen a pandangannya kepada para malaikat yang diberi sifat oleh Al-Qur’an sebagai”yang mempunyai kekuatan di sisi Allah, pemilik Ars ”. ( tafsir al misbah, 549).
Tafsir ijmali
Ayat ini memerintahkan nabi Muhammad Saw : hai yang berselimut yakni Nabi Muhammad, bangkitlah dengan sempurna dan giat, lalu berilah peringatan mereka yang lengah dan melupakan Allah. ( tafsir al misbah, 548 ).
tasfir tafsili
ÏoO£‰ßJø9$ yakni orang yang berselimut ( tafsir al misbah).
Almudatsir yakni tugas kenabian ( an nukut wal uyun)
Al mudtassir yakni pakain ketika tidur ( jamiul bayan).
Asbabun Nuzul
Al-Bukhari meriwayatkan dari dari Jabir bin Abdullah, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam menuturkan masa turunnya wahyu. Beliau bersabda, “Tatkala aku sedang berjalan, tiba-tiba kudengar sebuah suara yang berasal dari langit. Aku mendongakkan pandangan ke arah langit. Ternyata di sana ada malaikat yang mendatangiku di gua Hira’, sedang duduk di sebuah kursi, menggantung di antara langit dan bumi. Aku mendekatinya hingga tiba-tiba aku terjerebab ke atas tanah. Kemudian aku menemui keluargaku dan kukatakan, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku!’”. Lalu Allah menurunkan surat Al-Muddatstsir: 1 – 5. Setelah itu wahyu datang secara berturut-turut.

Rasulullah kemudia meminta agar dikompres ubun-ubunnya dengan air dingin.
Lalu turunlah surat Al Muddatstsir ayat 1-3.
Ketiga ayat tersebut diakhiri dengan huruf ra yang sebelumnya berbunyi kasrah, maka dibaca dengan tarqiq (seperti tersenyum).

Dalam surat Al Muddatstsir Allah memanggil bukan dengan nama, melainkan dengan perbuatan Rasulullah, yang saat itu sedang berselimut. Hal itu adalah bentuk penghormatan. Seperti juga ketika Rasulullah memanggil Aisyah dengan wahai Humairah, wahai yang berpipi merah. Seperti juga ketika kita memanggil seseorang yang kita hormati dengan jabatannya.
Kandungan Surat Al-Muddatstsir
Salah satu episode penting dalam kehidupan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam adalah pada saat beliau menerima wahyu dari Allah melalui perantara malaikat Jibril. Jumhur ulama berpendapat bahwa ayat yang mula-mula turun adalah firman Allah SWT Q.S. Al-‘Alaq: 1 – 5. Namun setelah itu wahyu terputus untuk sementara waktu. Tentang jangka waktu terputusnya wahyu, Ibnu Sa’d meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang intinya menjelaskan bahwa jangka waktunya adalah beberapa hari. Pada masa-masa terputusnya wahyu itu, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam ketakutan dan dirundung duka, namun kedukaannya segera sirna tatkala tanda-tanda kebenaran mulai membias, beliau menyadari secara yakin bahwa beliau benar-benar telah menjadi utusan Allah.
Sepintas lalu, perintah yang terkandung dalam Q.S. Al-Muddatstsir merupakan perintah-perintah yang sederhana, namun pada hakikatnya mempunyai tujuan yang jauh, berpengaruh sangat kuat dan nyata. Secara garis besar surat Al-Mudatsir terbagi menjadi 5 penggalan:
1.        Al-Maqto Al-Awal
a.       Diawali dengan panggilan Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk memikul urusan yang besar
b.      Allah seakan menserabut nabi saw dari keadaan berselimut menuju jihad
c.       Taujih untuk bersiap-siap
d.      Taujih kepada Rasulullah dalam memikul urusan yang besar
Bekal rasulullah dalam mengemban risalah, memakai taujih robbani:
-          Robbaka fakabbir
-          Tsiabaka fathahhir
-          Arrujza Fahjur
-          La tamnun tastaqtsir
-          Lirobbika fasbir

2.        Al-Maqto Ats-Tsani
Ancama Allah kepada yang mendustakan hari akhirat

3.        Al-Maqto Ats-Tsalits (mulai dari ayat 11-31)
Berisi tentang 3 hal:
* Ciri atau sifat orang yang mendustakan
a.       Allah memberikan kekayaan yang sangat banyak
b.      Putra-putra yang mash hidup yang hadir dengannya
c.       Allah melimpahkan kenikmatan dan kedudukan
d.      Ia ingin agar Allah menambah nikmatnya
e.      Sangat membangkang terhadap ayat-ayat Allah

*Penyebab Allah menyatakan perang dengan pendusta
a.  Ia telah berpikir tentang Al-qur’an, sudah menyiapkan penilaian, berpikir sangat serius dan mendalam
b.      Lalu ia mengulangi dan mengulangi apa yang ia pikirkan
c.       Wajahnya menjadi muram dan menghitam
d.      Menyombongkan diri
e.      Menyatakan Al-qur’an adalah sihir

*Nasib atau perjalanan akhir sang pendusta
Jalan akhirnya menuju neraka

4.    Al-Maqto Al-Rabi (Mulai dari ayat 32-48)
Pembicaraan tentang neraka saqor;
a.       Masyahid kauniyah (Pemandangan alam semesta)
b.      Maqom ( Kedudukan ornag-orang yang berbuat dosa)
c.       Maqom (Kedudukan Ash-shob Al-Yamin) à menanyakan kepada para pendosa akan dosa-dosa mereka
d.      Pengakuan orang-orang yang berbuat buruk/dosa
Kesalahan:
·      Tidak melaksanakan sholat
·      Tidak mengindahkan fakir miskin
·      Suka buang-buang waktu
·      Mendustakan hari pembalasan

5.    Al-Maqto Al-Khamis (pada bagian terakhir surat)
Tentang sikap Al-Mukadzibin terhadap dakwah (berlari dari tugas-tugas dakwah)
Penyebab:
a.       Hasad (Iri/dengki)
b.      Takut kepada Allah

Referensi:
Shirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri

Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir lainnya
JAKARTA  22/4/2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman