Selasa, 09 April 2013

TAFSIR AL-BAHR AL-MUHITH





                              TAFSIR  ABU  HAYYAN
MEMAHAMI AL-QUR'AN
Nama Mufassir
Abu ‘Abdillah, Muhammad bin Yusuf bin ‘Ali bin Yusuf bin Hayyan al-Andalusy al-Gharnathy, yang lebih dikenal dengan nama Abu Hayyan.
Lahir tahun 654 H dan wafat tahun 745 H.
Nama Kitab
Nama kitab tafsirnya adalah al-Bahr al-Muhîth. (atau sering dikenal dengan Tafsir Abi Hayyan-red.,)
‘Aqidahnya
Beliau adalah seorang penakwil dan beraqidah Asy’ariyyah (yang bertentangan dengan ‘aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah) dengan menjadikan referensi utamanya dalam hal ini pendapat Ibn ‘Athiyyah, az-Zamakhsyary, ar-Râzy dan al-Bâqillâny.
Spesifikasi Umum
Kitab tafsir ini merupakan rujukan yang penting bagi siapa saja yang ingin mencari aspek-aspek I’râb (penguraian kalimat) bagi lafazh-lafazh al-Qur’an sebab pengarang begitu mendalam di dalam mengkaji masalah-masalah Nahwu dan berbagai perbedaan pendapat di kalangan para ahli Nahwu. Beliau juga banyak menukil pendapat az-Zamakhsyary dan Ibn ‘Athiyyah dengan tidak lupa memberikan komentar terhadap keduanya, khususnya terhadap az-Zamakhsyary dari sisi pendapat-pendapat Mu’tazilah-nya.
Kemudian di akhir tafsirnya, pengarang menutupnya dengan untaian prosa guna menjelaskan isi ayat-ayat tersebut berdasarkan makna-makna yang dipilihnya secara ringkas.
Sikapnya Terhadap Hukum-Hukum Fiqih
Tidak lupa, pengarang memaparkan juga hukum-hukum fiqih dan menukil pendapat-pendapat para ulama empat madzhab dan selain mereka dan mengarahkan rujukannya kepada kitab-kitab fiqih.
Sikapnya Terhadap Aspek Bahasa, Nahwu Dan Sya’ir
Pengarang begitu mendalam di dalam mengkaji masalah-masalah I’râb dan Nahwu sehingga kitabnya ini lebih dekat untuk disebut sebagai kitab Nahwu ketimbang kitab Tafsir.
Di akhir tafsirnya terhadap ayat-ayat, beliau menyinggung tentang Ilmu Bayân dan Badi’. Maka, pantaslah beliau mendapatkan predikat sebagai Imam di dalam masalah Nahwu dan Bahasa Arab.
Sikapnya Terhadap Qirâ`ât
Beliau mengumpulkan Qirâ`ât- Qirâ`ât (jenis-jenis bacaan) yang mutawatir dan juga yang Syâzz (langka, kurang masyhur), dan menyebutkan pengarahannya (alias maksud dan tujuannya) di dalam ilmu bahasa Arab. Beliau juga menukil perkataan ulama Salaf dan Khalaf di dalam memahami makna-maknanya, tidak membiarkan satu katapun terlewati meski sudah masyhur melainkan tetap mengomentarinya dan menyingkap sisi-sisi kerumitan di dalam hal I’râb, ilmu Badî’ dan Bayân-nya.
(SUMBER: al-Qawl al-Mukhtashar al-Mubîn Fî Manâhij al-Mufassirîn, karya Abu ‘Abdillah, Muhammad AliHamud an-Najdy, hal.37-38)
JAKARTA  9/4/2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Halaman