Selasa, 26 Maret 2013

DENDAM KESUMAT:Merusak Persaudaraan





           BERSIHKAN Hati Kita Dari Dendam Kesumat !
“Janganlah kamu putus hubungan, belakang membelakangi, benci membenci, hasut menghasut. Hendaknya kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara satu sama yang lain (yang muslim) dan tidaklah halal bagi (setiap) muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari”. (HR. Bukhori dan Muslim)
Muqaddimah
SENGSARA
Banyak sudah korban yang berjatuhan oleh karena adanya tindakan balas dendam atau yang lazim disebut dengan dendam kesumat yang dilakukan oleh seseorang kepada yang lainnya.
Balas dendam adalah tindakan emosional tanpa memikirkan akibat buruk yang akan ditimbulkan di kemudian hari. Tindakan semacam ini dilatarbelakangi oleh banyak faktor yang tidak mampu dikontrol lagi secara manusiawi.Itu sebabnya banyak pula yang mengklaim akibat perbuatan ini sebagai yang tidak manusiawi.Mengapa?
Munculnya rasa balas dendam dikarenakan oleh hawa nafsu. Itulah salah satu kelebihan manusia yang diberikan Allah kepadanya ialah adanya hawa nafsu yang tidak diberikan kepada makhluq-Nya yang lain.
Pengertian
Pengertian dendam menurut bahasa adalah rasa ingin melakukan pembalasan. Sedangkan, menurut Syar’i, dendam adalah menyimpan permusuhan di dalam hati dan menunggu kesempatan untuk melepaskannya. Allah SWT berfirman,
”32. dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
Selain itu Rasulullah SAW juga pernah bersabda,
  • “Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama dari puasa, shalat dan shadaqoh?, Jawab sahabat: “Tentu mau”. Sabda Nabi saw: “yaitu mendamaikan di antara kamu, karena rusaknya perdamaian di antara kamu adalah menjadi pencukur yakni perusak agama”. (HR. Abu Daud dan Turmudzi).
  • “Janganlah kamu putus hubungan, belakang membelakangi, benci membenci, hasut menghasut. Hendaknya kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara satu sama yang lain (yang muslim) dan tidaklah halal bagi (setiap) muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari”. (HR. Bukhori dan Muslim)
Penyebab & Akibat Dendam
Dendam adalah penyakit hati yang diajarkan Islam untuk menghindarinya.
Dendam disebabkan sempitnya hati, dangkalnya iman, tak memiliki rasa murahhati sehingga sulit memaafkan kesalahan orang.
Akibatnya hanya akan kembali kepada dirinya sendiri, di mana dirinya akan selalu mendapatkan kesulitan atas perbuatan dendamnya. Selain itu dendam akan menyebabkan perpecahan dan pertikaian dalam Islam.
Bentuk Dendam
Ada beberapa bentuk dendam, yaitu
  • Rasa ingin membalas pada orang yang pernah menyakitinya
  • Rasa ingin melampiaskan rasa dendam pada orang yang tidak menyakitinya
Hikmah
Sebagai orang islam, kita dilarang untuk mempunyai sifat dendam, karena dendam hanya akan menyebabkan perpecahan dan pertikaian dalam Islam
Menghindari Rasa Dendam
Jika kita merujuk kepada sejumlah ayat Alquan al-majid atau hadis Rasulullah saw maka kita akan menemukan beberapa jalan keluar sebagai alternatif pilihan untuk menghindari dan menjauhi balas dendam itu.
Pertama, sabar. Ada yang mendefinisikannya sebagai sikap tabah dan tahan uji terhadap segala masalah yang akan muncul sebagai akibat logis dari sikap itu. Kesabaran itu pun mempunyai batas.
Tindakan balas dari orang yang sabar kepada orang yang pernah menyakiti hatinya tidak akan melampaui batas perbuatan yang menimpanya dahulu, karena ada petunjuk Allah dalam hal ini, "Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar"(Q.S. Al-Nahl/16:126).
Kesabaran adalah perbuatan dan tindakan yang terpuji serta berkaitan erat dengan kebenaran. Perhatikanlah firman Allah tatkala mengingatkan para pemimpin yang harus memberi contoh bagaimana seharusnya mengamalkan kesabaran untuk menegakkan prinsip-prinsip kebenaran, "Dan Kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami" (Q.S. Al-Sajdah/32:24).
Bagi orang yang bersabar atas segala macam musibah dan perlakuan dalam kehidupannya ini akan memperoleh balasan dari Allah dengan sebuah janji yang maha benar "Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (Q.S.Al-Nahl/16:96).
Pahala itu akan dinikmatinya di hari kemudian di dalam surga yang serba lux dan penuh dengan fasilitas serta layanan yang amat menyenangkan. Kehidupan di surga yang demikian itu dapat diketahui dari firman Allah yang tertera pada surah Al-Insan/76:12-21.Orang yang sabar memiliki keistimewaan tersendiri, karena "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar".(Q.S. Al-Anfal/8:46).
Kedua, pemaaf. Salah satu sifat yang dipuji Allah adalah sikap seseorang untuk mau memaafkan kesalahan orang lain (Q.S. Ali Imran/3:134). Meski ia terpuji namun sulit untuk diterapkan. Gengsi dan beberapa macam pertimbangan status kemanusiaan merupakan kendala utama bagi perwujudannya. Sekalipun Allah telah menegaskan keutamaan dari sifat senang memaafkan kesalahan orang lain.
Sifat memaafkan dan menyadari kesalahan (tawbat) yang telah diakui oleh orang lain adalah dua hal yang beriringan muncul dari kedua belah pihak adalah juga sifat yang dipuji Allah, karena sesungguhnya "Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan" (Q.S. Al-Syura/42:25).
Jika keadaan beliau itu kita teorikan,maka ada lima pemeringkatan untuk meredam kemarahan yaitu: (1) sudah saatnyakah saya marah, (2) sudah betulkah saya marah, (3) apakah kemarahan saya bisa merubah orang, (4) apakah materi kemarahan saya sudah betul, dan (5) untuk apa saya marah? Ternyata, kemarahan yang muncul dari diri bisa dikontrol dan dikendalikan dengan cara mengedepankan pertimbangan akal daripada emosi.
Tips Dari Dendam
Berikut adalah sejumlah kesadaran yang dapat kita hadirkan dalam hati kita saat seseorang telah berprilaku buruk kepada kita, agar tidak ada dendam yang berkembang dalam hati.
- Ingatlah bahwa perbuatan orang itu kepada kita tidak keluar dari kehendak Allah. Allah menginginkannya itu terjadi dan ada hikmah dibalik itu.
- Ingatlah dosa-dosa kita. Karena tidaklah keburukan menimpa kita melainkan karena sebab dosa-dosa kita. Sibuklah dengan tobat dan istighfar, dari pada sibuk mencela dan mencari-cari cara untuk membalasnya.
- Ingatlah pahala yang sungguh besar bagi orang yang mau memaafkan dan bersabar. “Barangsiapa yang memberi maaf dan melakukan kebaikan, maka pahalanya di sisi Allah.” (QS. Asy Syuuraa: 40)
- Ingatlah bahwa memaafkan dan berbuat baik akan membuat hati kita bersih dari keinginan-keinginan buruk, hasad dan dendam. Dengan itu hati akan merasakan kelezatan yang jauh lebih lezat dari kelezatan melampiaskan dendam.
- Ingatlah bahwa dendam akan membuat jiwa menjadi hina, sedangkan memaafkan akan membuat jiwa menjadi mulia. “Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan melainkan kemuliaan” (HR Muslim)
- Ingatlah bahwa balasan yang kita akan dapatkan sesuai dengan perbuatan yang kita lakukan. Kita pun pasti pernah berbuat zalam dan dosa. Jika kita memaafkan, Allah pun akan memaafkan kita.
- Ingatlah bahwa menyibukkan diri dengan dendam akan menghabiskan waktu dan membuat hati menjadi tidak fokus. Sehingga banyak hal-hal bermanfaat kita lewatkan. Maka jangan sampai musibah lebih besar menimpa kita.
- Ingatlah bahwa Rasulullah tidak pernah sekali pun dendam karena urusan pribadinya. Jika itu terjadi kepada orang yang paling mulia, bagaimana dengan kita?
- Ingatlah bahwa sabar adalah setengah dari keimanan. Jika kita bersabar, maka kita berarti sedang menjaga keimanan kita.
- Ingatlah bahwa dengan bersabar berarti kita telah mengalahkan dan mengendalikan jiwa kita. Karena jiwa yang tidak dapat kita taklukan akan mengajak kita pada kebinasaan.
- Ingatlah bahwa jika kita bersabar, maka Allah pasti akan menolong kita.
- Ingatlah jika kita bersabar, maka itu akan menjadi sebab orang yang telah berbuat zalim kepada kita menyesal dengan tindakannya, malu dan bisa jadi malah mencintai kita, setelah sebelumnya membenci kita. “Balaslah keburukan itu dengan yang labih baik, maka tiba-tiba orang yang tadinya antara kamu dan dia ada permusukan, menjadi seolah-olah seperti teman yang dekat.” (QS. Fushilat: 34)
- Ingatlah bisa jadi jika kita membalas perbuatan buruknya kepada kita, hal itu akan membuatnya semakin bertambah buruk.
- Ingatlah bahwa orang yang biasa mendendam, ia pasti akan terjerumus pada kezaliman. Karena jiwa sulit untuk berbuat adil.
- Ingatlah bahwa kesabaran itu akan menjadi penggugur dosa kita atau pengangkat derajat kita. Dan itu tidak akan kita dapatkan jika kita tidak bersabar dan melampiaskan dendam.
- Ingatlah bahwa sabar dan tidak membalas adalah kebaikan yang akan melahirkan kebaikan yang lain, dan kebaikan itu akan melahirkan kebaikan lagi dan begitu seterusnya. Karena diantara balasan kebaikan itu adalah kebaikan berikutnya.
[Disarikan dari risalah "Qaa`idatun fish shabri" Karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah -rahimahullah-, "Jaami'ul Masaa`il" vol. 1, hal. 177-181]
Kisah-kisah
Abu Sufyan adalah salah seorang tokoh terkemuka di kalangan masyarakat kota Mekkah. Dia seorang yang dihormati, kaya dan pandai dalam melakukan diplomasi. Namun hatinya nyaris tertutup terhadap risalah kebenaran yang dibawakan Nabi. Dia tidak tanggung-tanggung dalam upayanya untuk memusuhi Nabi dan kaum muslimin, baik ketika Nabi dan para sahabatnya masih bermukim di Mekkah, maupun ketika kaum muslimin sudah berada di Madinah.
Beberapa kali Abu Sufyan memimpin ekspedisi militer kaum Quraisy untuk memerangi Nabi. Sekalipun dia terpaksa menanggung malu akibat kegagalan pasukan-pasukan Quraisy untuk menghancurkan kaum muslimin dalam Perang Khandak, dia tetap merasa bahwa kedudukan mereka yang menentang Nabi dan kaum muslimin masih cukup kuat, apalagi setelah kaum Quraisy berhasil “memaksa” kaum muslimin untuk menerima gencatan senjata yang sifatnya merugikan, dalam perjanjian Hudaibiyah.
Namun keangkuhan Abu Sufyan ini berubah menjadi kekhawatiran yang amat sangat, ketika dia menerima informasi bahwa Rasulullah saw menggerakkan kaum muslimin dalam jumlah yang sangat besar pada tahun ke-9 setelah terjadinya peristiwa hijrah, menuju Mekkah sebagai akibat pelanggaran yang dilakukan oleh kaum Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyah.
Dengan meminta bantuan al-Abbas, seorang paman Nabi yang telah menjadi muslim, Abu Sufyan berusaha untuk dapat menemui Nabi, yang dengan pasukan muslim yang amat besar berkemah tidak jauh dari kota Mekkah, untuk mengetahui tujuan dari misi militer muslim itu. Kesadarannya bahwa kaum Quraisy berada di pihak yang salah karena melanggar perjanjian itu, telah mendorongnya untuk berusaha menemui Rasulullah.
Rasa takjubnya yang amat sangat melihat besarnya jumlah pasukan muslim, ketaatan kaum muslimin kepada Rasulullah dan ketakutannya pada bayangan kehancuran kota leluhurnya bila kaum muslimin bergerak menyerbu kota Mekkah, telah membuka hati Abu Sufyan untuk menerima ajaran Islam, ketika dia diterima menghadap Nabi.
Rasulullah yang pernah merasakan kezaliman dari orang-orang Quraisy dan para pemukanya, tidak memiliki rasa dendam terhadap kaum yang menzaliminya itu, dan bahkan memberikan jaminan keamanan kepada penduduk Mekkah yang mencari perlindungan di rumah Abu Sufyan. Rasulullah pun memberikan pengampunan kepada Hindun, isteri Abu Sufyan, padahal Hindun inilah yang melakukan perbuatan keji dengan melakukan mutilasi terhadap jenazah Hamzah ra, yang syahid dalam Perang Uhud; suatu perbuatan yang menjadikan Nabi amat berduka.
Wallahul Musta’an
JAKARTA  27/3/2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman