Kamis, 07 Februari 2013

MEMILIH Dunia atau Akhirat



                               ANTARA Dunia dan Akhirat
 “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32)
Perhiasan Dunia
Seseorang menganggap apa yang ada dalam kehidupan dunia: harta, kekuasaan, dan kekuatan materi sebagai perantara yang dapat digunakan untuk beramal akhirat.
BERBEKAL TAQWA
Oleh karena itu, pada hakikatnya dunia tidak dicela kelezatannya. Pujian dan celaan hanyalah ditujukan kepada perbuatan hamba dalam kehidupan dunia. Dunia merupakan jembatan dan alat penyeberangan yang dapat mengantarkan ke akhirat. Dari dunia, kita beroleh bekal menuju surga. Kehidupan yang baik bergelimang nikmat yang diperoleh penduduk surga hanya didapatkan dengan apa yang mereka tanam di dunia. Dengan demikian, dunia menjadi negeri berjihad, menunaikan shalat, puasa, infak fisabilillah, dan berlomba-lomba dalam hal kebaikan.
Allah l berfirman kepada penduduk surga:
(Dikatakan kepada penghuni surga), “Makan dan minumlah kalian dengan nikmat disebabkan amal saleh yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (al-Haqqah: 24)
Pikiran/pandangan seseorang terbatas dan terfokus untuk mencapai kenikmatan-kenikmatan dunia. Perbuatannya pun semata-mata untuk meraih angan-angan duniawinya. Pikirannya tidak bisa melampaui apa yang ada di balik ambisi dunianya, yaitu akibat-akibat buruk yang bakal diperoleh. Tidak pula ia berbuat untuk kehidupan setelah hidup di dunia, bahkan menaruh perhatian pun tidak! Ia tidak tahu bahwa Allah l menjadikan kehidupan dunia ini sebagai ladang untuk akhirat. Seharusnya ia menjadikan dunia sebagai negeri amal sedangkan akhirat sebagai negeri balasan.
Siapa yang menyibukkan dirinya di dunia ini dengan amal saleh maka ia akan beroleh keberuntungan di dua negeri. Sebaliknya, siapa yang menyia-nyiakan dunia (tidak dipakai untuk beramal saleh) maka akan hilang akhiratnya. Allah l berfirman:
“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (al-Hajj: 11)
Allah l tidaklah menciptakan dunia ini sia-sia. Dia menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung. Allah l berfirman:
“Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah yang paling baik amalannya.” (al-Mulk: 2)
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi bumi untuk Kami menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik amalan/perbuatannya.” (al-Kahfi: 7)

Pembagian Dunia
kitabSyarihul Iman” karya Syaikhina Ahmad Rifa’i rahimahullohu. Sebuah kitab yang membahas tentang iman (aqidah). Beliau mengutip kalam Sayyidina ‘Abdulloh Abnu ‘Abbas  Rodhiyallahu ‘anhuma ;
ان الله تعالي جعل الدنيا ثلاثة اجزاء جزء للمؤمن وجزء للمنافق و جزء للكافر فاالمؤمن يتزود  والمنافق يتزين والكافر يتمتع
 ”Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan dunia menjadi tiga bagian, bagian pertama untuk mukmin, bagian kedua untuk orang munafik, bagian ketiga untuk orang kafir. Maka, seorang mukmin menjadikan dunia sebagai bekal untuk akhiratnya, dan orang munafik menjadikan dunia sebagai perhiasan, dan orang kafir menjadikan dunia sebagai kesenangan”
(Syarikul Iman:kurasan 15)
Allah Menjadikan Dunia Menjadi 3 Bagian :
  1. Untuk orang mukmin. Mereka menjadikan dunia sebagai ladang amal untuk bekal dikehidupan kekal kelak diakhirat. harta-benda,makanan,minuman,pakaian, semua yang mereka makan,mereka pakai semata-mata untuk menolong tegaknya ibadah kepada Allah SWT. Anak Istri yang dititipkan Allah kepadanya juga dididik dan diarahkan untuk hanya menyembah kepada Allah.
  2. Untuk Orang Munafik. Dunia ditangan orang munafik dijadikan sebagai hiasan, sepertinya mereka beramal, namun hanya sebatas lahirnya saja. Meskipun lahirnya beribadah, tapi tujuan utamanya tetap dunia juga. Beramal kesana-kemari tujuannya supaya menang pemilu. na’udzu billah min dzalik.
  3. Untuk orang kafir. Orang kafir menjadikan dunia hanya untuk kesenangan atau kenikmatan yang sifatnya ragawi. Allah menyamakan mereka ini dengan hewan. Dalam otaknya hanya ada mencari dan menikmati. dalam bahasa jawa kasar “jenggelek melek,nyekek,nelek,nggolek” (bangun tidur,trus makan,buang hajat,lalu bekerja).
Allah berfirman :
يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
“Mereka bersenang-senang dan makan layaknya hewan-hewan, dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12).
Dunia Sesaat Nikmatnya
Sesungguhnya dunia yang kita berbangga diri di dalamnya adalah kehinaan yang tidak ada harganya sebagaimana dituturkan Dari Shahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata:
أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ، لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?” “Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka. Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian.” (HR. Muslim no.7344)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 686)
Sungguh keliru bila kita mengira dunia ini mulia, karena dunia adalah sesaat dan akhirat adalah abadi.
Lantas relakah anda menukar air yang sejuk dengan bara api yang panas, “Tentu Tidak”
Lalu kenapa kita masih terhanyut dalam urusan dunia, Baik berupa pekerjaan yang melalaikan waktu untuk akhirat, atau pun perdagangan yang licik (curang) demi mengeruk banyak harta, dll ??
Karena hawa nafsu yang mengendalikan diri kita, perhatikanlah !!
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد
“Orang yang cerdas adalah yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya tapi banyak berangan-angan atas (karunia) Allah.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا هَمَّ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ. رواه ابن ماجه والحاكم وحسنه الألباني
“Barangsiapa yang menjadikan pikiran-pikirannya menjadi satu pikiran yaitu pikiran akhirat, Allah cukupkan masalah dunianya. Dan barang siapa yang pikirannya bercabang-cabang di urusan dunia, Allah tidak perduli di lembah dunia mana dia akan binasa.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim dihasankan oleh al-Albani)
Jadikan Dunia Tempat Persinggahan

Marilah kita Jadikanlah dunia ini sebagai tempat persinggahan sementara agar kita tidak terbuai oleh pesona indahnya yang menipu kita dan yang akan membuat kita lupa akan akhirat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, sambil memegang pundak iparnya ini:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 6416)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al- Hadid: 20)
Perhatikanlah baik-baik firman Rabb yang mulia di atas berikut maknanya
Lalu apa yang kita pahami dari kehidupan dunia?
Masihkah dunia membuai kita?
Masihkah angan-angan kita melambung tuk meraih gemerlapnya?
Masihkah kita akan tertipu dengan kesenangannya?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah mempesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memperhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (ujian) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah para shahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab:
مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al- Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)
Dari Al-Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا الدُّنْيَا فِي اْلآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126)
Peringatan Allah  tentang pesona dunia

Di dalam al-Qur’an berulang kali Allah St mengingatkan kita agar tidak terpedaya oleh pesona dunia yang memang memukauini. Sesungguhnya kehidupan dunia ini sangatlah fana dan singkat, sedangkan di akhirat kelak tersedia surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dengan segala penyiksaannya. Kampung akhirat adalah kehidupan yang sejati, kekal dan tidak ada akhirnya. Marilah kita renungkan pesan-pesan Ilahi berikut ini:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Ia bagaikan hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu mengering dan kamu lihat warnanya kuning lalu menjadi hancur. Sedangkan di akhirat (kelak) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadiid: 20)

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia ini memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Faathir: 5)

Dan firman-Nya:

“Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’du: 26).

Dalam hal ini para sahabat Rasulullah Sw adalah contoh yang baik. Mereka semua bekerja mengurus dunianya. Kaum muhajirin bekerja sebagai pedagang sedangkan mayoritas kaum Anshar bekerja sebagai pekebun. Di antara mereka ada yang kaya raya seperti: Utsman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khatthab Rd, dan lain-lain. Akan tetapi mereka menjadikan dunia itu di tangan mereka, bukan di hati mereka. Sehingga, mereka kaya raya namun tidak sampai cinta dunia. Bagi mereka harta adalah sarana untuk meraih pahala. Kekayaan adalah jalan untuk meraih ridha ar-Rahmaan.
Kehidupan Akhirat

Pesona dunia dan kemilaunya hanyalah berpengaruh pada jiwa-jiwa yang tidak meyakini hari akhir dengan segala peristiwa dahsyatnya. Hal ini karena hari akhir (surga dan neraka) adalah sesuatu yang ghaib dan tidak kasat mata. Sedangkan jiwa manusia sangat condong dengan sesuatu yang nampak, nyata dan dekat. Padahal pesona dunia ini jika dibandingkan dengan pesona surga, sangatlah tidak ada artinya. Akan tetapi pesona surga tersebut tidak nampak, tidak bisa dibuktikan di dunia, dan tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata. Nah di sinilah pentingnya beriman kepada hari akhir.

“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 4)

Dengan menyakini hari akhir maka jiwa seorang muslim tidak terlalu silau dengan gemerlapnya dunia. Sebab dia yakin bahwa setelah kehidupan dunia ini ada suatu kehidupan yang jauh lebih bermakna lagi kekal. Dan itulah kehidupan yang sejati.

“Kelak pada hari kiamat akan didatangkan orang yang paling senang hidupnya di dunia dari kalangan penghuni neraka. Kemudian ia dicelupkan ke neraka sekali celup lalu dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesenangan ketika di dunia dahulu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabb-ku.’ Lalu didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari kalangan penghuni surga. Kemudian ia dicelupkan ke surga sekali celup lalu dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesusahan atau penderitaan ketika di dunia dahulu?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak pernah merasakan kesusahan atau penderitaan sedikitpun.’” (HR. Muslim).

Demikianlah, seorang muslim yang senantiasa mengingat akhirat niscaya akan menganggap remeh dunia ini. Akan waspada dari godaan dunia. Tidak terpedaya dengan pesona dunia, tidak sedih ketika kehilangan dunia, dan tidak iri dengan kesenangan dunia yang Allah berikan kepada sebagian hamba-Nya.

Orang yang seperti ini, jiwanya akan dipenuhi oleh qana’ah (merasa puas dengan pemberian Allah St), hatinya bersih dari kerakusan terhadap dunia, dengki, benci, dan sebagainya. Karena, seorang yang hidup dengan pikiran tertambat ke akhirat niscaya tidak akan dirisaukan oleh dunia yang sempit ini. Dalam pandangannya, dunia tak ubahnya lubang yang sempit. Lantas buat apa ia bersaing atau mendengki orang lain hanya karena sebuah lubang yang sempit lagi cepat berlalu? Ia hidup di ufuk yang luas nan lapang. Ufuk akherat beserta kehidupannya yang abadi. Keyakinan seperti ini akan membuahkan rasa tentram, bahagia dan ridha. Sedangkan rasa tentram (thuma’ninah) dan ridha adalah surganya dunia. Oleh karena itu, keyakinan kepada hari akhir adalah nikmat yang besar yang Allah  berikan kepada hamba-hamba-Nya.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS Al-Qashshash 77)
“Wahai kaum muslimin, silahkan berlomba menjadi orang kaya di dunia, sebab Islam tidak melarang anda menjadi orang kaya. Bahkan para sahabat banyak yang kaya-raya seperti Abu Bakar, Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan. Silahkan kejarlah berbagai keberhasilan dunia….. Yang penting, janganlah sampai melupakan kehidupan akhirat…..!”
Jakarta  7/2/2013

1 komentar:

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman