Rabu, 06 Februari 2013

KAROMAH Para Wali





                    MENGENAL karomah WALI

INGAT DA'WAH WALI
”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus: 62-64)
Karomah, bukanlah istilah yang asing di telinga kaum muslimin. Ia merupakan bagian dari agama ini. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah meyakini adanya karomah dan sesungguhnya ia datang dari sisi Allah . Tahukah anda, apa yang dimaksud dengan Karomah?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan:
Dan termasuk dari prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini adanya Karomah para wali dan apa-apa yang Allah perbuat dari keluarbiasaan melalui tangan-tangan mereka baik yang berkaitan dengan ilmu, mukasyafat (mengetahui hal-hal yang tersembunyi), bermacam-macam keluarbiasaan (kemampuan) atau pengaruh-pengaruh. (Syarah Aqidah Al Wasithiyah hal.207).
Makna Karomah
Manurut bahasa, lafazh (kata) karomah berasal dari كَرُمَ yang berarti kemuliaan. (Al-Mu’jam al-Wasith: 784)
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ
”…Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu..” (QS. Al-Hujurot: 13)
Karomah menurut istilah ialah kejadian luar biasa, tidak untuk melawan dan tidak untuk mengaku nabi. Allah ta’ala menampakkan kepada walinya yang beriman untuk menolong urusan din (agama) atau duniawinya (Syarh Ushul I’tiqod Ahlussunnah wal Jama’ah: 9/15, Al-Minhatul Ilahiyah fi Tahdzib Syarh at-Thohawiyyah: 387)

Karamah adalah kejadian di luar kebiasaan (tabiat manusia) yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba tanpa disertai pengakuan (pemiliknya) sebagai seorang nabi, tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa doa, bacaan, ataupun dzikir khusus, yang terjadi pada seorang hamba yang shalih, baik dia mengetahui terjadinya (karamah tersebut) ataupun tidak, dalam rangka mengokohkan hamba tersebut dan agamanya. (Syarhu Ushulil I
tiqad 9/15 dan Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah 2/298 karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin)
Dalil Karomah Wali
Allah ta’ala berfirman:

أَلآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ {62} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ {63} لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلأَخِرَةِ لاَتَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ {64}

”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus: 62-64)
Berkata Syaikh al-Baidhowi rahimahullah: ”Inilah kabar gembira untuk orang yang bertaqwa yang dijelaskan di dalam kitab Allah ta’ala dan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Allah azza wa jalla memperlihatkan kepada mereka berupa impian yang benar serta yang tampak berupa kejadian luar biasa sekaligus kabar gembira saat malaikat mencabut nyawanya”. (Tafsir Baidhowi: 283)

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

”Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya”. (QS. Az-Zukhruf: 36)
Kesaktian dan kejadian luar biasa yang terjadi pada seseorang bukanlah ukuran untuk menentukan karomah dari kewalian. Akan tetapi, harus dilihat ketaatan dan kesesuaiannya dengan ajaran Islam. Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan: ”Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas permukaan air atau melayang di udara maka janganlah terpedaya dengannya hingga kalian cocokkan keadaannya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah”. (Syarh Aqidah Thohawiyah: 769)

Perbedaan Antara Karomah Dan Perbuatan Syaithan

Ada sesuatu yang bukan mu’jizat dan juga bukan karomah, dia adalah “Al Ahwal As Syaithaniyyah” (perbuatan syaithan). Inilah yang banyak menipu kaum muslimin, dengan anggapan bahwa ia karomah, padahal justru tidak ada kaitannya dengan karomah, karena:
- Karomah datangnya dari Allah sedangkan ia jelas datangnya dari syaithan. Sebagaimana yang terjadi pada Musailamah Al Kadzdzab dan Al Aswad Al Ansyi (dua orang pendusta di zaman Rasulullah r yang mengaku sebagai nabi) dan menyampaikan perkara-perkara yang ghaib, ini jelas merupakan perbuatan syaithan.
- Demikian pula karomah para wali Allah disebabkan kuatnya keimanan dan ketaatan mereka kepada Allah . Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka ia pun menjadi wali Allah .” Sedangkan perbuatan syaithan ini dikarenakan kufurnya mereka kepada Allah dengan melakukan kesyirikan-kesyirikan serta kemaksiatan kepada Allah , dan syarat-syarat tertentu yang harus ia lakukan.
- Karomah merupakan suatu pemberian dari Allah kepada hamba-Nya yang shalih dengan tanpa susah payah melakukan pendahuluan tertentu seperti bacaan-bacaan atau dzikir-dzikir khusus, berbeda dengan perbuatan syaithan, maka ini terjadi dengan susah payah setelah sebelumnya ia berbuat syirik atau maksiat kepada Allah .
- Karomah para wali tidak bisa disanggah atau dibatalkan dengan sesuatupun. Berbeda dengan perbuatan syaithan yang dapat dibatalkan dengan menyebut nama-nama Allah atau dibacakan ayat kursi atau yang semisalnya dari ayat-ayat Al Qur’an. Bahkan Syaikhul Islam menyebutkan bahwa ada seseorang yang terbang di atas udara kemudian datang seseorang dari Salafushshalih lalu dibacakan ayat kursi kepadanya maka seketika itu dia jatuh dan mati.
- Karomah tidaklah menjadikan seseorang sombong dan merasa bangga diri, justru dengan adanya karomah ini menjadikannya semakin bertaqwa kepada Allah dan semakin mensyukuri nikmat Allah . Adapun perbuatan syaithan bisa menjadikan seseorang bangga diri atau sombong dengan kemampuan yang dia miliki serta angkuh terhadap Allah , sehingga dari sini jelaslah bagi kita akan hakekat karomah dan perbuatan syaithan.
Kepada Siapakah Karomah ini Diberikan?

Karomah ini Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang benar-benar beriman serta bertaqwa kepada-Nya, yang disebut dengan wali Allah . Allah berfirman ketika menyebutkan tentang sifat-sifat wali-Nya (artinya):
“Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertaqwa.” (QS. Yunus: 62-63)
Dalam ayat ini Allah mengkhabarkan tentang keadaan wali-wali-Nya dan sifat-sifat mereka, yaitu: “Orang-orang yang beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan hari akhir serta beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.”
Kemudian mereka merealisasikan keimanan mereka dengan melakukan ketakwaan dengan cara melakukan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. (Taisirul Karimir Rahman karya As Sa’di hal, 368)

Karomah Sesuai Sunnah Rasul saw
Sedangkan untuk mengetahui apakah itu karomah atau tipu daya setan tentu saja dengan kita mengenal sejauh mana keimanan dan ketakwaan pada masing-masing orang yang terjadi padanya keluarbiasaan (wali) tersebut. Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Apabila kalian melihat seseorang berjalan diatas air atau terbang di udara maka janganlah mempercayainya dan tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana dia dalam mengikuti (tuntunan) Rasulullah r.” (A’lamus Sunnah Al Manshurah hal. 193)

Beberapa Contoh Karomah
1. Allah berfirman (artinya): “Setiap kali Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrob, ia dapati makanan di sisinya, Zakaria berkata: “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh makanan ini?”. Maryam menjawab:” Makanan itu dari sisi Allah, sesungguhnya Allah memberikan rizki kepada yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Ali ‘Imran: 37)
Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata: “Ayat ini merupakan dalil akan adanya karomah para wali yang diluar kebiasaan manusia, sebagaimana yang telah mutawatir dari hadits-hadits tentang permasalahan ini. Tidak seperti orang-orang yang mengingkari adanya karomah ini.” (Taisirul Karimur Rahman, hal: 129)
2. Apa yang terjadi pada “Ashhabul Kahfi” (penghuni gua). Suatu kisah agung yang terdapat dalam surat Al Kahfi. Allah berfirman (artinya):
“Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan pada mereka petunjuk.” (QS. Al Kahfi: 13). Mereka ini (Ashabul Kahfi) sebelumnya hidup di tengah-tengah masyarakat yang kafir (dengan pemerintahan yang kafir) lalu mereka lari dari masyarakat itu. Dalam rangka menyelamatkan agama mereka, kemudian Allah melindungi mereka di dalam Al Kahfi (gua yang luas yang berada di gunung).
Tatkala Allah telah selamatkan mereka di dalam gua tersebut, lalu Allah tidurkan mereka dalam waktu yang sangat panjang, disebutkan dalam ayat (artinya):
“Mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (Al Kahfi:25).
3. Diantara karomah para wali yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah apa yang terjadi pada Dzul Qornain yaitu seorang raja yang shalih yang Allah nyatakan (artinya): “Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi dan kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu.” (Al Kahfi :84)
4. Diantara karomah para wali juga apa yang terjadi pada kedua orang tua seorang anak yang dibunuh oleh nabi Khidhir yang ketika itu nabi Musa mengatakan: “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih padahal dia tidak membunuh orang lain?”, yang kemudian Khidhir menjawabnya: “Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang yang mukmin dan kami khawatir bahwa dia akan menariknya kepada kesesatan dan kekafiran.” (Al Kahfi:74)
5. Apa yang telah diriwayatkan secara mutawatir tentang berita salafus shalih dari para sahabat y, tabi’in, tabiut tabi’in dan generasi setelah mereka tentang perkara karomah yang terjadi pada diri mereka.
Mencari Karomah Wali
Karomah wali yang berupa kejadianluar biasa, bukanlah tujuan hidup orang mukmin, berbeda dengan orang tarekat sufi, mereka selalu mencari karomah dan ingin menjadi wali hingga mampu mengeluarkan keanehan. Orang mukmin hendaknya mencari istiqomah karena keanehan bukanlah syarat waliyullah (Wali Allah) dan bukan syarat kesempurnaan iman.
Imam Abu Ali al-Zuzjani rahimahullah berkata:
”Jadilah orang yang mencari istiqomah bukan pencari karomah. Dirimu sibuk mencari karomah padahal Rabb-mu menuntutmu agar mencari istiqomah”. (Al-Minhatul Ilahiyah fi Tahdzib Syarh at-Thohawiyyah: 388)
Dan hal ini sungguh sangat bersesuaian dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:
”Maka janganlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu…”.(QS. Hud: 112)
Kewajiban Bagi yang Menerima Karomah
Seorang mukmin ketika menerima karomah dari Allah ta’ala hendaknya:
1. Mensyukuri nikmat Allah ta’ala yang diberikan kepadanya.
2. Memohon kepda Allah ta’ala tsabat (ketetapan iman)
3. Hendaknya tidak memfitnah (memperdaya) dan terfitnah (terperdaya) dengan karomah yang ada, utamanya apabila karomah itu berupa ujian dan cobaan.
4. Hendaknya berupaya menyimpannya dan hendaknya tidak menjadi sarana ketakaburan dan kesombongan di hadapan manusia karena hal itu akan membawa bencana (Al-Wajiz fi Aqidah Salafish Sholih: 150)
Karomah Para Wali ?
Karomah ialah kejadian di luar kebiasaan yang diberikan Allah kepada sebagian para wali untuk memuliakan mereka sebagaimana Allah telah memberikan mu’jizat kepada para nabi untuk membenarkan kenabian mereka.
Mu’jizat hanya diberikan Allah kepada para Nabi untuk membenarkan kenabian mereka, sedangkan karomah diberikan kepada sebagian para wali. Oleh karena kedudukan nabi lebih utama daripada wali maka sudah tentu mu’jizat lebih tinggi daripada karomah.
Kata الأولياء adalah bentuk jamak dari kata ولي. Yang dimaksud dengan wali adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa sebagaimana firman Allah swt. :
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS. Yunus: 62-63)
Dalam Al-Qur’an dan Hadits terdapat beberapa dalil yang menunjukkan adanya karomah untuk para wali. Pernah suatu ketika Nabi Zakaria as. masuk untuk menemui Siti Maryam di kamarnya lalu beliau menemukan di sisinya buah-buahan musim dingin ketika musim panas berlangsung dan juga sebaliknya buah-buahan musim panas ketika musim dingin berlangsung. Sebagaimana yang diberitakan dalam Al-Qur’an
setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (QS. Ali Imran: 37)
Karomah Para Wali
1.Kiai Kholil Bangkalan, yang sangat kesohor itu, lahir pada hari Selasa, 11 Jumadil Akhir, 1235 H/26 Maret 1820 M di Bangkalan, Madura. Ia putra Kiai Abdul Latif. Sangat banyak pesantren di Indonesia yang ada seka­rang mem­punyai sanad dengan pesan­tren Kiai Kholil.
Ketika Kiai Kholil masih muda, dia mendengar bahwa di Pasuruan ada se­orang kiai yang sangat sakti mandra­guna. Namanya Abu Darin. Kholil muda ingin sekali belajar kepada Abu Darin. Sema­ngat untuk menimba ilmu itu begitu meng­gebu-gebu pada dirinya sehingga jarak tempuh yang begitu jauh dari Bang­kalan di Pulau Madura ke Pasuruan di Pulau Jawa tidak dianggapnya sebagai rintang­an berarti, meski harus berjalan kaki.
Namun apa daya, sesampainya Kholil muda di Desa Wilungan, Pasuruan, tem­pat kiai Abu Darin membuka pesantren, ternyata Kiai Abu Darin sudah wafat. Dia meninggal hanya beberapa hari sebelum kedatangan Kholil muda. Habislah ha­rapannya untuk mewujudkan cita-cita­nya berguru kepada kiai yang mempu­nyai ilmu tinggi tersebut.
Dengan langkah gontai karena capai fisik dan penat mental, hari berikutnya Kho­lil berta’ziyah ke makam Kiai Abu Da­rin. Di depan pusara Kiai Darin, Kholil membaca Al-Qur’an hingga 40 hari. Dan pada hari yang ke-41, ketika Kholil te­ngah ketiduran di makam, Kiai Abu Darin hadir dalam mimpinya.
Dalam kesempatan itu almarhum mengatakan kepada Kholil, “Niatmu untuk belajar sungguh terpuji. Telah aku ajarkan ke­padamu beberapa ilmu, maka peliharalah.”
Kholil lalu terbangun, dan serta merta dia sudah hafal kandungan kitab Imrithi, Asymuni, dan Alfiyah, kitab utama pe­santren itu. Subhanallah

2.Kyai Hamid
menikah pada usia 22 tahun dengan sepupunya sendiri, Nyai H. Nafisah, putri KH Ahmad Qusyairi. Pasangan ini dikarunia enam anak, satu di antaranya putri. Kini tinggal tiga orang yang masih hidup, yaitu H. Nu’man, H. Nasikh dan H. Idris.


Kesabaran beliau juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya. Menut Idris, tidak pernah mendapat marah, apalagi pukulan dari ayahnya. Menurut ldris, ayahnya lebih banyak memberikan pendidikan lewat keteladanan. Nasihat sangat jarang diberikan. Sikap tawadlu’ sering beliau sampaikan dengan mengutip ajaran Imam Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam; “Pendamlah wujudmu di dalam bumi khumul (ketidakterkenalan)” . Artinya janganlah menonjolakan diri. Dan ini selalu dibuktikan dalam kehidupannya sehari-hari. Bila ada undangan suatu acara, beliau memilih duduk bersama orang-orang biasa, di belakang. Kalau ke masjid, dimana ada tempat kosong disitu beliau duduk, tidak mau duduk di barisan depan karena tidak mau melangkahi tubuh orang.

Suatu saat dimasa orde baru ingin mengajak kyai Hamid masuk partai pemerintah. kyai Hamid menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat itu. ketika surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya, kyai hamid menerimanya dan menandatanganinya. anehnya pulpennya tak bisa keluar tinta, diganti polpen lain tetap tak mau keluar tinta. ahirnya kyai hamid berkata "bukan saya lo yang gak mau, bolpointnya yang gak mau". itulah kyai Hamid dia menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu kerumahnya.

3.KH Muhammad Dimyati atau dikenal dengan Abuya Dimyati adalah sosok yang kharismatis. Beliau dikenal sebagai pengamal tarekat Syadziliyah dan melahirkan banyak santri berkelas. Mbah Dim begitu orang memangilnya. Nama lengkapnya adalah Muhammad Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin. Dikenal sebagai ulama yang sangat kharismatik. Muridnya ribuan dan tersebar hingga mancanegara.
Abuya dimyati orang Jakarta biasa menyapa, dikenal sebagai sosok yang sederhana dan tidak kenal menyerah. Hampir seluruh kehidupannya didedikasikan untuk ilmu dan dakwah.

Bagi Abuya hidup adalah ibadah. Tidak salah kalau KH Dimyati Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah pernah berucap bahwa belum pernah seorang kiai yang ibadahnya luar biasa. Menurutnya selama berada di kaliwungu tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Sejak pukul 6 pagi usdah mengajar hingga jam 11.30. setelah istirahat sejenak selepas Dzuhur langsung mengajar lagi hingga Ashar. Selesai sholat ashar mengajar lagi hingga Maghrib. Kemudian wirid hingga Isya. Sehabis itu mengaji lagi hingga pukul: 24 malam. Setelah itu melakukan qiyamul lail hingga subuh.
Namun, Kini, waliyullah itu telah pergi meninggalkan kita semua. Abuya Dimyati tak akan tergantikan lagi. Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun.
4.KHMbah Mangli. Secara khusus Mbah Mangli mendidik para santrinya di sebuah pesantren sederhana di lereng gunung Andong. Tempat pesantren itulah yang kemudian dikenal sebagai desa Mangli yang terletak di perbatasan kecamatan Grabag dan Ngablak, kurang lebih 25 km arah timur laut kota Magelang. Mbah Mangli merupakan salah satu penganut tarekat Nahsyabandiyyah.
Keistimewaan Mbah Mangli yang lain, ia dapat mengetahui maksud setiap jamaah yang datang, apa permasalahan mereka dan langsung dapat memberikan nasehat dengan tepat sasaran. Pernah seorang jamaah datang ke pengajian dengan membawa uang ibunya yang semestinya dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangganya. Di tengah pengajian, Mbah Mangli langsung menyindir orang tersebut dan menasehatinya agar uang tersebut dikembalikan dan ia segera memohon maaf kepada ibunya tersebut.
5.KH.Mbah Liem telah pergi meninggalkan kita semua, tepat pada tanggal 30 juni nanti akan diadakan Do’a dzikir tahlil 40 hari meninggalnya beliau sampai sekarang para peziaroh makam mbah liem tak pernah putus, baik yang datang dari masyarakat klaten sendiri, kabupaten sekitar, jawa tengah , jawa timur bahkan juga banyak dari luar jawa mereka ada yang datang dengan naik sepeda motor,mobil, bahkan rombongan naik bus. ini tidak bisa berlaku pada setiap kyai – kyai yang meninggal, ramainya para peziaroh makam mbah liem sebenarnya membuktikan kebaikan-kebaikan/perjuangan mbah liem semasa  hidupnya.
banyak cerita dari orang-orang terdekat mbah liem yang menceritakan ke istimewaan ( karomah ) mbah liem contoh sopir mbah liem pak H. Danun pernah bilang “kalau  mo cerits karomah Mbah liem dua hari dua malam tidak akan ada habis-habisnya ” salah contoh : ketika mbah liem dari pekalongan lalu mbah mo mampir nemui gubernur mardiyanto, mbah perintah pak Daunn ” Ji telpono gubernur enek omah ora? lalu pak Danun tlpn ajudanya ” ajudan jawan ada pak tapi sedang rapat nanti selesai rapat pukul 11.00 wib” lalu mbah lime mampir ke Rumdin Gubernur, setelah ditunggu sampai pukul sebelas lebih ternyata Gubernur belum keluar, Mabh liem akhirnya ngajak pulang pak Danun ” Ji ayo muleh ae la opo eneng kene TIME IS MANY” begitu mbah lim Matur,namun sebelum pulang mbah minta pak Danun cari kertas lalu minta pak danun nulis surat  “  KEPADA YANG TERCINTA, YANG  TERSAYANG MENDAGRI H. MARDIYANTO SAHOLEH DIRIDHOI ALLOH, AKU NJALUK MOBIL SIJI SING APEK AKU WIS KEBANJUR TINITAH NGUBENGI RI ……….” lalu mbah langsung pulang dengan lari…  surat lalu dikasihkan sekpri gubernur tapi surat ditolak karena dianggap salah’ pak jangan main -main ini salah disini tidak ada MENDAGRI  H. MARDIYANTO kalau Mardiyanto ya Gubernur, setelah adu argumentasi antara  sopir mbah liem dengan sekpri akhir surat pun diterima setelah pak danun bilang ” ini doanya mbah liem semoga setelah pensiun dari gubernur diangkat jadi Mendagri ” lalu apa yang terjadi 2 bulan setelah pak danun lihat di TV runing teks bahwa nama H. Mardiyanto menjadi salah satu calon Mendagri dan akhir betul SBY memilih H. Mardiyanto menjadi MENDAGRI sebelum jabatan Gubernurnya purna. ini salah bukti karomah mbah liem bahwa beliu minal aulia’
Macam-Macam Manusia Dalam Mensikapi Masalah Karomah
Pertama: Orang-orang yang mengingkari adanya karomah yaitu dari kelompok ahli bid’ah seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan sebagian dari Asy’ariyah. Dengan alasan yang telah disebutkan diatas.
Kedua: Orang-orang yang bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) dalam menetapkan karomah yaitu dari kalangan orang-orang “Sufi” dan para “Penyembah kubur”, yang menganggap segala keluarbiasaan itu sebagai karomah, tanpa memperhatikan keadaan pelakunya atau pemiliknya.
Ketiga: Orang-orang yang mengimani serta membenarkan adanya karomah dan mereka tetapkan karomah tersebut sebagaimana yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah. Mereka itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
(lihat syarah Al Aqidah Al Wasithiyah karya Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, hal: 207-208)
Wallah A’lam bisshawab
JAKARTA  7/2/2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman