Rabu, 27 Februari 2013

HIDAYAH Al-Qur'an Bagi Orang Bertaqwa




                                    Hidayah Al-Qur’an


Artinya:Sesungguhnya kami Telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.(QS. Al-Insan: 23)
AMALKAN AL-QUR'AN
                Ayat di atas berbicara tentang petunjuk-Nya yakni al-Qur’an yang berfungsi sebagai petunjuk bagi umat manusia. Ayat-ayat di atas menyatakan: Sesungguhnya Kami hai Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril telah menurunkan kepadamu al-Qur’an dengan berangsur-angsur agar dengan mudah engkau menjawab setiap pertanyaan dan menyelesaikan setiap problem serta agar mudah dihafal dan diamalkan, dan kuat pula hatimu dengan kehadiran wahyu dari saat ke saat,…”[1]
Jika kita abaca ayat-ayat al-Qur’an, maka akan didapati beberapa macam hidayah Allah swt yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan patuh kepada-Nya dengan membaca al-Qur’an dengan tartil, memahaminya dengan benar dan melaksanakan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarang dengan ikhlas semata-mata mencari ridha-Nya.
Muhammad Ibnul Jamil dalam kitabnya mengatakan,”Hidayah Allah kepada manusia itu ada empat macam: 1, Hidayah yang diberikan kepada semua manusia seperti berupa akal, instink, pikiran dan kodrat alamiah untuk kelanjutan hidupnya (QS, Thoha:50).2.Hidayah yang berarti dakwah yang diserukan melalui mulut para Nabi (QS.Al-Anbiya’:73).3.Hidayah taufik yang khusus untuk orang-orang yang beriman (QSTaghabun:11).4.Hidayah di akhirat berupa petunjuk ke surga (QS. Muhammad:5).”[2]
Ali bin Abi Thalim mengatakan:”Ketahuilah bahwasanya Al-Qur’an adalah pemberi nasihat yang tulus yang tidak pernah menipu, pemberi petunjuk yang tida akan menyesatkan, dan pembicara yang tidak pernah berbohong.”[3]
Dengan demikian, hidayah al-Qur’an untuk manusia pada umumnya dan petunjuk orang-orang yang bertakwa khususnya, menerima dan dia dijadikan sebagai pedoman hidup dunia untuk meraih kebahagiaan dunia-akhirat.
Al-Qur’an harus dibaca dengan tartil, dipahami dengan ilmu dan diamalkan pesannya dengan ikhlas. Jika demikian, maka benar-benar Al-Qur’an bisa menjadi petunjuk khusus bagi orang-orang yang beriman dan mengharap rahmat Allah swt dalam menjalani kehidupan dunia menuju kehidupan yang abadi di hari pembalasan nanti, surga tempat kembalinya. Sebaliknya, orang-orang yang hanya bisa membaca dan atau bisa memahaminya namun tak sanggup mengamalkan perintah dan larangannya, neraka tempat mereka kembali.
Ibnu Kasir menjelaskan firman di atas bahwa Allah swt menguatkan kepada Rasul-Nya dengan menurunkan kepada beliau al-Qur’an yang agung dengan beberapa tahapan agar bersabar atas hukum Tuhannya, yakni Aku muliakan kamu dengan apa yang Aku turunkan kepadamu maka sabarlah kamu atas qadha’ dan takdir-Nya dan ketahuilah Dia akan menjagamu dengan sebaik-baik penjagaan.[4]
Kisah-kisah dalam al-Qur’an pada prinsipnya memuat asas pendidikan, tidak hanya pendidikan psikologis, tetapi aspek rasio juga. Rasio manusia harus terbebas dari berbagai bentuk keterpasungan warisan lama yang menyesatkan dan harus mampu berpikir bebas, bahkan saya berpendapat bahwa Al-Qur’an juga membimbing atau mendorong pemikiran praktis, seperti yang dinyatakan dalam firman Allah swt:”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang denganitu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang denganitu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang adi dalam dada.”(QS.Al-Hajj:46)[5]
Oleh karena itu, jadikan Al-Qur’an sebagai imam, ikuti perintah dan jauhi larangannya dan janganlah Al-Qur’an di belakangkan, diabaikan pesan moralnya, bahkan hawa nafsunya dijadikan Tuhan. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda,”Al-Qur’an syafa’at yang memberi syafaat dan sebagai pembenar, barangsiap menjadikan al-Qur’an dihadapannya maka ia akan menjadi penunjuk ke surga dan barangsiapa menjadikan al-Qur’an dibelakangnya maka ia akan sebagai pembelok dari menuju neraka.” (HR. Abu Ubaidah dari Anas)[6]
Allah swt berfirman:
$O!9# ÇÊÈ y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu ¡ ÏmÏù ¡ Wèd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ
Artinya:  Alif laam miin  Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[12],(QS. Al-Baqarah: 1-2)
Ibnu Abbas berkata,”Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang takut berbuat syirik dan mengamalkan penuh kepatuahn kepada-Nya.” Sedangkan menurut al-Hasan al-Bashri mengatakan,”Mereka takut apa yang diharamkan dan mereka mengerjakan apa yang diwajibkan.”[7]
Makna ayat ini merujuk pada janji Allah kepada Nabi Muhammad saw bahwa Dia akan menurunkan sebuah kitab sebagai petunjuk bagi umat manusia dan janji-Nya telah dipenuhi. Dia adalah kitab yang dijadikan pedoman bagi para pencari kebenaran. Oleh karenanya, orang-orang yang beriman tidak ragu tentangnya.
Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam dan ia sebagai way of life bagi orang-orang bertakwa, siap disuruh dan dilarang oleh Allah swt serta bersyukur jika mendapat kebaikan dan sabar bila ditimpa keburukan. Al-Qur’an mengajarkan kepada kaum muslimin tentang kebahagiaan dunia dan akhirat, hubungan baik dengan Tuhan dan sesama, kehidupan akhirat, yang baik dibalas kebaikannya dan yang jahat juga akan dibalas kejahatannya. Dengan al-Qur’an, kaum muslimin mengetahui mana yang halal dan haram, mana jalan yang membahagiakan dan mencelakakan, mana jalan ke surga dan neraka. Oleh karena itu, jadikan al-Qur’an sebagai ukuran keimanan, ketakwaan dan kebahagiaan bagi orang-orang yang pandai bersyukur atas nikmat-nikmat Allah swt !
Yang menakjubkan adalah bahwa walaupun sudah melewati perjalanan waktu yang amat panjang namun kesegaran al-Qur’an tidaklah turun. Malahan, dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat dan rahasia-rahasia dunia ciptaan yang terungkap, bukti-bukti kebenaran al-Qur’an menjadi semakin jelas. Tatkala standar internasional, ilmu pengetahuan, dan industri ditingkatkan, maka kita lihat bahwa cahaya dan kegemilangan ayat-ayat ini menjadi lebih kentara.[8]
            Allah swt berfirman:
¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOÎgƒÏöku Nåk5u öNÍkÈ]»yJƒÎ*Î/ ( ̍ôfs? `ÏB ãNÍkÉJøtrB ㍻yg÷RF{$# Îû ÏM»¨Zy_ ÉOŠÏè¨Z9$# ÇÒÈ
Artinya:  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka Karena keimanannya[670], di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan.(QS. Yunus: 9)
Dengan keimanan mereka Allah swt memberikan petunjuk kepadanya jalan menuju surga. Keimanan seseorang akan mendorong dan berbuat amal kebajikan baik untuk dirinya maupun untuk orang lain.
            Cahaya petunjuk ilahi ini, yang berasal dari iman mereka, menerangi setiap segi dalam ufuk kehidupan mereka. Mereka demikian tercerahkan oleh cahaya tersebut hingga mereka tidak pernah tunduk kepada kepalsuan aliran-aliran materialis, angan-angan dari setan ataupun kegemilangan palsu yang berkaitan dengan dosa, kekayaan dan kekuasaan, dan mereka tidak pernah menempuh jalan kesetan.[9]
           
Allah swt berfirman:
y7¨RÎ) Ÿw ÏöksE ô`tB |Mö6t7ômr& £`Å3»s9ur ©!$# Ïöku `tB âä!$t±o 4 uqèdur ãNn=÷ær& šúïÏtFôgßJø9$$Î/ ÇÎÏÈ
Artinya:  Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.(QS. Al-Qashas}
Para pakar tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan menjelang ajal  kematian Abu Thalib paman Nabi Muhammad saw yang diharapkan menerima Islam sebagai agamanya namun ia enggan menerimanya.
            Abu Hayyan berkata:” Makna firman,”Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberi petunjuk orang yang kamu kasihi,” yakni kamu tidak akan sanggup menjadikan hidayah kepada seseorang.”[10]
Demikianlah, orang-orang yang bersyukur melalui  membaca al-Qur’an dan mengamalkan petunjuknya atas ridha Allah swt.menyadari bahwa hidayah yang bisa merubah keyakinan seseorang hanyalah Allah swt, sedangkan selain-Nya hanya bisa mengajak dan membimbing ke jalan yang benar, termasuk para Nabi, Rasul dan para da’i ummat.

$O!9# ÇÊÈ y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu ¡ ÏmÏù ¡ Wèd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ
Artinya:  Alif laam miin  Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[12],(QS. Al-Baqarah: 1-2)
ABI  NAUFAL
JAKARTA  2010



[1] M.Quraish Shihab, Op.cit. volume14. hal. 667-668
[2] Muhammad Ibnul Jamil Zainu, Pemahaman Al-Qur’an,(Bandung::Gema Risalah Press,1997),hal.119-120
[3] Fadhlullah al-Ha’iri, Op.cit.hal. 52
[4] Ibnu Kasir, Op.cit.jilid 4. hal. 551
[5] Muhammad Al-Ghazali, Al-Qur’an Kitab Zaman Kita,(Bandung:Mizan,1996),hal. 89
[6] Athiq bin Ghaits Al-Balady, Fadhail al-Qur’an,(Semarang: Toha Putra), hal. 40
[7] Muhammad Ali Ash-Shabuni, Op.cit. jilid awal.hal. 32
[8] Kamal Faqih Imani,Op.cit. jilid1. hal. 76
[9] Kamal Faqih Imani, Ibid. jilid7. hal. 22
[10] Muhammad Ali Ash-Shabuni, Op.cit. jilid2.hal. 439

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman