Rabu, 27 Februari 2013

BERIBADAH Sampai Ajal Tiba




HANYA  Engkaulah yang Kami Sembah

1. Perintah Ibadah


Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(QS.Adz-Dzariyat:56)

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).(QS.Al-Hijr:99)

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.(QS.AL-Baiyinah)

PERJUMPAAN DENGANNYA
[1595]  Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.

Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[7].(QS.Al-Fatihah:5)

[6]  Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, Karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
[7]  Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

2. Makna Ibadah

            Ibadah menurut bahasa adalah merendah dan mengabdikan diri, tunduk, taat.
            Ar-Raghib Al-Ashfahani berkata, “Al-Ubuudiyah idzhar al-tadzallul ialah merendahkan diri, sedangkan Al-Ibadah lebih mencakup dibanding merendah, sebab ibadah adalah puncak penghambaan kepada Allah.”
            Menurut Muhammad al-Jarjani ibadah adalah perbuatan seorang mukallaf(orang yang dibebani perintah dan larangan) yang menentang hawa nafsunya karena mengagungkan dan memuliakan Tuhan.
            Jadi, ibadah adalah merendahkan diri dan mengabdi kepada Tuhan karena mengagungkan dan memuliakan dengan mengikuti petunjuk agama.

3. Ibadah Dalam Islam

            Aqidah ialah keyakinan hidup, yaitu Iman dala arti khas yakni pengikraran yang bertolak dari hati.
            Baik ibadah dalam arti khas maupun mu’amalah dalam arti luas ataupun akhlak, ke tiga-tiganya pada hakekatnya bertitik tolak dari aqidah, merupakan menifestasi dan konsekuensi daripada aqidah (iman atau keyakinan hidup), ibadah mu’amalah dan akhlak setiap muslim berhubungan secara korelatif berjalin-jalin dengan erat dan mesra satu dengan lainnya, tidak bisa dipisah-pisahkan.
            Sistem (sistema) ialah satu kebulatan yang terdiri atas beberapa bagian; dimana bagian yang satu dengan bagia-bagian yang lainnya saling berhubungan secara korelatip. Sistem (nizham) Politik-Ekonomi-Sosial Islam adalah system (hasil usaha formolasi manusia secara sistematis mengenai) Politik-Ekonomi-Sosial berdasarkan Islam, yaitu berdasarkan ibadah-mu’amalah akhlak Islam, berakarkan aqidah Islam.(Wawasan Islam:Endang Saifuddin Anshari)

4. Tujuan Ibadah

            Syeh Muhammad Abduh setelah menjelaskan arti ibadah sebagai puncak ketunduka akibat adanya rasa keagungan terhadap yang disembah menggaris bawahi bahwa tujuan ibadah dalam agama-agama adalah mengingatkan manusia tentang rasa keagungan akan kekuasaan Tuhan yang Maha Tinggi itu.
            Sedangkan menurut Abbas Al-Aqqad menyimpulkan dua tujuan pokok ibadah yaitu:
            1. Mengingatkan manusia akan unsure rohani dalam dirinya, yang juga memiliki kebutuhan-kebutuhan yang berbeda dengan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya.
            2. Mengingatkannya bahwa di balik kehidupan yang fana ini, masih ada lagi kehidupan berikut yang bersifat abadi.
            Dengan demikian, ibadah-ibadah seperti salat, puasa, zakat dan haji, tidak terlepas dari kedua tujuan pokok tersebut.

4. Tafsir Ayat Ibadah

1.Apapun pekerjaan seseorang atau jabatannya wajib hukumnya beribadah kepada Allah SWT semata dengan berpedoman firman-firman-Nya dan petunjuk Rasul-Nya.
2. Ibadah dalam Islam ada yang mahdhah seperti rukun Islam dan rukun Iman, sedangkan ibadah ghair al-mahdhah misalnya membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
3. Ibadah kepada Allah SWT bisa dilakukan sesuai syari’at Islam, misalnya shalat, zakat, puasa, hajji dengan waktu yang sudah ditentukan. Tetapi jika memuji dan mengagungkan dengan nama-nama-Nya seperti berdzikir kapan saja bisa dilakukan yang penting ada petunjuknya dari Agama. Mengenal Allah SWT dengan nama-nama-Nya, dengan membaca mengulang-ulang dan menghafalkannya serta sanggup menteladani pesan asma-asma tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
4. Ibadah harus dikerjakan sampai ajal menjemput dan selagi masih berakal.
5.Ibadah harus dikerjakan dengan ikhlas hanya semata-mata mencari ridha Allah SWT dan sesuai petunjuk Nabi Muhammad saw.
6. Ibadah hanya diperuntukkan hanya kepada Allah SWT bukan kepada yang lain dan hanya kepada-Nyalah kita memohon pertolongan. Dengan ibadah, kita boleh memintak apa yang menjadi hajat seperti iman yang benar, taqwa lahir batin, ilmu yang berguna, sehat dan permintaan yang lain.
7. Jadikan setiap langkah dan bekerja adalah ladang beribadah kepada-Nya Allah SWT dan saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa.

5. Ibadah Yang Diterima

            Islam adalah agama universal bagi ummat manusia yang beriman, bagaimana kita berhubungan dengan Tuhan, sesama makhluk bahklan terhadap diri sendiri ? Ibadah dalam Islam mencakup aqidah (keyakinan), akhlak (moral), syari’at (aturan dan hukum bermu’amalah dengan Tuhan dan sesama).
            Pengabdian seseorang akan diterima bilamana ia melaksanakan ibadah dengan ikhlas dan sesuai petunjuk Rasulullah saw.
            Diriwayatkan dari Syaqiq bin Ibrahim Az-Zahid, bahwa ia berkata,”Benteng amal itu ada tiga yaitu:
            1. Keyakinan bahwa amal itu dari Allah Ta’ala untuk menghilangkan ujub;
            2. Mengharapkan ridha Allah untuk menghilangkan hawa nafsu;
            3. Mengharap pahala/balasan amalnya itu hanya dari Allah sehingga tidak menimbulkan tamak dan riya.(kitab Tanbihul Ghafilin:Al-Faqih Abul Laits As-Samarqandi)
            Sebagian orang bijak yang lain mengatakan, bahwa amal perbuatan itu memerlukan empat hal, yaitu:
            1. Mempunyai ilmu, karena amal perbuatanitu tidak akan benar dan sempurna jika tanpa dilandasi dengan ilmu. Amal perbuatan yang tanpa ilmu akan lebih banyak salahnya daripadanya benarnya.
            2. Niat pada saat memulai pekerjaan, karena amal perbuatan itu tidak akan sah jika tanpa niat, sebagaiamana hadits Nabi saw yang artinya:”Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu (tergantung) niatnya, dan seseorang itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
            3. Sabar, sehingga ia akan bisa mengerjakannya dengan tenang.
            4. Ikhlas ketika selesai mengerjakan amal perbuatan, karena amal yang tidak ikhlas tidak akan diterima. (kitab Tanbihul Ghafilin)

6. Pesan Ibadah

            1. Kerjakan dengan ikhlas, hanya karena Allah swt semata!
            2. Lakukan ibadah dengan ilmu yang benar !
            3.Sesuai petunjuk Rasulullah saw.
            4.Jadikan ucapan kita, langkah dan aktifitas kita menjadi ladang beribadah dengan banyak berdzikir kepada Allah SWT dan memohon hidayah untuk melaksanakan ibadah yang benar dan diterima oleh Allah SWT.

Abi Naufal ( 4 Januari 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman