Rabu, 30 Januari 2013

KEBAJIKAN:AMAL SHALIH




BERAMAL SHALIH

62. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[56], siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah[57], hari kemudian dan beramal saleh[58], mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-Baqarah:62)
KALIMAT THAIYIBAH
[56] Shabiin ialah orang-orang yang mengikuti syari'at nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa.
[57] Orang-orang mukmin begitu pula orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah Termasuk iman kepada Muhammad s.a.w., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang saleh, mereka mendapat pahala dari Allah.
[58] Ialah perbuatan yang baik yang diperintahkan oleh agama Islam, baik yang berhubungan dengan agama atau tidak.
Iman dan Amal Shalih
Berbicara tentang iman dan amal shaleh, maka sering kita jumpai dalam beberapa ayat selalu berdampingan. Artinya, seseorang baru bisa dikatakan beramal shaleh bila dia beriman kepada Allah yang “Ahad” (Esa), akan sia-sialah amal seseorang bila tidak beriman kepada-Nya. Allah SWT berfirman: “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al Kahfi, 18 : 103-104).


Sebenarnya sudah sangat jelas pengertian ayat 62 QS Al Baqarah ini, di mana baik orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani maupun orang-orang penyembah bintang akan selamat bila mereka beriman kepada Allah dan hari akhir dan melakukan amal shaleh. Beriman kepada Allah berarti beriman pula kepada risalah (Islam) yang dibawa Rasulullah Saw. Allah SWT berfirman: “Maka jika datang kepada kalian petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (QS. Thaahaa, 20 : 123)


Sehingga jelas pula, arti di balik itu semua bahwa barangsiapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah dengan mentaati risalah Islam yang dibawa Rasulullah Saw maka akan sesat dan celaka. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhan kalian”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya syurga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga (Trinitas)” (QS. Al Maidah, 5 : 72-73).
Perbuatan mereka sia-sia sehingga di akhirat nanti akan diperlihatkan hasil jerih payah mereka yang sia-sia. Allah SWT berfirman: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (QS. Al Furqaan, 25 : 23). Juga dalam firman-Nya: “Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh” (QS. Ibrahim, 14 : 18). Orang yang beriman kepada Allah tapi shalatnya didasari riya pun tidak akan jadi amal shaleh, apalagi orang yang tidak beriman kepada Allah.
Luruskan Niat
Didalam Hadist, Rasulullah dengan jelas memberikan pengertian tentang kedudukan niat ini „Dari Amirul Mukminin Abi Hafs Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu: Aku mendengar Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mndapatkan sesuai apa yang diniatkan, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan”. (HR. Bukhori Muslim)
Niat adalah maksud/keinginan menyengaja dengan kesungguhan hati untuk mengerjakan amal sholih, misalnya shaum wajib di bulan Ramadhan ini, semata-mata karena menaati perintah Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW yang diketahuinya.
Ibnu Taimiyyah berkata: tempat niat itu di hati bukan di lisan menurut kesepakatan para Imam kaum muslimin dalam semua masalah ibadah. Sehingga seandainya seseorang berkata dengan lisannya berlainan dengan apa yang diniatkan dalam hatinya, maka yang dianggap adalah apa-apa yang diniatkan
oleh hatinya bukan yang dilafazhkan. Dan seandainya seorang berkata secara lisan tentang niatnya tetapi niatnya tidak sampai kehatinya, maka yang demikian tidak mencukupi menurut kesepakatan para Imam kaum Muslimin, karena niat adalah kesengajaan maksud dan kesungguhan dalam hati.
Istiqomah beramal shalih
Secara bahasa istiqomah bermakna lurus dan rata.( Lihat Lisanul ‘Arob karya Ibnul Mandzur 12:498). Sedangkan secara istilah sebagaimana yang dikatakan Ibnu Rojab adalah : jalan yang lurus, yaitu ad-Diinul Qayyim tanpa adanya kepincangan baik ke kanan maupun ke kiri dan mencakup segala bentuk keta’atan kepada Allah, baik yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah serta meninggalkan semua larangan-larangan-Nya. (Jami’u al Ulum wa al Hikam karya Ibnu Rojab Al Hanbali 1:510)


Hukum Istiqomah

Hukum istiqomah dalam amal sholih adalah wajib. Berdasarkan firman Alloh Ta’ala :
Maka beristiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan-Nya yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu ….(QS.Hud [11] :112)


Keistimewaan dan keutamaan istiqomah dalam beramal sholih.
1. Malaikat akan melindunginya, akan dimasukkan surga serta mendapat segala apa yang dia ingikan.
Berdasarkan firman Alloh yang artinya : Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Allah” Kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta” (Fussilat [41] : 30-31)
2. Akan mendapat kecintaan Alloh.
Rosululloh bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam shohihnya, artinya: “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai daripada kewajiban yang Aku embankan kepadanya, dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnat sehingga Aku mencintainya”. (HR.Bukhori: 6502)
3.Tercegah dari perbuatan mungkar.
Seseorang yang senantiasa beramal sholih akan melatih jiwa untuk memerangi racun syahwat dan menghalanginya dari perbuatan yang tidak layak baginya. Alloh menyebutkan salah satu manfaat sholat dalam firman-Nya :
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. (QS.Al Ankabut [29] :45)
4.Tetap ditulis pahalanya sekalipun berhalangan untuk mengerjakannya.
Apabila orang yang senantiasa mengerjakan amal sholih pada suatu ketika berhalangan untuk mengerjakannya maka Alloh tetap menulis pahala amalan yang biasa ia kerjakan dikala lapang. Sebagaimana keterangan Rosululloh : “Apabila seorang hamba sakit atau sedang bepergian, akan tetap ditulis pahalanya seperti ketika ia sehat atau mukim”. (HR.Bukhori: 2996)


Kiat-kiat untuk meraih istiqomah dalam beramal sholih.

1. Memperbanyak taubat dan senantiasa istighfar.
Karena hal itu dapat menambah kekuatan untuk beristiqomah dalam beramal sholih. Renungkanlah firman Alloh yang artinya : “Mohonlah ampun kepada Robbmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS.Huud [11] : 52)
2. Memilih amal sholih sesuai dengan kesanggupan.
Amalan sholih itu beraneka ragam macamnya, maka pilihlah suatu amalan yang engkau sanggupi dan mampu untuk beristiqomah di dalamnya walupun hanya sedikit. Generasi salaf duhulupun juga seperti itu, mereka ada yang banyak mengerjakan sholat malamnya, yang lain banyak dzikir dan tasbihnya, dan masih banyak yang lain. Akan tetapi itu semua tidak berarti mngkhususkan suatu amalan tertentu dan meninggalkan amalan lainnya. Yang benar memperbanyak sutau amalan yang kita pandang mampu beristiqomah didalamnya dengan tidak meninggalkan amalan lainnya.
3. Jangan memberatkan diri.
Tidak dipungkiri lagi, memang tabiat jiwa itu senang terhadap hawa nafsu dan mudah bosan terhadap sesutau. Lebih-lebih jika seseorang memberatkan diri untuk mengerjakan suatu amalan yang sebenarnya tidak ia mampui tapi ia paksakan dirinya untuk mengerjakannya. Bahkan mungkin ia akan meninggalkannya secara keseluruhan. Misalkan, kalau belum mampu sholat malam sebelas rokaat kerjakan satu atau tiga rokaat dulu yang penting bisa rutin setiap hari, serta berlatihlah untuk menambahnya jika dirasa mampu.
4. Melihat bagaimana generasi salaf dalam beramal sholih.
Sebaik-baik manusia adalah pada masa Rosululloh kemudian setelahnya kemudian setelahnya. Itulah generasi terbaik ummat ini. Mereka paling bersemangat dalam beramal sholih dan beristiqomah di dalamnya. Lihatlah sahabat mulia ‘Ali bin Abi Tholib beliau tidak pernah meninggalkan membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali sebelum tidur walaupun ketika perang shiffin. (sebagaimana riwayat Imam Bukhori :6318 Muslim : 2727) Dan masih banyak kisah-kisah yang lainnya
5. Mengambil pelajaran dari orang yang tidak beristiqomah dalam beramal sholih.
Jadikanlah yang demikian itu sebagai pelajaran untuk tidak menirunya. Karena orang yang tidak bisa istiqomah dalam beramal sholih termasuk orang yang tercela. Perhatikanlah sabda Nabi yang artinya :
“Wahai Abdulloh janganlah seperti si fulan dia dulu mengerjakan sholat malam tetapi kemudian meninggalkannya”. (HR.Bukhori : 1152). Dan sejelek-jelek orang adalah orang yang tidak mengenal Robbnya kecuali hanya pada bulan Romadhon saja.
6. Berdo’alah kepada Alloh.
Manusia adalah makhluk yang lemah. Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Alloh. Hidayah serta taufiq hanyalah milik Alloh semata, maka perbanyaklah memintanya, supaya Alloh menolong kita dalam beribadah kepada-Nya serta beristiqomah di dalamnya. Diantara do’a yang bisa dibaca adalah do’a yang pernah diajarkan Rosululloh pada sahabat mulia Mu’ad bin Jabal yaitu :
اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
“Ya Alloh, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbagusi ibadah kepadamu”. (HR.Abu Dawud :1522, Nas’I 3/53, Ahmad 4/338) dishohihkan Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud : 1522)
Atau do’a yang biasa di baca Hasan Al Bashri ketika membaca Surat Fushshilat [41] ayat 31 yaitu:
اللهم أنت ربنا فارزقنا الاستقامة
“Ya Alloh, Engkau adalah Robb kami, berikanlah kepada kami istiqomah dalam amal sholih” (Lihat tafsir Ibnu Ath Thobari 12:115)
Wahai saudaraku-semoga Alloh menunjuki kita kejalan-Nya yang lurus- ketahuilah, meskipun kita sudah berusaha istiqomah pasti ada beberapa hal yang masih kurang, yang belum kita kerjakan. Oleh kerena itu kita diperintahkan untuk selalu istighfar (meminta ampunan) dan segera kembali kepada Alloh tatkala semangat kita mulai luntur. Renungkanlah firman Alloh yang artinya : “Maka istiqomahlah (tetaplah pada jalan yang lurus) menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya”. (QS.Fushshilat [41] : 6). (Lihat Jami’u al Ulum wa al Hikam karya Ibnu Rojab Al Hanbali 1:510). Serta perhatikan sabda Rosululloh yang artinya : “Bertakwalah kepada Alloh dimanapun engkau berada, dan ikutilah perbuatan jelek itu dengan kebaikan karena ia bisa menghapusnya”. (HR.Ahmad 5/153, Tirmidzi :1987 dihasankan oleh Albani dalam Shohih at Targhib : 3160). Wallahul Musta’an
Abi Naufal
(17-1-2011)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Majelis Ulama Indonesia

Dunia Islam

Informasi Kesehatan dan Tips Kesehatan

Total Tayangan Laman